
Pukul 08.15 pm
Perkataan Isabella tadi siang menyadarkan Aldre akan satu hal. Ia lupa mengambil kembali kalung miliknya yang ia minta tolong ambilkan pada sang kepala keluarga Scander.
"Ka Justin pasti menyadari tentang kalung itu" gumama Aldre resah.
Berkali-kali menjilat bibirnya yang bahkan tidak kering sama sekali. Jari-jari lelaki itu tak henti mengetuk meja sejak 5 menit yang lalu.
"Ini akan menjadi masalah yang lebih buruk! Aku harus segera bicara dengan ayah"
Aldre meraih kunci mobilnya. Memutuskan kembali ke Mansion keluarganya karena saat ini ia tengah berada di apartmentnya.
Begitu tiba di Mansion Skholvies, Aldre langsung melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sang ayah. Biasanya pria paruh baya itu tengah membaca buku dijam segini.
"Ayah" panggil Aldre.
Rayyan menoleh kearah pintu, kemudian kembali fokus pada buku ditangannya. "Hai son, ayah pikir kau tidak akan pulang" sapanya.
"Ya tadinya. Apa ayah sibuk?"
"Tidak juga, ada apa?"
"Aldre ingin jujur segalanya pada ayah"
Buku tebal dengan sampul cokelat itu tertutup. Kembali bertengger manis disinggasananya.
"Berapa banyak?"
"Hah?"
"Yang ingin kau katakan" Rayyan menatap lekat putra bungsunya.
Aldre menundukkan kepalanya, menghilangkan rasa gugup yang menyerangnya tiba-tiba.
"Ayah.... Ingat Tcruel'd? "
"Tcruel'd?" Rayyan tak percaya. Mulutnya kaku, tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
.
Aldre tak banyak berharap setelah penjelasannya semalam pada sang ayah. Ia memaklumi jika ayahnya akan kecewa dan marah. Tapi sikap pria itu pagi ini cukup membuatnya terkejut. Sang ayah bahkan tidak repot membangunkannya, dan membantu sang ibu membuatkan sarapan. Hal yang tidak pernah pria itu lakukan sebelumnya, kecuali ketika ketiga putranya masih bayi.
Tapi setelah beberapa saat Aldre mengerti, sang ayah mengapresiasi kejujurannya. Kali pertama bagi Aldre bicara terus terang pada ayahnya tentang hal yang begitu penting, biasanya dia akan menyimpannya untuk dirinya sendiri, dan membiarkan orang lain yang membongkarnya.
Setelah sarapan yang sedikit berbeda, kedua ayah, dan anak itu kini bersantai dengan segelas teh hangat dihadapan mereka.
"Aldre pikir ayah akan kecewa dan marah" ucap Aldre memulai pembicaraan.
"Ayah marah, dan ayah kecewa. Tapi rasanya tidak sebesar itu karena kamu mau jujur pada ayah" jawaban yang keluar dari mulut Rayyan begitu tenang.
Aldre tersenyum, menghembuskan nafas lega. "Apa yang akan selanjutnya kau lakukan?" Tanya Rayyan serius.
"Aldre ingin mengakhiri semuanya ayah"
"Kenapa? Ara? Apa kau ingin melakukannya karena Ara?"
Skak! Rayyan menduga dengan tepat apa yang dipikirkan putra bungsunya itu.
"Ayah...."
"Revan tidak akan membiarkan anak-anaknya terlibat dengan dunia gelap lagi. Cukup Isabella yang terakhir. Kehadiran Cloe sudah cukup menjadi beban untuk Ara meski itu bukan lah hal yang terduga"
"Ka Devan knows about me" ucap Aldre pelan.
"Kau tau Devan sangat menbenci mereka, Al. Kalau bukan karena syarat itu yang diberikan pada Justin, ayah yakin Justin tidak akan pernah memusnahkan mereka hingga ke akar"
Penjelasan sang ayah membuat rongga kosong dalam pikiran Aldre menjadi penuh seketika. Hembusan nafas berat meluncur dengan santai dari celah bibir lelaki itu.
Rayyan menatap sang putra dengan seksama. Ia jelas mengerti bagaimana perasaan putranya itu. Menghadapi Isabella mungkin bisa dengan ketenangan, dan kejujuran. Wanita itu akan sedikit mudah diluluhkan.
Tapi jika menyangkut Devan Antonio Courtland.... Menuruti segala kemauan lelaki itu hanyalah satu-satunya cara untuk membuatnya berucap 'ya'.
