
Bangun tengah malam, menahan kantuk hingga pagi kini sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Aldre dan Ara.
Pasangan kekasih yang baru menjadi orang tua itu harus rela mengurangi waktu istirhat mereka demi kedua buah hati mereka. Aldre dan tidak sempat mengikuti les cara merawat bayi karena hukuman yang harus Aldre jalani. Mereka hanya mengikuti naluri mereka sebagai orang tua, dan melakukan apa yang diajarkan oleh saudara mereka yang sudah lebih paham tentang hal-hal seperti ini.
"Kenapa kau nakal sekali, boy? Kau membuat mommymu melewati tidur siangnya dan sekarang kau membuat daddy begadang. Apa kau ini vampire hm?"
Aldre menatap gemas putranya yang hanya diam sambil memandangnya. Bayi mungil itu sesekali tertawa menanggapi ocehan daddynya yang sama sekali tidak dirinya mengerti.
"Daddy mengantuk boy, dan daddy harus bekerja besok" ucap Aldre lagi. Alaner merengek, bibirnya mencebik tanda bayi mungil itu akan menangis sebentar lagi.
Aldre menepuk-nepuk pantat Alaner, menggoyangkan kecil badannya kekanan, dan kekiri untuk membuat bayi mungil itu tenang.
Alaner kembali tenang beberapa menit kemudian. "Alaner tidak ingin daddy tinggal ya? Daddy tidak boleh bekerja hm?"
"Eeuunng"
Aldre terkekeh pelan, bayi mungil ini mengerti apa yang dikatakan dirinya ternyata. "Ohhh anak daddy yang tampan. Maafkan daddy tidak bisa menemanimu dan saudaramu ketika kalian didalam perut mommy ya? Tapi sekarang daddy akan disini dan tidak akan pernah meninggalkan kalian"
Cupp..
"Daddy menyayangi kalian bertiga. Tumbuhlah jadi anak yang hebat boy, jika daddy tidak ada kamu yang harus menjaga mommy dan saudaramu. Oke?"
"Eeuunngg"
"Oohhh pintarnya anak daddy"
Tanpa Aldre sadari diatas ranjang, Ara yang terbangun mendengar, dan melihat semua yang calon suaminya itu lakukan. Senyum haru sekaligus bahagia Ara terbit, hatinya lega karena semua permasalahan mereka akhirnya usai, meski Ara tau semua ini bukanlah akhir.
"Kamu akan menjadi ayah yang hebat Al" ucap Ara dalam hati.
Aldre berbalik, berniat meletakkan kembali Alaner didalam bkx bayinya karena bayi tampan itu sudah kembali tertidur.
"Sayanggg" panggilnya terkejut melihat calon istrinya terbangun. "Aku mengganggu tidurmu ya?" Tanya Aldre tak enak.
Ara menggeleng. "Tidak ko, Al. Aku malah kaget ngeliat kamu belum tidur"
"Aku baru mau tidur, tapi Alaner menangis. Jadi menggendongnya sejak dua jam yang lalu"
"Kenapa gak bangunin aku?"
"Aku gak mau ganggu kamu. Kamu pasti capek ngurus mereka seharian" Aldre melatakkan putranya kembali ke dalam box bayi, bersebelahan dengan saudara kembarnya, Aldara.
"Tapi kamu juga capek abis kerja, Al" balas Ara.
"Tidak apa-apa sayang, lagian aku jarang gendong mereka"
Aldre nerangkak naik keatas ranjang, memeluk Ara, dan mengajak Ara untuk kembali berbaring. "Tidurlah. Alaner dan Aldra sudah kembali tidur"
Ara tidak membantah, kemudian merengsek masuk kedalam pelukan hangat Aldre, wajahnya berada tepat didepan dada bidang lelaki itu.
"Selamat malam, Al"
"Selamat malam, sayang"
Pagi harinya Ara sudah kerepotan karena sang putra yang menangis keras. Aldre sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali bahkan sebelum dirinya terbangun.
Ara tidak mengerti ada apa dengan putranya. Alaner selalu menangis sekeras ini saat pagi hari, anak itu hanya akan tenang jika sudah mendengar suara sang daddy.
"Ada apa denganmu, nak? Kenapa selalu menangis seperti ini setiap pagi" keluh Ara.
Sudah berbagai cara dirinya lakukan untuk menenangkan putranya itu. Tapi Alaner tetap tidak mau berhenti, beruntung Aldara tidak serewel saudaranya.
"Ada apa dengan Alaner?" Tanya Ceyora yang baru saja masuk kedalam kamar Ara.
Ara menggeleng sebagai jawaban, raut cemas terpatri jelas diwajahnya.
"Aldre?"
"Sudah berangkat kerja"
Ceyora tersenyum maklum. "Dia mau sama daddynya. Coba telpon Aldre, Alaner pasti tenang setelahnya" ucap Ceyora.
Ara mengangguk, kemudian meraih ponselnya diatas kasur. Mencari nomer Aldre dengan cepat.
