
Jeno tersenyum kecil setelah membaca pesan yang dikirimkan Jovan. Seperti melihat cerminan dirinya saat menatap foto Erick yang berpenampilan seperti nya.
"Ada-ada aja kelakuannya. Tapi kalo di liat-liat cocok juga" gumam Jeno.
Tanpa membalas pesan Jovan, Jeno kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, sudah jam 2 siang itu artinya ia melewatkan makan siangnya.
"Makan dulu deh" Jeno meraih tas sekolahnya yang ia letakkan di atas kursi tepat di sebelahnya. Lalu beranjak dari area danau yang terletak di samping bangunan kampus.
"Jen" panggil Noer dari kejauhan. Jeno menoleh, mendapati Noer berada tak jauh darinya.
Noer berlari ke arah Jeno, sejak tadi ia mencari teman-temannya tapi tak kunjung ketemu. Dirinya jadi seperti orang hilang yang jalan sendirian.
"Kok lo sendiri?" Tanya Jeno. "Geo mana?" Serunya lagi.
"Gak tau. Tadi sih bilangnya ke perpus , tapi pas gua susulin malah gak ada. Gua nyariin kalian dari tadi, berasa anak ilang celingak celinguk" jawab Noer.
"Ya elah, Er masih di lingkungan sekolah ini" balas Jeno kembali melanjutkan langkahnya.
"Hehehe, iya sih. Tapi gak enak aja jalan sendirian"
"Udah makan belom Lo? Gua mau ke kantin dulu, laper" Tanya Jeno lagi. Noer mengangguk. "Gua ikut aja dah, aus juga pengen yang seger" jawabnya.
Keduanya pun berjalan menuju kantin. Di tengah perjalanan, Jeno mencoba menelpon Geo dan sahabatnya itu sedang berada di luar untuk mencari bahan tugasnya. Meski kata Noer, tugas itu masih di kumpulkan dua minggu lagi. Tapi Geo tetap ingin mengerjakan sekarang agar dirinya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk bersantai.
Setibanya di kantin, Jeno mendapati dua sepupunya yang tengah mengobrol di salah satu meja. Keningnya mengkerut melihat dua cowok yang lebih tua darinya berada di area High School.
"Itu bukannya sepupu lo ya?" Tanya Noer sambil menunjuk ke arah Vion dan Edward. Jeno mengangguk kecil sebagai jawaban. Masih terheran kenapa dua manusia itu ada disini.
Tanpa menunggu waktu lama Jeno akhirnya memutuskan untuk menghampiri keduanya.
"Ka Vion" panggil Jeno begitu dirinya sudah tiba di dekat meja Vion dan Edward.
Vion yang merasa namanya di panggil menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Jeno berdiri di sampingnya dengan raut kebingungan.
"Hai" sapa Vion. "Ka Vion sama ka Edward ngapain di kantin High School?" Tanya Jeno heran.
"Pengen nyobain makanan kantin sini. Udah lama juga gak kesini" jawab Vion.
"Kalian kok cuma berdua yang lain mana?" Tanya Edward yang akhirnya membuka suara.
Jeno mengedikan bahunya satu kali. "Tidak tau. Kalau Geo lagi di luar" jawabnya.
"Sudah makan siang?"
Jeno menggeleng kecil. "Ini baru mau makan". Edward menarik satu kursi yang berada di meja sebelahnya, mengingat meja yang di tempatnya hanya memiliki tiga kursi. "Yaudah duduk sini aja kalau gitu"
Jeno meletakkan tasnya di salah satu kursi lalu berjalan ke arah stand makanan.
"Sudah ka. Tapi aku mau pesen minum dulu, mau cari yang seger" jawabnya.
"Oke" balas Vion.
Vion dan Edward memang sudah mengenal Noer bahkan sebelum Jeno masuk ke dalam Cartesy karena Geo yang memperkenalkannya saat pertama kali masuk ke area kampus.
Beberapa menit kemudian Jeno kembali bersamaan dengan Noer. Bocah itu memilih untuk mengambil makan siang khusus para siswa dari pada membeli yang lain.
"Tumben banget lu makan yang udah disediain" seru Noer. "Bosen" jawab Jeno singkat.
"Harsel kapan nyusul kesini ka?" tanya Noer pada Edward.
Noer cukup mengenal Harsel karena beberapa kali berbicara di telfon saat bocah itu menghubungi Geo. Jadi mereka cukup akrab meski belum pernah bertemu.
"Nanti bareng sama Jovan dan yang lain" jawab Edward. Noer menganggukkan kepalanya paham lali beralih pada Jeno yang makan dengan sangat tenang tanpa suara sedikitpun.
"Emangnya kalau keluarga kerajaan itu gak boleh ada suara ya kalau makan?" tanya Noer lagi.
Vion berdehem kecil. "Gak ada aturan sebenarnya, tapi bundanya Jeno punya aturan sendiri. Dan beliau terapin itu kesemua orang, hanya berlaku jika kita ada di satu meja makan yang sama dengannya" jawab Vion.
Noer menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Rasa penasarannya sudah terjawab sekarang.
"Kau punya pacar Noer?" pertanyaan random Edward membuat Noer menatapnya horor.
"Wajahmu biasa saja" seru Jeno yang telah menyelesaikan makan siangnya.
"Ya abis pertanyaannya tiba-tiba" ucap Noer. "Jawab saja" ujar Edward.
Noer menggeleng kecil. "Gak ada, ka Edward. Gak kepikiran. Lagian punya pacar ribet harus jajanin ini itu, apalagi kalau harus LDR. Entar menciptakan drama gak ada kabar alasan gak kuat menahan rindu. Ribet dah pokoknya" ucap Noer panjang lebar.
Jawaban Noer membuat Edward tertawa puas, sedangkan Vion hanya mendengus geli. Dan Jeno, mendelik tajam pada temannya itu karena tau cowok itu tengah menyindirnya.
"Emang pertanyaannya ka Edward itu tujuannya buat nyindir Jeno doang kan?!" Geram Jeno menahan kesal.
Noer bertepuk tangan merasa bangga pada dirinya yang menjawab pertanyaan Edward dengan tepat sasaran.
"Gak ada niat, tapi kalau merasa ya bagus. Masih punya otak berarti" balas Edward kelewat santai.
"Sialan!"
----
See you!