
Kebahagiaan yang menyelimuti wanita cantik yang tengah hamil muda ini membucah. Senyum lebar yang terukir manis dan menawan terus terpatri diwajah cantiknya.
Kedua tangan putihnya bergerak lincah membuat beberapa masakan dengan porsi yang tidak terlalu banyak tapi cukup untuk satu orang.
Ada alasana dibalik senyuman indah yang terukir lebar itu. Pasalnya sebelum sarapan tadi sang tuan besar, Revano Courtland memberikan izin bagi wanita hamil itu untuk menjenguk sang kekasih, meski hanya diberi waktu 30 menit setidaknya itu cukup baginya untuk sedikit melepas rindu.
"Sudah selesai?" Suara lembut yang selalu Ara dengar setiap hari mengalun.
Ara menoleh kebelakang, mendapati sang mamah baru saja masuk kedapur. "Sudah mah. Tinggal menyiapkan beberapa cemilan untuk Aldre"
"Orang yang makan enak pas dipenjara cuma Aldre doang kayanya, sampe dimasakin sama pacarnya bahkan" seru Sofia setelah menatap beberapa masakan yang sudah tersaji diatas piring.
Ara menampilkan cengiran polosnya. "Hehehe"
"Henry sudah menunggu, Ra" Carissa datang memberitahu Ara. Gadis itu memutuskan untuk tinggal sampai sahabatnya itu melahirkan.
"Ouh sebentar, aku siapin cemilannya dulu" Ara membuka kulkas mengambil beberapa cemilan berbeda dari sana.
"Kenapa pake kotak makan?" Tanya Carissa bingung.
"Biar Aldre gak perlu buru-buru habisin, bisa dia simpan untuk nanti" jawab Ara.
Carissa menganggukkan kepalanya memgerti. "Kamu ikut kan Car?" Tanya Ara. Carissa menggeleng, dirinya mengantuk jadi ingin istirahat saja dikamar lagian Carissa tidak ingin mengganggu waktu Ara dan Aldre.
"Gak, aku ngantuk. Aku bisa jenguk Aldre lain kali"
"Yaudah kalau gitu"
Ara memasukkan kotak bekal berisi masakannya kedalam paper bag berukuran sedang, dan memasukkan cemilannya kedalam paper bag lain yang berukuran lebih kecil. Kemudian berjalan keluar dari dapur diikuti Sofia dan Carissa.
"Mau saya bantu, nonna?" Henry hendak mengambil paper bag ditangan Ara tapi wanita itu menolak.
"Gak usah Henry, ini tidak berat kok" ucap Ara.
"Baiklah. Mari nonna"
Henry menuntun Ara untuk mengikutinya, mereka tidak hanya berdua ada Daniel dibelakang yang menemani Ara.
"Pelan-pelan, Ra. Kalau kamu jatuh kamu gak akan jadi ketemu Aldrenya" tegur Daniel karena Ara yang menuruni tangga dengan setengah berlari.
"Heheh iya ka Daniel, maaf"
Mereka tiba didepan sel yang Aldre tempati. Ara bisa melihat kekasihnya yang terbaring diatas kasur tipis, dengan tubuh yang terbalut selimut tipis. Mata lelaki itu terpejam, tarikan nafasnya terlihat berat, bahkan selimut tipisnya menutupi hingga leher.
"Apa Aldre sakit?" Tanya Ara khawatir pada Henry.
Henry mengangguk kecil. "Tuan Aldre agak demam semalam, tapi kondisinya sudah jauh lebih baik saat ini. Saya langsung menghubungi dokter begitu melihat wajah pucatnya" jelasnya.
Henry membuka pintu sel membiarkan Ara masuk kedalam. Ara duduk diatas karpet tipis yang digelar dilantai, bahkan menjadi alas kasur milik Aldre.
Tangan Ara terulur memeriksa kening Aldre yang sedikit berkeringat. Tidak terlalu panas tapi cukup hangat. Ara mengelusnya pelan, mengelap keringat Aldre dengan tisu yang dibawanya.
Mata Aldre terbuka begitu merasakan sentuhan dikepalanya. "Ra..." Panggil Aldre dengan suara serak khas orang sakit.
Dengan terburu-buru Aldre bangkit dari posisi berbaringnya, namun tindakannya justru membuat kepalanya berdenyut.
"Akkhh.." Ringis Aldre.
"Pelan-pelan, Al" ucap Ara khawatir.
