Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
11. Ayah dan Anak yang kepo



"Kau yakin tidak ingin pulang? Bukankah sudah hampir masuk waktu liburan?"


Jeno menyandarkan tubuhnya pada pembatas dermaga. Satu tangannya ia masukkan ke dalam kantong celana, dan tangan yang lain memegang ponsel yang ia tempelkan di telinganya.


"Mm. Aku akan pulang saat menjemput mu nanti" jawab seseorang di seberang sana. Yang sejak 10 menit lalu menjadi teman mengobrol Jeno usai dirinya latihan.


"Kau pikir aku bocah?!" Jeno mendengus. Sosok itu tertawa renyah, "kau memang bocah. Bocah bucin yang tergila-gila pada sepupu ku"


Jeno berdecih tak terima. "Hari ini ulang tahunnya, akan ku bunuh kau jika tidak menghubunginya"


"Nah kan? Baru aku katakan tadi"


"Ge..."


"Ya"


"Bunda selalu mengatakan... Bahwa kau boleh egois demi kebahagiaan mu"


"Kau lupa? Aku di didik oleh bunda mu, dan beliau tidak pernah mengajarkan cara menjadi egois"


Jeno menundukkan kepalanya dalam, menjilat bibirnya yang mendadak terasa kering. Sekarang Jeno mengerti, arti tidak pernah egois yang menjadi sifat alami sang bunda kini Jeno temukan pada sahabatnya.


"Papah akan sedih melihat mu seperti ini" ucap Jeno lirih. Bisa Jeno dengar dengan jelas helaan nafas berat yang meluncur dari bibir sahabatnya itu.


"Aku sudah membuatnya sedih, Jeno. Don't worried, papah akan mengerti dan semua akan baik-baik saja"


"Kalau begitu pulang lah"


"Akan aku usahakan"


"Jaga kesehatan mu. Kalau begitu aku tutup dulu"


"Mm"


Telpon berakhir, Jeno menjauhkan ponselnya dari telinga, menatap benda pipih itu lamat sebelum akhirnya ia masukkan kembali ke dalam kantong.


"Jen, ayo pulang" ajak Jovan. Jeno menoleh pada sang adik yang berdiri di ambang pintu.


"Sudah latihannya? Tanya Jeno yang di angguki Jovan sebagai jawaban.


Jeno berjalan mendekat ke arah sang adik. "Jangan minta bantuan ku jika kau dimarahi ayah nanti" ujarnya dengan wajah serius.


Jovan menampilkan cengiran khasnya, Jeno sudah terlampau paham sifat adiknya yang satu ini jadi dia tidak akan mau mengorbankan dirinya.


"Kau tampan, ka. Tampan sekali, wajar jika banyak yang tergila-gila pada mu" ucap Jovan berusaha merayu sang kaka.


"Ya, dan sialnya aku mempunya adik seperti mu" balas Jeno berjalan masuk meninggalkan Jovan begitu saja.


"Sialan!" Jovan mengumpat tanpa suara.


Setibanya Jeno di ruang santai, ia melihat dang adik, Jesslyn tengah mengobrol dengan Nemora "Pulang sekarang?" tanya Jeno.


Jesslyn menoleh begitu mendengar suara Jeno kemudian mengangguk. "Mm. Ayo, aku ngantuk. Mau tidur di mobil ya"


"Sure" Jeno meraih tas miliknya, menyampirkan pada bahu sebelah kanannya.


"Kami pulang dulu, aunty" pamitnya pada sang bibi. "Hati-hati ya" jawab Nemora"


"Kalian sudah mau pulang?" tanya Rion yang baru keluar dari dapur. Jeno dan Jesslyn kompak mengangguk.


"Kalau begitu hati-hati"


"Kami pamit dulu uncle"


"Tidak ingin naik helikopter saja?" tawar Rion. Jeno menggeleng, "tidak usah uncle. Kalian kan sedang sibuk tidak enak jika kami menganggu"


"Sejak tadi juga kalian sudah menganggu"


"Hehehehe"


"Pada ayah tidak, uncle?" Jesslyn mengerjapkan matanya polos. Rion mengibaskan tangannya di udara. "Aku tidak se geng dengan ayah mu, jadi tidak perlu"


"Oh okay"


**


Di perjalanan Jesslyn benar-benar tertidur seperti yang gadis itu katakan sebelumnya. Gadis itu bersandar pada tubuh Jeno yang merangkulnya erat.


Jovan menatap lekat sang kaka yang duduk di hadapannya. "Masalah apa yang di miliki Geo dan Keano?" tanya Jovan tiba-tiba cukup membuat Jeno terkejut.


"Apa maksud mu?" Jeno balik bertanya.


"Aku mendengar pembicaraan mu tadi" ucap Jovan. "Kau pasti tau sesuatu kan?"


"Aku tidak tau apapun. Dan lagi, kau tidak sopan menguping pembicaraan orang lain"


"Keano bilang Geo tidak pernah menghubunginya sejak bocah itu pergi"


"Kenapa tidak Keano yang menghubungi duluan?" raut wajah Jeno perlahan berubah menjadi kesal.


"Gengsi" jawab Jovan santai. Jeno memutar bola matanya malas, matanya melirik kearah kursi supir dimana Robert berada. "Tidak sopan menguping pembicaraan orang lain, paman" ucapnya sinis.


Robert tersenyum kecil. "Maaf tuan muda" tangannya bergerak mematikan earphiece miliknya, lalu menaikkan pembatas mobil.


"Jadi?" tanya Jovan lagi yang masih menunggu penjelasan sang kaka. "Persetan dengan gengsi. Dan jika aku jadi kau, aku tidak akan ikut campur urusan orang lain" jawab Jeno telak.


"Sialan!"


***


Justin melepaskan earphiece miliknya. Netra hazelnya menatap sang istri yang duduk di atas sofa sambil menyesap teh dingin kesukaannya.


"Kau tau sesuatu tentang Keano dan Geo, bee?" tanya Justin. Pria itu jadi ikut penasaran setelah mendengar pembicaraan kedua putranya. Dan lagi, ia baru sadr bahwa tingkah laku Geo sangat persis seperti Isabella dulu.


Isabella meletakkan gelas tehnya kembali ke atas meja. "Jauh lebih baik jika kita tidak tau apapun, boo" jawabnya.


"Kita bisa membantu masalah mereka, bukan?"


"Kau tidak akan bisa membantu menyelesaikan masalah seseorang yang memiliki ego tinggi seperti mu. Kau hanya akan membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar"


Isabella tidak sadar jika nada suaranya berubah menjadi ketus. Wanita itu teramat kesal karena teringat betapa egoisnya suaminya itu dulu.


"Kenapa kau jadi kesal pada ku?" seru Justin dengan nada yang mulai naik.


Isabella menghembuskan nafas pelan. "Maafkan aku, sifat Keano mengingatkan ku pada mu dulu"


"Aku mengerti"


"Apa itu masalah percintaan?" sepertinya Justin masih benar-benar penasaran dengan kedua keponakannya itu.


"Boooo!!!" jerit Isabella kesal. Justin terkekeh, "santai bee santai. Aku kan hanya bertanya"


"Memang sialan!"


"Woooo kau mengumpati suami mu?!"


"Aku bahkan mengumpati mu seumur hidupku"


"Awww aku semakin mencintai mu, bee"


"Persetan dengan mu!"


"Kkkkkkk"


*****


See you again!