
LAX AIRPORT
Pukul 08.00 pagi, Jeno dan Geo sudah tiba di bandara. Keduanya telah siap untuk terbang menuju Jerman.
Selama perjalanan menuju bandara, Kiran dan Valerie sama sekali tidak melepaskan pelukan mereka sedikit pun pada sang kaka.
Kiran yang masih merindukan Geo, dan Valerie yang tidak ingin di tinggal oleh Jeno. Bahkan hingga sampai bandara pun pelukan mereka tidak berkurang, justru malah semakin erat.
"Kiran, kaka harus berangkat" ucap Geo lembut.
Kiran menggeleng brutal dengan wajah cemberut. Cengkramannya pada jaket yang Geo kenakan tidak berkurang sedikit pun.
"Gak mau. Kak Geo jahat sama Kiran" tolaknya.
"Kaka janji akan pulang saat liburan nanti. Kaka tidak bisa berlama-lama, sayang" rayu Geo.
"Gak! Pokoknya gak!"
"Kiran..."
"NOOOOO!!!" Kiran memberontak saat tubuhnya di tarik paksa oleh sang daddy. Gadis kecil itu menangis keras, sambil berusaha melepaskan tubuhnya.
"Aaaaaaa DADDDYYYYYY! HUAAAAA HIKSS"
"Pesawat ka Geo akan berangkat, sayang" ucap Galih menenangkan sang putri.
"No no no. Gak boleh gak boleh! Aaaaaa gak mauuuuu!!"
Geo meraih koper miliknya, setelah berpamitan pada keluarga dan saudara kembarnya, remaja 14 tahun itu berjalan cepat menuju pintu keberangkatan. Jeno yang masih mengobrol dengan Erick di sadarkan oleh Jovan bahwa Geo sudah berjalan lebih dulu.
"Aku pergi dulu, ya? Jangan nakal oke" pamitnya. Erick mengangguk lemah. "Hati-hati"
"Aku pamit semuanya"
"Hati-hati nak"
"Hati-hati ka Jenoooo"
"Belajar yang rajin dan jangan nakal kalian berdua"
Setelah meraih koper miliknya, Jeno bergegas berlari mengejar Geo yang sudah berdiri di pintu keberangkatan. Setelah menyerahkan tiket mereka pada bagian pemeriksaan, keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam pesawat.
Seharusnya Jeno bisa saja menggunakan pesawat pribadi milik sang ayah, tapi anak itu menolak dengan keras. Tidak asik katanya jika hanya berdua dengan Geo di dalam pesawat.
Padahal sebenarnya hanya alibi agar sang ayah tidak mengantarnya sampai Jerman.
"Ayo kita pulang" ajak Justin pada yang lain.
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Kiran masih menangis di gendongan sang daddy, gadis kecil itu sudah tidak memberontak seperti sebelumnya.
Erick berjalan dengan lemas, kepalanya terus tertunduk ke bawah. Bahkan selama perjalanan pulang, tidak ada satu pun suara yang keluar dari bibirnya.
Begitu sampai di rumah, Erick langsung masuk ke dalam kamar miliknya dan mengurung diri di sana. Ana dan Daniel tidak bisa melakukan apa pun selain menghibur dan memberi waktu putra mereka untuk terbiasa dengan keadaan.
**
Mansion Aldre.
"Jeno dan Geo sudah berangkat" ucap Aldre memberitahu Ara informasi yang di kirimkan sang kaka.
"Semoga mereka selamat sampai tujuan" balas Ara. "Amien"
"Kiran pasti menangis keras. Anak itu selalu merindukan Geo, tapi bocah itu tidak pernah mau pulang" tiba-tiba Aldre teringat keponakan kecilnya yang sangat merindukan kakaknya.
Kiran selalu bertanya kapan Geo akan pulang, dan kedua orang tuanya hanya bisa mengatakan bahwa sang kaka akan pulang saat sekolahnya sudah selesai.
"Mau bagaimana lagi? Kamu tau sesibuk apa siswa Carteusy" sahut Ara.
"Iya, kamu benar"
"Kadang aku merasa ada sesuatu yang Geo hindari" Ucap Aldre yang merasa aneh dengan sikap keponakannya itu.
Kening Ara mengkerut bingung. "Sesuatu?"
"Hmm. Entahlah, aku tidak ingin pusing memikirkannya"
'Apa karena Jeven?' pikir Ara dalam hati.
"Lapar hehehe"
"Hiisss. Mangkannya kalau makan tuh yang banyak"
"Ya mana tau sih"
"Yaudah. Mau di bikinin apa?"
"Spaghetti carbonara ya"
"Tunggu disini dan jangan ganggu anak-anak lagi tidur"
"Siap bos"
Ara berjalan ke luar kamar menuju dapur. Padahal keduanya baru selesai sarapan 20 menit lalu, tapi sekarang Aldre justru sudah merasa lapar lagi. Kebiasaan lelaki itu ketika makan terlalu sedikit, jadi membuatnya mudah merasa lapar kembali.
**
Mansion Scander
"Kapan Jovan akan memulai pelatihannya, Bee?" tanya Justin pada sang istri.
"Nanti. Setelah ka Leo kembali dari tugasnya" jawab Isabella.
"Ka Leo yang melatih?"
"Mm. Bersama papah"
"Kenapa bukan kamu?" tanya Justin heran.
"Kau ingin anak mu mati?!" seru Isabella sarkas.
"Aahh, benar juga. Aku ke ruang kerja dulu kalau begitu"
"Mm"
Isabella memijat pelipisnya yang terasa pening. Hidupnya tidak juga bisa terbebas dari segala yang berurusan dengan dunia gelap. Dan sejak memutuskan untuk me jadi salah satu dari mereka, Isabella tau resiko apa yang dia terima.
"Tidak semudah itu ternyata" keluhnya.
"Harusnya kau tidak tertarik, Jovan. Bunda tau suatu saat kau akan melawan ayah mu" gumam Isabella.
Isabella bukan tidak tau bagaimana perangai putra bungsunya itu. Melihat Jovan, mengingatkannya pada dirinya yang dulu. Pembangkang dan sulit di atur. Isabella akan melakukan apa pun yang di inginkannya tanpa perduli orang lain. Sama halnya dengan Jovan saat ini.
Dan dirinya sangat menyesali kenapa Jovan harus menuruni sifat bar-barnya yang bikin sakit kepala.
"Harusnya kau dulu tidak segila itu, Isabella Courtland" umpatnya pada dirinya sendiri.
di balik tembok.
"kenapa bunda berbicara sendiri?" tanya Jovan heran.
"dia sedang mengumpati mu bodoh" sahut Jeven tajam.
"memangnya salah ku apa?" Jovan kembali bertanya dengan raut polosnya.
"kau dan tingkah gila mu. membuat bunda sakit kepala"
"memangnya kau tidak?"
"aku masih waras, sialan!"
"kenapa jadi kalian yang bertengkar?!" timpal Jesslyn yang berada di tengah-tengah keduanya.
"salahkan abang mu yang paling waras ini"
"berisik!"
****
T b c?
Bye!