
"Ka Vion dan ka Edward bukannya kuliah disini ya, Ro?" tanya Kanfa pada Hiro yang tengah sibuk melihat sekeliling.
Hiro menoleh cepat ke arah sahabatnya itu. Keningnya mengkerut dalam. "Lah iya, gua baru inget anjir"
"Bisa-bisanya dia lupa sama saudaranya sendiri"
Hiro hanya menampilkan cengiran tanpa dosanya. "Hehehe" cowok itu kemudian melirik Geo yang menampilkan ekspresi kusutnya. "Tenang yo, gak ada ka Vien disini"
"Tetep aja nyungsruk" keluh Geo.
Kanfa, Noer, dan Hiro kompak tertawa melihat reaksi Geo. Cowok itu benar-benar menghindari kedua sepupunya.
Jeno menolehkan kepalanya ke belakang, melihat para sahabatnya yang tampak ramai. Hanya beberapa detik setelahnya ia kembali menatap ke depan.
"Teman-teman mu terlihat bahagia, kenapa hanya kau yang murung?" tanya Prof. Ken "memikirkan kekasihmu?" tebaknya lagi.
Jeno terdiam, mulutnya terkunci rapat tidak bisa menjawab ataupun membalas pertanyaan Prof. Ken padanya. Dalam hati bertanya-tanya apakah pria paruh baya di samping nya ini juga seperti bundanya?
"Bunda mu juga seperti ini, tapi dia cepat melupakan rasa sedihnya. Banyak hal yang bisa membuat perhatiannya teralihkan dari ayah mu. The Ace salah satunya"
---
Setelah mendapatkan arahan dari Prof. Ken, Jeno dan yang lainnya memutuskan untuk pergi ke gallery milik Isabella yang berada di lantai atas gedung utama Cartesy University.
Ting
Lift terbuka di lantai 5, kelima pemuda itu keluar dari dalam lift.
Lantai 5 cukup sepi tidak banyak orang yang berlalu lalang di sana, hanya beberapa mahasiswa yang terlihat di lantai ini. Namun, ada beberapa ruangan disana. Salah satunya adalah ruang santai yang terletak paling ujung sebelah kiri dari lift dengan pintu berwarna biru laut, lalu di ujung yang lainnya ada sebuah pintu besar berwarna cokelat. Di balik pintu tersebut merupakan lantai perpustakaan paling atas. Dan gallery milik Isabella yang terletak di tengah-tengah lorong dengan pintu berwarna putih, hanya berjalan dua langkah ke kiri dari lift.
Jeno mengamati dengan cermat pintu berwarna putih itu. Jika dirinya tidak salah ada sebuah jaringan yang terpasang di pintu, artinya pintu itu memerlukan sebuah kode atau sandi untuk bisa membukanya.
Ceklek.
Kelima remaja itu saling pandang kemudian menatap kompak ke arah Hiro yang tengah memegang handle pintu. Pintunya tidak terkunci, hanya di tutup biasa tanpa pengamanan.
Kening Jeno mengkerut, lalu untuk apa jaringan yang terpasang di pintu?
"Masuk Jen" Geo mempersilahkan Jeno untuk masuk lebih dulu, karena bagaimana pun ruangan ini adalah milik bundanya.
Jeno melangkah kan kakinya masuk ke dalam diikuti Geo dan yang lainnya. Jeno menatap setiap sudut ruangan di bagian depan, lalu melangkah masuk lebih dalam namun baru sampai pintu cowok itu menghentikan langkahnya, tubuhnya terpaku setelah melihat isi di dalam ruangan tersebut.
Geo, Hiro, Kanfa, dan Noer menatap punggung Jeno bingung. Kenapa Jeno berhenti? Mereka yang berdiri di belakang Jeno jelas tidak tau apa yang cowok itu lihat, jadi memutuskan untuk maju dan melihat apa gerangan yang membuat Jeno berhenti.
"W-wah?"
Hiro, Kanfa, Geo, dan Noer pun memiliki reaksi yang tidak jauh berbeda dengan Jeno. Ekspresi terkejut yang tidak bisa di sembunyikan diiringi dengan rona merah yang muncul di kedua pipi mereka.