"Devan bukan orang yang bisa diajak bernegosiasi. Cara apapun yang kau lakukan, tidak akan mampu membuatnya luluh. Satu-satunya cara hanya mengikuti segala perkataannya!"
Rayyan menatap kearah sosok dibalik punggung Aldre. Satu-satunya menantu lelaki yang ia miliki, Kevin Aldebaran. Lelaki itu pasti mendengarkan pembicaraan mereka sejak tadi.
"Aku tidak menguping. Lain kali jangan membicarakan apapun diruang kerja ayah jika kau tidak ingin siapapun mendengarnya! Jadi jangan salahkan aku" tutur Kevin santai.
Rayyan menggeleng menatap keduanya. Si bungsu, dan menantunya ini memang tidak pernah akur, bahkan dengan putranya, Galih.
Kevin mengeluarkan secarik kertas dari saku cekananya, meletakkannya diatas meja.
"Apa itu?" Tanya Aldre bingung. "Lihatlah, kau akan tau"
Aldre meraih kertas dengan gambar sebuah bangunan berwarna cokelat keemasan. Dibanding sebuah Mansion, bangunan ini lebih mirip dengan markas.
"Bangunan apa ini?"
"Coba ayah liat" Rayyan mengambil kertas ditangan Aldre, menatapnya dengan seksama. Ia merasa tidak asing dengan bangunan ini. "Bukankah ini....."
"Ya!" Jawab Kevin cepat.
Aldre menatap keduanya tidak mengerti. Apa yang mereka maksudkan?
"Ada apa dengan bangunan itu?"
"Kau sungguh tidak tau?"
"Apa maksud ka Kevin?" tanya Aldre tak mengerti.
"Tcruel'quarter!"
"A-apa?!" Aldre menatap tak percaya kaka iparnya. Dilihat dari manapun foto itu masih sangat baru, dan seingatnya markas besar itu tidak pernah bangkit sejak dihancurkan.
"Markas besar Tcruel'd!"
"Bukankah markas itu sudah lama hancur?" tanya Rayyan.
"Ka Justin datang kembali kesana kemarin. Ia membangkitkan bangunan besar itu dengan kalung milikmu Aldre. Kau harus tau bahwa kalung itu memiliki kekuatan Magic seperti Blood of Phoenix"
Kening Aldre berkerut. Selama lima tahun ia memegang kalung itu, benda itu tidak pernah menunjukan apapun padanya.
"Aku tidak pernah mendapati apapun dari kalung itu" ucap Aldre.
"Itu karna kau bukan pemilik sesungguhnya, Aldre" suara berat yang beberapa waktu lalu berbicara dengannya, pagi ini kembali Aldre dengar.
Dengan cepat Kevin bangkit, menunduk hormat pada mantan pemimpinnya di The Phoenix. Leo Maltavor.
"Ka Leo!" desis Aldre. Ia jengah berurusan dengan para pemimpin The Phoenix.
"Kau tampak bahagia melihatku, Aldre" balas Leo santai, dibelakang lelaki itu ada Harves Renova dengan wajah datarnya.
"Begitukah menurutmu?" Seru Aldre jengah. "Apa kalian ingin mengeksekusiku? Kenapa tidak kau bawa sahabatmu yang lain?!" Aldre berucap dengan tidak santai.
"Kau bisa memeluk ayahmu jika kau takut, Aldre. Tidak perlu sok kuat, kami mengerti keadaanmu!" Timpal Harves dengan mulut tajamnya.
Aldre menggeram kesal. Jujur saja ia sedikit tertekan dengan kehadiran kedua orang ini. Hanya sedikit!
"Kami datang kesini hanya untuk mengantar undangan paman. Ulang tahun sikembar Scander" Leo menyerahkan sebuah Amplop yang berisi tiga nama disana.
"Terimakasih Leo" Rayyan menerima amplop tersebut dengan senang hati.
"Kau bisa datang jika kau mau, Al. Jangan sungkan. Mansion Scander terbuka untukmu" goda Harves.
"Ka Bella benar. Kau dan Lucifer tidak bisa dibedakan" balas Aldre dengan senyum manisnya.
"Thanks"
"Kami pamit dulu paman" Leo dan Harves membungkuk, kemudian melaju pergi dari sana.
"Bajingan!" Umpat Aldre pelan.
.....
T B C?
BYE!