
Galih menuruni tangga dengan terburu-buru begitu tau sang suami telah tiba. Lelaki manis namun tampan itu bahkan melupakan jika mansion besar milik sahabatnya memiliki tiga lift yang berjejer rapih.
Suara derap langkah dari sepasang sepatu boot hitam menggema disepanjang lantai satu mansion Scnder. Senyum sumringah Galih terbit mendapati tubuh sang suami yang baik-baik saja tanpa luka sedikitpun.
Sejak dirinya mengetahui masalah ini, Galih tidak pernah tenang memikirkan suaminya yang terus mondar-mandir mengurus bisnisnya. Rasanya ia ingin merante sang suami didalam kamar agar tidak pergi kemanapun, tapi sayangnya suaminya adalah seoarang mafia yang jelas menghancurkan sebuah rante adalah hal kecil baginya.
"Hubby!!" Seru Galih kencang. Langkahnya semakin cepat menuruni tangga.
"Hati-hati, love" Kevin menatap cemas sang istri yang berlari. Takut jika tiba-tiba istrinya akan tergelincir dari sana.
Hap..
Kevin menangkap tepat tubuh yang lebih mungil darinya. "What's wrong with you, Love? Kau bisa tergelincir jika berlari seperti tadi" tegur Kevin.
"I'm sorry. I'm just worried about you" jawab Galih penuh rasa bersalah.
"It's okay. Tapi tidak lagi untuk lain kali, paham love?" Galih mengangguk semangat. Kecupan kecil Kevin bubuhkan pada kening istrinya.
"Dimana anak-anak?"
"Ruang bermain. Ada Jeven, jadi Keano betah disana"
"I'm not surprised" balas Kevin jengah.
Galih terkikik, suaminya itu agak sensitif jika menyangkut sang putra, apalagi jika putranya itu sedang bersama Jeven, putra sulung Isabella.
Bukan dirinya dan sang suami tak menyadari bahwa remaja yang akan menginjak usia 17 tahun beberapa bulan lagi itu menyukai putranya. Jeven akan sama persis seperti sang ayah dan adiknya, Jovan. Mengikuti kemanapun putranya pergi.
Bahkan terkadang, Jeven akan repot-repot menjemput putranya dari sekolah, padahal bocah itu tengah sibuk dengan tugas-tugasnya.
"Aku mau menemui anak-anak dulu" ucap Kevin. "Aku sudah siapin pakaian kamu di kamar mandi, nanti kalau udah ketemu anak-anak langsung mandi ya"
"Sure"
Galih melangkah kearah dapur, sedangkan Kevin melangkah menaiki tangga.
"Ka Kevin udah pulang, Ge?" Tanya Isabella yang sedang memotong sayuran.
"Mm. Baru sampai. Ngomong-ngomong, mau masak apa malam ini?" Galih menatap beberapa bahan masakan yang berjejer diatas meja.
"Masak apa aja yang kamu mau, Ge. Aku cuma buat sayur telor untuk Valerie dan Kiran, tadi mereka minta itu. Jeven sama yang lain bingung mau makan apa"
"Emang kebiasaan lu ye? Kalau ada orang lain ogah masak!" Omel Galih. Ia tau soulmatenya itu memang malas memasak jika ada orang lain dirumahnya. Wanita itu lebih senang merepotkan tamunya.
"Hehehe" yang diomelin hanya memasang cengiran tanpa dosanya.
Galih meraih pisau mulai memotong beberaa bahan. Ia akan membuat makan malam simple. Keano tidak banyak makan saat malam, kedua anaknya lebih senang ngemil. Sedangkan sang suami, Kevin hampir jarang makan malam.
Jadi ia hanya akan memasak untuk si kembar, Jeven, dan sang tuan rumah, juga dirinya sendiri.
Isabella menatap ngeri lelaki disebelahnya yang memotong daging dengan serampangan. Wanita itu mengambil alih daging lain yang belum tersentuh.
Galih melirik sinis sahabatnya. "Aku bantuin, Ge. Aku bantuin ya" ucap Isabella sedikit takut.
"Serem banget" gumamnya kecil.
Tak tak tak!!
"Hehehe"
Diam-diam Galih tersenyum penuh kemenangan, kebiasaan wanita itu tidak berlaku untuknya. Enak saja dia direpotkan tapi tidak dibayar. Lagian yang memintanya tinggal disini kan soulmatenya itu, dan suaminya yang menyebalkan, bukan karena kemauannya sendiri.
"Kau bisa menghancurkan meja dapurku jika memotong daging seperti itu, Galih. Omong-omong, meja itu cukup mahal jika kau ingin tau" seruan Justin terdengar dari ambang pintu.
TAAKK!!
