
Setelah perdebatan panjang Carissa akhirnya memutuskan untuk ikut bersama Rolen. Lebih tepatnya dirinya terpaksa ikut karena Rolen yang enggan melepaskannya dan cuaca yang mendadak menjadi mendung.
Di dalam range rover milik Rolen, Carissa hanya terdiam membisu tanpa suara. Harusnya Carissa sudah tiba di mansion keluarganya sekarang, tapi Rolen memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah basemant mall karena dirinya tidak mendapatkan jarak pandang yang bagus akibat hujan yang begitu lebat.
"Aku mau jelasin semuanya sama kamu, tapi jika kamu sudah siap mendengarkan aku" Rolen memecah keheningan di antara mereka.
"Apa lagi? Aku udah tau semuanya" Jawab Carissa ketus.
"Kamu salah paham, Sa. Semuanya gak seperti yang kamu pikirkan. Aku mohon dengerin penjelasan aku ya"
Rolen kembali meraih kedua tangan Carissa, menggenggamnya erat seolah tak ingin melepaskannya lagi. Matanya menatap Carissa sendu, berharap mantan kekasihnya ini mau mendengarkan sedikit penjelasannya.
"Aku gak mau denger apa pun, setidaknya untuk sekarang. Dan bisakah kamu antar aku pulang atau aku akan menaiki taksi"
Rolen mengalah, melepaskannya genggamannya pada Carissa kemudian kembali menyalakam mesin mobil dan membawanya melaju keluar dari basemant.
Hujan sudah tidak selebat sebelumnya begitu mobil yang Rolen kendarai keluar dari basemant.
Jam setengah enam, Carissa akhirnya tiba di depan mansion keluarganya. Hembusan nafas lega keluar dari bibir mungil gadis itu. Saat hendak membuka pintu mobil, gerakan Carissa terhenti karena Rolen yang lagi-lagi meraih tangannya.
"Langsung istirahat ya. Besok masih kerja kan?" Ucapnya lembut.
"Thanks" hanya jawaban singkat itu yang keluar dari bibir Carissa. Kemudian gadis itu segera beranjak keluar dari mobil sang mantan.
Carissa melangkah masuk ke dalam rumahnya tanpa menoleh lagi ke belakang, atau mungkin sekedar mengucapkan selamat malam pada mantan kekasihnya itu.
"Hhhh. Tidak apa Rolen, mungkin tidak hari ini" Rolen bergumam menyemangati dirinya sendiri.
"Kenapa baru sampai, putri kecil?" David menghadang jalan Carissa, membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Kaka ngagetin aku" balasnya.
"Mangkannya jangan melamun sambil jalan. Kenapa kamu baru pulang?"
"Hujan"
"Hujan?"
"Udah ah aku capek" Carissa berlalu meninggalkan sang kaka yang terheran dengan sikapnya.
"Lah? Kenapa itu bocah?"
Brak...
Bantingan keras pada pintu kamarnya Carissa lakukan. Tasnya ia lempar semabarangan sampai terjatuh cukup jauh. Gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, membenamkan wajahnya pada bantal, kemudian menangis sekeras mungkin.
Sakit dan rindu bergabung menjadi satu ketika mengingat kembali kenangannya bersama sang mantan kekasih. Padahal dirinya sudah berusaha sekuat mungkin untuk melupakan mantan kekasihnya itu, tapi lelaki itu justru kembali muncul di hadapannya, dan mengacaukan semua usahanya.
*
*
Rolen baru saja tiba di mansion milik Verrel. Selama di LA, lelaki itu memutuskan untuk tinggal bersama Fedrick di mansion milik Verrel. Hal itu sukses membuat tensi Maxime melonjak karena di rumahnya menambah satu perusuh.
"Kenapa wajah mu terlihat lesu begitu, brother?" Suara Verrel mengalihkan atensi Rolen dari segala lamunannya.
Bisa Rolen lihat di tengah anak tangga Verrel berdiri menatap ke arahnya. "Kau oke?" Tanya Verrel lagi.
Rolen mengangguk namun menggeleng sedetik setelahnya. "Kau bisa cerita pada ku, bro"
"Aku pusing" jawab Rolen lemas.
"Istirahatlah jika begitu. Tenangkan dulu dirimu"
"Mm. Aku ke kamar dulu ka Verrel"
*
Pintu kamar yang Rolen tempati terbuka menampilkan tubuh tinggi Fedrick. Lelaki itu melangkah masuk setelah kembali menutup pintu.
"Yoo bro" panggilnya.
Rolen berbalik. "Mm"
"Jika kau merasa lelah dari sekarang, berarti perasaan mu saat ini hanyalah rasa bersalah semata" ucap Fedrick seolah paham apa yang telah terjadi pada sepupunya.
"Entahlah. Aku hanya khawatir Carissa akan membenci ku" nada sedih bisa Fedrick tangkap dengan jelas dari nada suara Rolen.
"Beri dia waktu. Bagaimana pun kau adalah kekasihnya dan wanita itu adalah teman dekatnya. Sangat wajar jika Carissa bersikap seperti ini"
"Huh. Apa ka Verrel akan marah jika tau apa yang aku lakukan pada saudara iparnya?"
"Tentu. Tapi dia pasti akan mengerti posisi mu"
"Aku akan menghabisi wanita sialan itu jika dia masih mengejar ku sampai sini" Rolen berucap penuh amarah.
"Hahaha aku akan membantu mu, bro"
Di ruang tengah.
"Kenapa dengan sepupu mu itu?" Tanya Maxime dengan mulut yang sibuk mengunyah. Di pangkuannya terdapat semangkuk besar kentang goreng.
"Masalah cinta mungkin" jawab Verrel santai.
"Mungkin?"
"Entahlah. Tidak usah di pikirkan, dan lagi kamu yakin mau menghabiskan semua itu?" Verrel merasa luar biasa dengan nafsu makan sang istri ketika hamil yang melonjak naik.
"Tentu saja. Kenapa memangnya hah?!" Seru Maxime sewot. "Aku hanya bertanya, Moon. Jadi, bagaimana baby?"
"Baby apa?!"
"Itu" tunjuk Verrel pada perut Maxime yang sedikit membuncit.
"Mau ku hajar hah?!"
"Ya Tuhan semoga aku hanya ingin menjadi anak tunggal. Aku tidak mau mengasuh seorang adik apalagi jika kelakuannya mirip seperti daddy yang mesum"
Tepat di belakang Verrel, sang putra Virzan tengah mengepalkan kedua tangannya di depan dada dengan mata terpejam. Mengucapkan beberapa kata doa dari mulutnya dengan lantang.
"Heh!" tegur Verrel tak terima.
Byurrr....
Maxime sampai menyemburkan makanan dari mulutnya setelah mendengar doa putranya. Tawa bahagianya menyembur keluar.
"Bocah kurang ajar!" sembur Verrel. Virzan memeletkan lidahnya, menampilkan wajah mengejeknya yang sangat menyebalkan.
"Daddy potong uang jajan kamu"
"Bodo amat wleeee"
"HAHAHAAHAHAHA"
.....
T B C?
BYE!