
Selama perjalanan mengelilingi seluruh area kebun binatang tidak banyak kata yang keluar dari mulut Erick. Cowok itu hanya bersuara jika sang adik bertanya padanya, selebihnya Erick akan diam dan menutup rapat-rapat mulutnya.
Namun di tengah perjalanan, langkah mereka terhenti karena sebuah deringan yang berasal dari ponsel miliknya, dan itu cukup mengejutkan Erick.
Erick merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang ia masukkan ke sana. Keningnya mengkerut dalam saat mendapati nomor tak di kenal yang menelponnya, dan lagi ia tidak tah kode negara yang digunakan nomor tersebut.
"Ada apa?" Tanya Jovan melihat wajah kebingungan Erick.
"Ada yang nelpon, tapi gua gak kenal nomornya" Erick menunjukan layar ponselnya pada Jovan.
"Kode telpon Jerman" jawab Jovan. "Hah?" Erick menatap Jovan tak mengerti.
Jovan lantas menunjuk kembali ponsel Erick. "Yang nelpon lo. Itu dari Jerman" ucap Jovan.
Erick terdiam, pikirannya langsung tertuju pada kekasihnya. Apakah mungkin Jeno yang menghubunginya?
"Angkat aja, siapa tau penting" usul Jovan.
Erick pun menyetujui usul Jovan, tanpa mengatakan apapun lagi langsung menjawab panggilan tersebut.
"Halo? Siapa ini?" serunya. Tidak ada jawaban yang Erick terima, hanya keheningan dan suara tarikan nafas ringan yang bisa dirinya dengar.
"Halo? Kenapa tidak ada jawaban" ucap Erick lagi.
Erick bisa mendengar tarikan nafas panjang namun ringan dari seberang sana. Dan entah kenapa hal itu membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
"Hai, sayang" setelah menunggu beberapa detik Erick akhirnya mendapatkan jawaban. Suara seseorang yang selama beberapa bulan ini tak lagi dia dengar dan sangat dirinya rindukan.
"Jeno?!" Erick memekik kaget. Raut terkejut tercetak jelas di wajahnya.
Jeno, itu adalah suara milik Jeno.
"Iya, ini aku. Kamu apa kabar sayang?" Ucap Jeno.
"Jeno..." Ucap Erick dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca, wajahnya yang semula menampilkan ekspresi kaget perlahan berubah menjadi sedih.
Melihat bagaimana reaksi Erick, Jovan bisa menebak bahwa yang menelponnya adalah Jeno. Sepertinya bocah itu sudah tak bisa menahan rasa rindunya.
"Hai? Jangan nangis" ucap Jeno dengan suara lembut yang selalu cowok itu gunakan padanya.
"Kamu brengsek tau gak?!" kedua alis Erick menyatu, tangannya terkepal dengan sorot mata tajam. "Kenapa tiba-tiba ngilang gitu aja?! Kamu lupa kalau kamu udah janji sama aku!!" semburnya marah.
Perlahan air mata Erick tumpah, isakan kecil terdengar dari bibirnya. Dan jelas saja, Jeno pasti akan mendengar suara tangisnya.
Melihat Erick yang menangis, sungguh membuat Jovan tak tega. Ini baru beberapa bulan, bagaimana jika bertahun-tahun?
"Maaf. Maafin aku, sayang. Aku mohon jangan nangis" seru Jeno dengan suara yang berubah menjadi lemas.
Erick tau, sangat tau bahwa Jeno tidak bisa mendengar dan melihatnya menangis. Tapi mau bagaimana lagi jika Jeno sendiri lah yang membuatnya menangis.
"Kamu... Baik-baik aja kan?" Erick bertanya dengan suara yang sangat lirih setelah berhasil meredakan tangisnya.
"Ya, aku baik-baik aja. Kamu juga sehat kan? Apa kakek Rayyan kembali berulah?" tanya Jeno.
"Syukurlah. Lagi main ke zoo ya?" Tanya Jeno lagi yang membuat Erick terkejut. Bagaimana bisa kekasihnya itu tau dimana ia berada sekarang?
"Kok tau?" Ucap Erick heran. Bukannya menjawab Jeno justru malah tertawa kecil. "Aku punya banyak mata buat jagain kamu"
Mendengar jawaban Jeno, Erick dengan spontan menoleh pada remaja yang memiliki wajah hampir serupa kekasihnya itu. Sedangkan yang di tatap langsung melengoskan wajahnya ke arah lain, berpura-pura tidak tau apapun.
Bibir Erick mencebik, tidak adil sekali jika kekasihnya selalu tau keadaannya tapi dirinya justru tidak tau apapun.
"Curang sekali" seru Erick tak terima.
"Have fun ya, sayang" balas Jeno bersiap untuk memutus panggilannya.
"Loh? Kamu mau nutup telponnya?! Aku masih mau ngobrol sama kamu" seru Erick panik.
"Kita bicara lagi nanti ya. Aku harus segera tidur sebelum para penjaga datang dan memeriksa"
"Tapi Jen--" belum sempat Erick melanjutkan perkataannya, Jeno sudah lebih dulu memotongnya dan langsung memutuskan panggilan.
"I love you"
Erick menatap sedih layar ponselnya, padahal dirinya belum puas berbicara dengan sang kekasih tapi Jeno sudah lebih dulu memutuskan telponnya.
'Setidaknya aku sudah punya nomor Jeno' batinnya lega.
Jovan memandang tubuh Erick dari belakang dengan pandangan yang sulit di artikan. 'Bocah itu pasti menggunakan nomor sekali pakai'
"Kaka, ayo kita jalan lagi" suara Harena menyadarkan Erick dari lamunan sedihnya.
"E-eh iya. Ayo kita jalan lagi" Erick menghapus sisa air mata yang masih menempel di pipinya.
Ketiganya kembali melanjutkan acara berkeliling mereka meski Erick menjadi jauh lebih diam dari sebelumnya.
Skip time...
Pukul 4 sore, Jovan mengantar kembali Erick dan Harena dengan selamat ke rumah.
"Makasih ya, ka Jovan. Nanti kita jalan-jalan lagi ya, tapi sama Valerie" ucap Harena dengan senyum manisnya.
"Boleh, sweetie. Tapi kalo ka Jovan dan ka Erick libur ya" balas Jovan.
"Oke" Harena berlari masuk ke dalam rumah menemui kedua orang tuanya.
Jovan beralih menatap Erick yang terlihat lesu. "Rick..." Panggil Jovan lirih.
"Hati-hati ya, Jov" Erick tidak menghiraukan panggilan Jovan, memilih untuk masuk ke dalam rumah setelah berpamitan pada Jovan.
"Istirahat Rick" Jovan pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan Erick.
*****
See you!