"BOOOO!!!" Isabella menatap suaminya kesal. Memberi kode untuk pergi dari sana, karena demi apapun seorang Galih Aldebaran sangat menyeramkan ketika sedang marah.
Justin mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Ok ok aku pergi, aku pergi" kemudian tubuh bongsor lelaki 40 tahun itu menghilang dari balik tembok.
Makan malam tiba. Semua orang sudah berkumpul dimeja makan.
"Mm, tidak seperti masakan bunda" ucap Jeno heran. "Tentu saja, ini masakan papah, Jeno. Bunda mana mau masak kalau ada tamu dirumah" sahut Jeven.
Isabella mendelik pada putra sulungnya. "Kalau gak sayang, gua balikin lo ke bapak lo!"
"Mampus" sambar Jovan, yang balas tatapan sinis abangnya.
"Lagian kenapa kau harus marah, dear. Apa yang dikatakan Jeven memang benar" ujar Galih.
"Geeeee!!!" Rengek Isabella tak terima.
"Sudahlah, love. Aku lapar, ambilkam untukku. Setelah energi ku terkumpul aku akan membantumu menyerangnya" Kevin menyaut sambil menyodorkan piringnya ada sang istri, yang disambut Galih dengan senang hati.
Mulut Isabella mencebik keras. "Bajingan!"
Jeven menatap Kevin dengan kagum. "Daddy memang yang terbaik"
"Diam kau! Daddy tetap tidak akan merestuimu dengan putra daddy!!" Balas Kevin sengit.
Wajah Jeven yang sebelumnya cerah berubah jadi runyam. "Daddy payah!" Kesalnya dengan jempol terbalik.
"HHHHHHH"
Jovan tersenyum puas melihat raut kesal sang abang. Itulah karma karena sering menjahilinya.
"Memang agak lain mereka ini" gumam Justin.
.
.
"Bagaimana persiapannya William?" Disebuah markas besar yang terletak jauh didalam hutan. Suara tembakan yang bersautan terus bergema sejak beberapa jam lalu.
Sosok yang dipanggil William melangkah mendekat, berdiri beberapa meter dibelakang pemimpinnya, menundukan sedikit kepalanya. "Sudah 80%, sir" jawabnya.
Tak..
Suara besi yang beradu dengan kaca. Dessert Eagle Mark XIX diletakkan diatas meja kaca, setelah hampir tiga jam menumpahkan pelurunya tanpa henti.
"Pastikan semuanya berjalan dengan lancar, William! Aku tidak menerima kegagalan apapun!"
"Saya mengerti, sir"
.
"Bee" panggil Justin.
"Ya?"
"Ara dan Aldre sudah pulang? Mereka tidak ikut makan malam tadi"
"Mereka sudah pulang, boo. Aldre tidak ingin sampai Cloe bertemu Masev. Sepertinya bocah itu cukup paham apa yang akan terjadi jika keduanya bertemu"
Justin mengangguk paham. Tangannya ia bawa mengelus kepala kecil putra bungsunya yang kini tengah menyusu. Bayi 4 bulan itu baru saja bangun dari tidurnya. Sepertinya ia dan sang istri harus begadang lagi malam ini.
"Kenapa kau senang sekali mengerjai ayah dan bunda, hm anak nakal? Kau ingin seperti kakamu ya?" Rengekan kecil keluar dari bibir mungil Fero. Bayi tampan itu merasa terganggu dengan sang ayah yang mendusel diwajahnya.
"Jangan ganggu dia, boo. Aku sedang berusaha menidurkannya sekarang" Isabella menarik kepala suaminya menjauh dari si kecil.
"Kau tidak adil, boy. Giliran ayah ingin bermain denganmu kau malah tidur, tapi jika ayah ingin tidur lau malah bangun. Sikap menyebalkanmu mulai mirip bundamu"
"Nyenyenye"
Isabella sama sekali tidak perduli dengn sindiran suaminya. Ia sedang malas meladeni kelakuan gila suaminya yang suka kambuh dimalam hari.
"Bunda juga tidak mengerti, sayang. Padahal bunda dokter yang hebat, tapi kenapa menyembuhkan kegilaan ayahmu itu seperti hal mustahil didunia"
Tidak jadi! Mulutnya gatal ingin membalas suaminya.
"Nyinyinyinyi"
"Love language mereka benar-benar ungkaan cinta ya, hubby"
"Hhhhhh" kekehan geli keluar dari bibir Kevin.
Sejak awal, kedua pasangan suami-suami itu menguping didepan pintu kamar sahabat mereka. Entah apa manfaatnya, tapi sepertinya mereka sedang mencari bahan pergibahan.
.....
T B C?
BYE!