Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
85 | PERGIBAHAN ARA DAN CARISSA



Malam harinya


Rintik hujan yang tersisa seolah enggan untuk berhenti. Udara malam yang terbiasa dengan hawa dingin kini semakin dingin. Menjadi berkali lipat dari biasanya.


Dengan jaket hitam tebal, topi yang bertengger apik dikepalanya, masker yang menutupi sebagian wajahnya, sepasang sneakers hitam.


Aldre berjalan disepanjang terotoar tak jauh dari apartmentnya. Mobilnya ia parkirkan di basement gedung apartement.


Setelah makan malam tadi, lelaki tampan itu memutuskan untuk keluar mencari angin. Menghilangkan rasa suntuk dari segala macam masalah.


Kakinya berhenti melangkah tepat dihalte bus. Ada setikar 2-4 orang disana yang sepertinya sedang menunggu bus terakhir datang.


Tepat sekali! Tidak lama bus tiba, orang-orang itu mulai berhampiran masuk kedalam bus, meninggalkan Aldre sendiri disana.


"Rasa penasaran itu sudah hilang bukan? Jadi? Bagaimana langkahmu selanjutnya?" suara berat dari arah belakang menyapa.


Seingatnya sosok itu tidak ada saat ia datang tadi.


"Bagaimana langkahku itu bukan urusanmu" nada tajam yang keluar dari mulut Aldre menjadi sapaan balik yang diterima sosok dibelakangnya.


"Kau masuk dalam wilayahku, Aldre. Jelas aku harus tau apa yang akan kau lakukan"


"Kau cukup cerewet juga, ka Leo!" Aldre berbalik. Kedua netra cokelat gelapnya bertabrakan dengan netra Hazel milik Leo.


Leo menyeringai. Sudah ia duga bocah kecil ini pasti tidak akan puas hanya dengan melihat.


"Keluarlah selagi kau bisa! Devan tidak akan pernah membiarkan adiknya berada dalam dunia gelap, Aldre" peringatan Leo cukup membuat Aldre kesal mendengarnya.


"Ka Devan tidak akan bisa menghalangiku!" Balas Aldre tajam.


Leo tertawa keras. Moment yang cukup langka melihat lelaki itu tertawa selebar ini. Tapi sayangnya tawa itu bukanlah tawa bahagia, hanya tawa mengejek yang lelaki itu keluarkan.


"Kau tidak akan bisa menentangnya Aldre. Tidak ada yang bisa merubah keputusan Devan! Bahkan Godfather dan putrinya"


"He know.... Everything about you!" Ekspresi Leo berubah menjadi serius.


Leo bangkit hendak meninggalkan tempat itu. Tapi sebelum lelaki itu pergj, matanya menatap Aldre dengan seksama. "Kau harus tau bahwa... Devan benci 'mereka'!"


Peringatan Leo bukan tanpa alasan. Rasa penasaran bocah itu bisa menjadi bomerang baginya. Dan Leo tau, boomerang itu sudah terbang kearah sang putra bungsu Skholvie.


.


"Kau baru pulang, Al" Aldre mendongak, mendapati atensi Galih yang berdiri di lantai dua. Senyum Aldre terbit seketika.


"Kenapa kaka belum tidur?" Tanyanya heran. Bukan hal biasa kaka keduanya itu masih terjaga dijam seperti ini.


"Terbangun. Kaka ingin mengambil air didapur" Galih mengangkat sebelah tangannya yang memegang gelas.


"Oh, kalau begitu Aldre ke kamar dulu" pamitnya.


"Selamat malam"


"Selamat malam, ka Galih" Aldre melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Sesampainya didalam kamar, Aldre melepaskan jaket hitamnya, meletakkannya sembarang diatas sofa. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


Meengetikkan pesan pada sang kekasih. "Aku jemput kamu besok, kita ngedate ya sayang. Udah lama kita gak keluar jalan berdua"


Send


Pesan terkirim. Tanpa menunggu balasan dari sang kekasih, Aldre langsung mematikan ponselnya.


Berjalan masuk kekamar mandi untuk membasuh tubuhnya sebelum memulai ritual malamnya.


TIDUR!


.


.


Didalam kamar Ara


Ara yang tengah berbicara dengan Carissa di telpon terkejut ketika merasakan getaran diponselnya. Gadis itu memutar bola matanya sebal.


"Bentar Car. Kayanya ada pesan" ucap Ara. Gadis itu menarik ponselnya dari telinga, membuka pesan yang baru saja masuk.


"Apaan sih , gak jelas banget" gumamnya kecil.