"Halo"
Diam. Alaner langsung diam begitu mendengar suara daddynya. Ara tersentak seketika, ia baru menyadarinya.
"Ra?" Panggil Aldre diseberang sana.
"Maaf Al, aku ganggu kamu ya? Alaner nangis terus sejak tadi"
"Hahaha, tidak sayang. Mangkannya aku berangkat pagi-pagi, Alaner tidak akan mau aku tinggal jika aku menunggu kalian bangun"
"Aaahhh aku udah khawatir takut dia pingsan"
"Maaf ya sayang"
"Hm. Telpon aku lagi jika dia kembali menangis ya"
"Iya Al. Selamat bekerja"
"Terima kasih sayan, I love you"
"I love you too"
Ara menutup panggilannya, mendongak menatap kaka iparnya dengan cengiran lebar. Ceyora mendengus geli.
"Ka Ceyora kok bisa tau sih?" Tanya Ara. Matanya mengiku langkah Ceyora yang mendekat pada putrinya.
"Kamu lupa? Jovan juga seperti itu dulu, bahkan sampai demam kalau ka Justin lagi perjalanan bisnis"
Ara baru teringat tentang keponakannya itu yang saat bayi sama persis dengan Alaner sekarang. "Aku baru ingat"
"Kalau anak rewel jangan dihadapi dengan panik, harus tenang supaya gak ada hal negatif yang masuk ke pikiran kita. Kalau kamunya gak tenang, gimana mau bikin anak kita tenang" ucap Ceyora.
Wanita cantik itu menggendong keponakan kecilnya yang terlelap, berjalan menuju pintu balkon, dan membukanya lebar-lebar. Membiarkan cahaya sang surya masuk dengan bebasnya kedalam kamar Ara.
Ceyora duduk dislah satu kursi yang berada di balkon dengan Aldara digendongannya. Matahari pagi sangat bagus untuk bayi.
Ara bangkit dari duduknya dengan gerakan pelan, melangkah hati-hati ke arah kaka iparnya. Ceyora tertawa kecil melihat cara Ara berjalan. Seperti mumi menurutnya.
"Jalanmu tidak perlu sekaku itu, rileks" ujar Ceyora.
Dengan reflek, Ara melemaskan badannya yang kaku. Dirinya hanya tidak mau luka operasinya terbuka.
"Berala lama luka operasi Caesar akan sembuh ka?" Tanya Ara begitu dirinya duduk dihadapan Ceyora.
"40 hari" jawab Ceyora.
"Lama banget" ucap Ara dengan bibir mengerucut.
"Namanya juga luka operasi, mana ada yang cepet" balas Ceyora ketus.
"Kan kan balik lagi kan resenya"
"Kekekeke"
"Ouh..Kalian lagi berjemur ternyata" Ara tersenyum sumringah melihat ibu mertuanya masuk ke dalam kamarnya.
"Baru aja duduk. Ibu udah dari tadi disini?" Tanya Ara.
"Tidak, ibu baru saja datang. Ouh, tadi pelayan bilang Alaner menangis sangat keras, kenapa?"
"Biasa bi, gak mau ditinggal daddynya" sahut Ceyora.
"Ouuuhhh anak daddy" Riyani mencubit gemas hidung mancung cucunya itu. "Apa Aldara juga rewel?"
"Hanya sebentar. Sepertinya terkejut karena Alaner yang menangjs keras" jawab Ara.
"Kalau besok-besok Alaner seperti itu lagi, kamu rekamin aja suara Aldre terus puter begitu dia bangun. Jadi Alaner tidak akan menangis karena tidak mendengar suara daddynya"
Riyani menjatuhkan tubuhnya di sebelah Ara.
"Bayi umur segini belum bisa mengenali wajah orang, tapi dia sudah bisa mengenali suara. Aldre tidak pernah mengajak mereka berbicara saat masih didalam kandungan, tapi ketika mereka lahir Aldre selalu mengajak mereka berbicara. Apalagi kamu yang selalu memakai barang-barang Aldre selama hamil, bahkan sampai sabun mandi. Hal itu yang membuat mereka terbiasa dengan kehadiran Aldre disekitar mereka"
Pipi Ara bersemu, mengingat dirinya dulu selama sembilan bulan tidak pernah absen memakai barang-barang Aldre.
"Ara mengerti ibu. Ara akan meminta Aldre untuk merekm suaranya saat dia pulang kerja nanti"
"Begitu lebih baik"
Senyum menggoda Ceyora terbit melihat wajah memerah adik iparnya.
"Blush on mu terlalu tebal, Ra" ledek Ceyora.
"Diam ka!" Ara menatap kaka iparnya itu kesal.
"Eit eit malu nih yeee. Kira-kira Aldre tau gak ya?"
"Kakaaa!!" Jerit Ara cukup kencang.
"Ceyora." Tegur Riyani.
"Kekekeke"
.....
T b c?
Bye!