Ada banyak kanvas putih yang sudah terisi penuh oleh cat air dan berserakan di seluruh ruangan dari berbagai macam ukuran. Namun yang menjadi fokus mereka bukanlah hal itu, tapi apa yang tercetak di atas kanvas putih tersebut. Satu objek yang sama dengan segala pose tercetak apik di sana.
"A-ayah?" Jeno bergumam setelah beberapa saat terpaku dengan rasa terkejutnya.
Pasalnya seluruh kanvas putih tersebut hanya diisi oleh sosok sang ayah, tanpa ada objek lain yang terlihat.
"Wahhhhh. Aunty Isabella memang luar biasa" Kanfa berseru kagum.
"Amazing" timpal Hiro.
"......" Geo.
"Apa ini cukup membuatmu mengerti? Serusak apapun hubungan mereka, bunda mu sangat mencintai ayah mu" Vion melangkah masuk bersama Edward di sebelahnya.
Jeno menatap kaka sepupunya itu dengan pandangan yang sulit di artikan. Cowok yang lebih tua darinya ini sedikit banyak mengetahui apa yang terjadi pada orang tuanya.
Vion berjalan maju dan berdiri di sisi Jeno. Netra birunya tidak memandang ke arah adik sepupunya itu, tapi menatap satu persatu lukisan yang ada di sana.
"Jika kau membalik lukisan-lukisan ini, ada deretan angka dan kata yang menunjukan arti dari setiap lukisan tersebut" lanjut Vion lagi.
"Aku hanya penasaran" balas Jeno.
Satu sudut bibir Vion terangkat. "Lihatlah, kau akan mengerti apa yang mereka berdua rasakan selama ini"
"Untuk apa?"
"Kau tidak boleh egois hanya karena kebohongan yang mereka ciptakan. Sulit bagi mereka untuk menutup luka yang tidak kunjung sembuh ini, Jeno"
"Masalahnya tidak akan sebesar ini jika mereka jujur"
'Keras kepala' batin Vion.
"Kau mencintai Erick bukan?" tanya Edward. Jeno menolehkan kepalanya pada sahabat kaka sepupunya itu.
"Tentu saja, semua orang tau itu" jawab Jeno dengan tegas dan mantap.
"Kau yang paling dekat dengan paman mu, Verrel dan Maxime. Jika Paman Daniel membunuh mereka di depan mata mu lalu mengambil perusahaan milik mereka, bagaimana perasaan mu?"
Vion melotot tajam pada Edward. "Ed--" namun Edward mengangkat satu tangannya pada Vion dan meminta sahabatnya itu untuk diam.
"Apa maksud mu?" Jeno memandang tak suka ke arah Edward. Dirinya tidak senang dengan pertanyaan yang cowok itu ajukan padanya.
"Jawab saja pertanyaan ku" ucap Edward lagi.
Tubuh Geo penuh dengan keringat dingin, dirinya jelas tau yang di maksud oleh Edward. Sedangkan Hiro, Kanfa, dan Noer mereka sama sekali tidak mengerti dengan situasi yang tengah terjadi.
"Tentu saja aku tidak akan pernah memaafkan paman Daniel seumur hidupku meski aku mencintai Erick" Jeno berucap marah.
"Tapi Erick tidak pernah mengetahui apa yang orang tuanya lakukan, apa kau akan tetap membencinya?"
"Aku hanya membenci orang yang pantas mendapatkannya"
Senyum puas terpatri di wajah Edward. "Sekarang kau tau jawabannya" ucap Edward lalu melangkah pergi dari sana.
Vion memilih untuk menyusul sahabatnya, ia tidak siap melihat reaksi Jeno setelah ini.
Untuk kesekian kalinya Jeno kembali terdiam, tapi kali ini pandangannya kosong seperti raga tanpa jiwa.
Sudah sepuluh menit yang dilakukan Virzan hanya menatap ke arah ponselnya. Lebih tepatnya sejak Jeno mengirimkan pesan padanya.
"Alasan? Apa aku harus bertanya pada daddy?" Gumam Virzan ragu.
---
See you!