Tanpa membalas, Ara kembali menempelkan ponselnya melanjutkan obrolannya yang tertunda.


"Siapa Ra?" tanya Carissa penasaran.


"Orang gila" jawab Ara asal.


"Orang gila?" Tanya Carissa heran.


"Udah ah, gak penting" keduanya terdiam.


"Tadi kita lagi ngomongin apa ya?"


"Tuhkan lupaaaaa" Ara merengek kecil.


Carissa tertawa, bisa-bisanya mereka lupa apa yang tadi mereka bicarakan. Inilah jeleknya sifat Ara dan Carissa, mereka mudah melupakan sesuatu.


"Ihhh, gara-gara ada chat nih. Pergibahan kita terjeda" seru Ara sebal.


"Hahahaha, aku malah bengong nungguin kamu" ucap Carissa masih dengan tawanya.


"Padahal lagi seruuuu, dasar Aldre jelek!" Gerutunya kesal.


"Ouhhh, pantes kamu bilang orang gila. Jadi yang ngirim pesan Aldre?"


"Iya. Abisnya rese, aku gak dikasih kabar dari kemarin" bibir Ara mengerucut.


"Cieeee kangen nih yeeee" Carissa tersenyum tengil. Meski Ara tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.


"Aaaahhhh Carissa mahhh"


"Hihihi lucu banget sih kalian. Aaaa mamiihhhh Carissa mau punya pacar jugaaaaa" Carissa menjerit kecil merasa iri dengan keharmonisan kedua sahabatnya.


"Lahhh, yang di Melbourne?" seingat Ara Carissa punya crush saat ia masih di Malbourne.


Jason yang memberitahunya. Lelaki itu yang selalu menjemputnya dibandara jika Jason mengunjungi sang adik.


"Yang di Melbourne apa?" Carissa merasa was-was. Bagaimana Ara bisa tau? Ini pasti ulah kakanya.


"Itu loh, yang suka jemput ka Jason dibandara. Ka Jason sendiri yang bilang" ucap Ara.


Tuh kan benar dugaannya, pasti kakanya yang jadi ember bocor. "Apaan, dia mah gak waras" elaknya.


"Aaahhh, masaaaa?" Goda Ara.


"Isssshhh, Araaaa" kini gantian, Carissa yang mengerucut kesal.


"Aku aduin Aldre seru kali ya?"


"Aduin aja, Aldre tau kok"


"Siapa bilang? Orang yang terakhir jenguk kamu aja Aldre nanya. Carissa punya mantan gak sih? Gitu nanyanya. Mukanya serius banget lagi waktu nanya itu"


Ara menahan tawanya, ia yakin Carissa pasti panik. Aldre cukup posesif pada sahabatnya itu. Dulu saja, setiap lelaki yang mau mendekati Carissa, harus siap adu mekanik dulu sama si bungsu Skholvies. Sampai Ara sempet ngira kalau Aldre suka sama Carissa.


"Aaaahhh Araaaa boong" Carissa panik seketika. Kalau Aldre tau dari awal ia tidak akan khawatir, tapi kalau lelaki itu belum tau? Aduhhh bisa abis dirinya.


"Dih serius"


"Araaaa cantikkkkk. Jangan ya.... Please. Nanti kalau dicari sama Aldre gimana? Kamu tau kan dia kaya gimana?" Rayu Carissa.


Ara terkikik kecil. "Panikkkkk"


"Araaaa maaahhhh. Aku nangis nih"


"Iya iya gak aku aduin ko. Tapi gak janji ya, kan tau aku suka keceplosan"


"Aaaaahhhhh Araaaaaa"


Ara tak lagi bisa menahan tawanya. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di atas bantal. Agar tawanya tidak terdengar sampai keluar. Bisa kena ultimatum yang keseratus dari tuan besar Courtland kalau sampai ketauan lagi ia belum tidur. Ini sudah hampi tengah malam soalnya, hehehehe.


"Iya iya. Panik banget"


"Ya, abis kamunya" gerutu Carissa kesal.


"Udah ah. Udah malem, ayo kita tidur" ucap Ara.


Carissa mengangguk. " selamat malam pacarnya ALDRE JELEK"


"iiisssshhh Carisa"


"Hihihihi"


"Selamat malam bestieku yang pacaran sembunyi-sembunyi"


"Araaaaa"


"Kkkkkkk"


.....


"Barangkali kamu yang tidak belajar, dan enggan mengakui bahwa sikapmu memang salah." - Boy Chandra


.....


T B C?


BYE!