
"Haishh membuat khawatir saja" dengus Farthur. Laxo menepuk pundak musuhnya itu pelan. "Kkkkk, like grandpa like grandson"
"Memang bajingan!"
"Berhenti mengumpatiku bodoh! Sekarang pikirkn cara menghancurkan bangunan ini" seru Revan mengintrupsi pembicaraan keduanya.
Farthur menggerutu kesal. "Mulutnu itu seperti tidak pernah disekolahi"
"Memang. Karena hanya otakku yang sekolah, mangkannya kau tidak punya otak" balas Revan santai.
"Anj--"
"Sudahlah paman, tidak ada habisnya jika kalian terus berdebat" Devan melerai.
"Jadi sekarang bagaimana?" Tanya Saka.
"Kita harus mencari sumber kekuatan The Cruel'd untuk bisa menghancurkannya" jawab Devan.
"Kalung ka Justin?"
"Kalung Justin dan bangunan ini hanyalah dua dari tiga bagian utama. Kita membutuhkan satu bagian lagi, yang cukup sulit untuk ditemukan"
"Apa itu?" Kevin dan yang lainnya menatap Devan seksama, menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Tongkat Napolen"
"Dimana kita bisa mencarinya?" Tanya Rion.
Devan menggeleng tanda dirinya tidak tau. "Terakhir kali benda itu meledak didepan mataku karena mencapai ambang batas kekuatan sihirnya" jelas Devan.
"Berarti kita harus menelusuri bangunan ini untuk mencarinya"
"Tidak perlu" Aldre yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
"Kenapa?"
Aldre menjulurkan tangannya tidak lama sebuah tongkat panjang berwarna hitam keemasan dengan bentuk bulat dibagian ujungnya yang dihiasi sebuah kristal berwarna biru dibagian tengahnya.
"Ini yang ka Devan maksud?" Ujar Aldre.
Mata Devan memicing menatap Aldre. "Darimana kau mendapatkannya?"
"Ruangan khusus milik Napolen. Benda ini muncul sendiri saat aku masuk. Aku menyembunyikannya dari Meso ditempat khusus, meski tau pria itu mencarinya keseluruh tempat"
Aldre menyerahkan tongkat milik Napolen pada Justin yang diterima Justin dengan ragu.
"Hanya kau yang bisa menghancurkan tempat ini ka Justin, karena kau pemilik kalung itu. Kami akan menunggumu diluar" ucap Aldre.
"Bagaimana jika aku gagal?" Tanya Justin ragu.
"Kau tidak akan gagal untuk menghancurkan semua tentang The Cruel'd, tapi..."
"Jovan akan melindungi ayah" Jovan menyela perkataan Aldre yang belum selesai lelaki itu ucapkan. Dirinya tidak mau kehilangan sang ayah lagi seperti tadi.
"Kau bisa sekarang Justin" ucap Revan. "Ayo kita keluar"
Mereka melangkah keluar, meninggalkan sepasang ayah dan anak itu didalam.
"Jovan.." Panggil Justin pelan.
"Ya ayah" netra Jovan yang masih berwarna merah terang memandang sendu sang ayah.
"Ayah bangga padamu" ucap Justin diringi senyum lebarnya.
"Itu karena Jovan memiliki ayah dan bunda yang hebat" balasnya tulus.
"Ayah tidak akan menghentikan dirimu lagi. Ayah tidak akan menekanmu untuk mengikuti apa yang ayah mau, kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan nak"
"Terimakasih ayah"
"Ayo kita akhiri ini"
Justin mulai melepaskan kalung dilehernya, menggantungkannya pada tongkat Napolen, menggenggamnya dengan erat dengan kedua tangannya. Dalam satu kali hentakan menancapkannya dilantai. Benda panjang itu mulai mengeluarkan sihirnya perlahan yang memenuhi seluruh markas besar itu.
Jovan mengangkat tongkat miliknya, mengarahkannya ketubuh sang ayah. Cahaya hijau yang keluar dari tongkatnya melindungi tubuh mereka. Bocah 14 tahun itu berdiri tak jauh dari ayahnya.
Dari luar gedung. Kevin dan yang lainnya menatap cemas begitu melihat cahaya keunguan dan biru gelap mengelilingi bangunan besar didepan mereka.
"Aku akan membunuh diriku sendiri jika mereka tidak keluar dengan selamat" gumam Kevin berjanji.
"Mereka akan baik-baik saja, Kevin" timpal Revan.
"Iya paman"
Kedua mata Justin terpejam erat, nafasnya mulai terputus, tubuhnya bergetar hebat menahan energi besar yang melingkupi dirinya. Satu sisi tubuhnya menerima energi dari tongkat ditangannya, satu sisi yang lain menerima energi dari putranya.
Justin tidak sanggup menahannya lebih lama tubuhnya hampir saja tumbang jika tidak ditahan oleh Jovan. Keringat mengucur deras dari dahinya.
"Ayah!"
Jovan kembali mengangkat tongkatnya, memutarnya beberapa kali sebelum melemparnya keatas. Tongkat biru dengan lambang Phoenix itu melambung tinggi keudara tepat diatas kepala Justin, kemudian berbalik mengarahkan lambang Phoenix sejajar dengan tongkat ditangan Justin.
Cahaya merah yang sama yang sebelumnya keluar saat melawan Meso kini kembali keluar dan mengarah tepat pada tongkat Napolen yang menegeluarkan cahaya ungu yang terlapisi cahaya biru gelap.
Jovan berlari kearah sang ayah, menopang tubuh besar Justin dari belakang. "Lepaskan ayah" serunya.
Justin melepaskan genggamannya, tubuhnya dan Jovan terpental kuat kebelakang menghantam tembok hinggu menembusnya sampai keluar.
BRAKK!!!
Suara debuman keras dari sebelah kiri mengalihkan atensi semua orang yang berada diluar. Laxo yang paling pertama berlari menuju sumber suara tersebut.
"Justin? Jovan?" Serunya kaget.
Tubuh Justin dan Jovan terhempas kuat ke tanah. Laxo bergegas menghampiri keduanya, meraih tubuh Justin yang berada diatas Jovan.
"Kalian tidak apa-apa?"
Justin mengangguk lemas. "Yah.." Dengan susah payah dan dibantu Laxo, Justin bangkit meski tubuhnya masih bergetar hebat.
BOOM!!!!
Ledakan besar terjadi setelahnya. Bangunan besar itu telah hancur, menjadi puing-puing tak bersisa. Begitupun kalung dan tongkat milik Napolen keduaanya terbelah menjadi beberapa bagian.
"Jovan... Ayo bangun" Kevin menarik lembut tubuh keponakannya untuk bangkit. "Terimakasih paman" ucao Jovan.
Dengan menahan sakit Jovan kembali melangkah menuju bagian dalam markas utama The Cruel'd yang telah hancur, tangannya terjulur mengambil kembali tongkatnya yang masih melayang diudara. Sekali lagi mengeluarkan api untuk membakar sisa sisa dari bangunan itu.
"Ayo kita pulang, misi kita sudah selesai" ucap Revan.
"Kami akan pulang bersama kalian" seru Farthur yang diangguji setuju oleh Laxo.
"Cih!" Cibir Revan.
"Ayolah sobat, sudah lama kita tidak bermain catur bersama" Farthur merangkul pundak Revan sok akrab.
Saka dan Rion ternganga. Dua orang ini datang jauh-jauh kesini hanya untuk bermain cantur? Sungguh impressive.
"Agak lain memang" gumam Saka.
"Kkkkk"
.....
Makin gak nyambung kayanya
T b c?
Bye!