Aldre menatap sang kekasih lamat. "Kenapa kamu disini?" Tanyanya lirih. Pandangannya turun ke bawah, keperut sang kekasih yang mulai membesar.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Aldre lagi. Ara tersenyum manis. "Lebih baik setelah bertemu daddynya"
"Kamu belum jawab pertanyaaku sebelumnya"
"Papah ngasih ijin aku buat jenguk kamu, tapi gak boleh lama cuma 30 menit karena tempat ini gak bagus buat aku" jelas Ara.
"Itu cukup"
Aldre membungkukan tubuhnya mendekat kearah perut buncit Ara. Tangan besarnya mengelus lembut tempat dimana sang anak tumbuh, mengecupnya lembut lalu menempelkan kepalanya disana.
"Hai sayang.. Maafkan daddy yang baru bisa menyapamu sekarang, tolong jaga mommymu selama daddy tidak ada ya?" Aldre mengajak sang anak berbicara, meski tau bahwa anaknya belum tumbuh sempurna.
Ara dan Daniel terkekeh, sedangkan Henry hanya tersenyum kecil melihat pemandangan didepannya.
"Dasar bocah"
"Nyenyenye"
"Sudah sudah, sekarang kamu makan ya. Aku gak mau kamu sakit lagi"
Ara mulai mengeluarkan makanan yang dibawanya, menyajikannya dihadapan Aldre.
"Kenapa dikotak bekal?"
"Biar kamu bisa simpan untuk makan nanti, jadi gak perlu kamu habisin langsung. Aku juga bawain cemilan lain sekotak jus juga air mineral" Ara mengeluarkan semuanya satu persatu.
"Penjara macam apa ini" sahut Daniel sinis.
"Iri aja netizen" balas Aldre tak kalah sinis.
"Nyenyenye"
Aldre makan dengan tenang dan lahap. Berkali-kali tersedak saking semangatnya karena kali ini dirinya ditemani anak dan kekasihnya. Meski bayi itu masih didalem perut. Berkali-kali juga Ara menegor Aldre untuk makan dengan pelan tapi Aldre tidak mendengarnya.
"Segitu laparnya dirimu? Perasaan kau makan tetap dengan teratur meski didalam penjara" Daniel menatap adiknya itu heran. Aldre seperti orang yang tidak makan seminggu.
"Tentu saja karena ada nona Ara disini, tuan Daniel" sahut Henry.
"Ahhh... Kau benar Henry, kenapa aku tidak terpikirkan"
Daniel memasang senyum menggodanya membuat Ara tertunduk dengan pipi yang memerah dan Aldre yang menatap kesal kearahnya.
"Bssrwisjk"
"Telan dulu makananmu bocah"
"Nyenyenye"
Setelah menghabiskan waktu 30 menit Ara dan Daniel pamit untuk kembali, meski Ara enggan untuk meninggalkan kekasihnya tapi Aldre meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Aku masih mau sama kamu, Al" Ara berucap dengan sedih, matanya berkaca-kaca. Rasa rindunya belum sepenuhnya ia tumpahkan.
"Sayang, aku juga masih mau sama kamu tapi tempat ini tidak baik untuk kamu dan baby. Kita bertemu 7 bulan lagi ya" Aldre mengelus sayang puncak kepala Ara.
"Masih lama" rengek Ara.
"Sabar sayang. Jah kamu harus kembali sekarang"
Daniel menarik pelun tubuh Ara untuk bangkit. Mereka harus segera kembali keatas atau paman Revan yang menjemput mereka kesini.
"Ayo Ara, ini sudah lewat 30 menit" ucap Daniel mengingatkan.
Bibir Ara mengerucut kesal. "Ka Daniel jelek!"
"Ka Daniel jelek! Paling jelek pokoknya"
'Sabar gak boleh marah sama ibi hamil' Daniel menghembuskan nafasnya pelan. "Iya iya ka Daniel jelek, yuk balik yuk"
Keduanya melangkah keluar dari sel Aldre, sesekali Ara akan menoleh untuk melihat sang kekasih. Hatinya berat harus kembali berpisah dengan Aldre, tapi mau bagaimana lagi lelaki itu masih berada dalam masa hukuman.
'aku dan baby akan selalu nunggu kamu, Al' batin Ara sedih.
.....
T b c?
Bye!
Bumil cantik 😍❤️
Daddy Aldre 😘