
Hembusan angin musim semi begitu menyejukkan, seolah memberikan ketenangan pada setiap orang. Bunga - bunga mulai tumbuh bermekaran, menghiasai setiap sudut taman. Hamparan rumput hijau yang memanjakan mata.
Anak kecil berlarian kesana kemari. Ada yang saling berkejaran, melempar bola, dan masih banyak lagi. Para orang tua menatap bahagia anak-anak mereka, ada yang sesekali tertawa kecil. Sungguh suasana bahagia yang menenangkan.
Seorang gadis yang duduk di salah satu bangku taman tertawa. Pandangannya mengarah lucu pada empat orang anak kecil yang sedang berebut sebuah balon. Pemandangan ini membuatnya teringat moment saat kecilnya dulu.
Dulu, dia dan ketiga sahabatnya sering kali berebut mainan. Padahal mereka sudah memiliki satu setiap orang. Entahlah, mereka berempat hanya senang saling menggoda, itu seperti hiburan tersendiri untuk mereka.
Gadis itu mendongak, menatap langit yang membiru terang. Memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajah. Tersenyum lebar, menikmati suasana indah ini.
Matanya kembali terbuka, kembali menghadap lurus, menatap hamparan rumput hijau. Rasanya tidak sabar untuk hari esok. Dia akan kembali ke negara asalnya, bertemu dengan ketiga sahabat dan keluarga yang sudah sangat ia rindukan.
Gadis itu meraih tasnya, meninggalkan area taman. Dia harus segera berkemas, masih banyak barang-barang yang belum di rapihkannya.
.
Setelah perjalan bisnis yang memakan waktu hampir sebulan, hari ini Aldre kembali menginjakan kakinya di LA. Lelaki itu kini berada di club miliknya. Menikmati kepenatannya dengan berbotol-botol minuman.
"Kau bisa kembali jika lelah Brendon. " Aldre berkata pada sang assistant yang asik menikmati minumannya.
"Saya akan pulang setelah mendapatkan mangsa, tuan. " balasnya santai. Aldre tertawa, brengsek juga assistantnya ini.
Setelah meminum beberapa gelas, Brendon turun ke lantai dansa, untuk memulai misi mencari mangsanya. Tubuhnya ia dekatkan pada seorang wanita dengan pakaian super duper krisis berwarna emas, dan mulai mengeluarkan jurus rayuan mautnya.
Sedangkan Aldre, lelaki itu masih setia pada posisinya, meski banyak pasang mata yang menatap kearahnya, dia sama sekali tidak perduli. Aldre tidak suka bermain dengan sembarangan wanita, dia tidak suka *** bebas. Lelaki itu hanya akan menikmati minumannya, tanpa menghiraukan yang lain.
.
Didalam kamar besar itu, di atas ranjang sepasang suami istri sedang bergulat, sang suami yang sedang manja meminta cuddle sebelum tidur. Isabella dengan sabar meladeni suami tercintanya ini, daripada dia berubah jadi reog lebih baik turuti kemaunnya.
"Aku pegal boo. " Isabella berseru kesal. Sudah 30 menit sejak makam malam, lelaki itu tidak kunjung melepaskannya. Isabella sudah cukup pegal menahan bobot sang suami, ditambah posisi duduknya yang tidak nyaman.
"Boo!!! " wanita itu kini berteriak kesal, pasalnya suami manjanya ini tidak mengindahkan perkataannya.
"Apasi ahh?? Ganggu! "
"Ganggu ganggu, pegel tau!! Minggir!! "
"Beee... " Justin merengek dengan bibir yang dimanyunkan, membuat Isabella menatap jijik kearahnya.
"Imut lu begitu? Kaga! "
"Ahhh, aku masih mau cuddle! "
"Gak ada ya, cuddle sono ama guling. " Isabella membalikk badannya, tidur dengan posisi miring. Tidak perduli dengan sang suami yang tengah kesal.
"Dasar tidak berprikesuamian! " cibir Justin.
.
Matanya menyipit silau karena cahaya dari dalam ruangan, seingatnya dia mematikan semua lampu sebelum pergi, kenapa sekarang jadi menyala?
"Ngghh, kenapa lampu menyala? Apakah ada maling? " igaunya. "Hahh, ohhh malingnya mirip ka Daniel ehehehehe. "
Didepannya, Daniel bersedekap dada menatap jengah adiknya. Kenapa anak ini susah sekali dinasehati? Badannya tidak bergerak sedikitpun menatap adiknya yang berjalan sempoyongan.
"Apa acara minummu menyenangkan little brother? " Tanya Daniel sarkastik. Aldre menatap polos sang kaka, mengacungkan kedua jempolnya dengan semangat.
"Dasar bocah nakal. "Menyeret lelaki itu menuju kamar, membawanya masuk kekamar mandi, lalu melemparkan badannya kebilik shower menyalakan air dingin sekencang mungkin, membuat sang adik gelagapan.
"Jangan keluar dari sini sebelum kau sadar. " peringatnya.
Aldre terduduk dilantai, kesadarannya perlahan pulih. Merasa opening dikepalanya akibat alkohol, ditambah guyuran air yang cukup deras. Otaknya berpikir keras, bagaimana kakanya itu selalu tau jika dia minum? Apa lelaki itu cenayang? Mengerikan.
"Apa selama ini ka Daniel secret admirer ku? " Aldre bergumam bingung.
"Secret admirer kepalamu! Cepat keluar. " sembur Daniel.
"Marah-marah mulu, pantesan tua. "
"Siapa yang bikin kaka marah-marah bocah nakal? "
"Lain kali akan kaka minta ka Kevin mengawasimu! "
"Nyinyinyinyi. "
"Cepat keluar dan ganti pakaianmu, kaka sudah buatkan sup hangat untukmu. " Daniel berlalu keluar dari sana.
Daniel menyerahkan semangkuk sup hangat kehadapan Aldre, begitu dia duduk dimeja makan. Memperhatikan setiap gerakan adiknya, tanpa terlewat secuil pun.
"Aku khawatir kaka akan naksir padaku jika terus menatapku seperti itu. " Daniel terkekeh dengan penuturan Aldre.
"Kau sudah besar bocah nakal. "
"Ya memang, hanya kaka yang menganggapku masih bocah. "
"Sudahlah, kaka akan pulang. Langsung istirahat jika sudah selesai, oke? "
"Mm, hati-hati. "
Daniel melangkah keluar dari Apartment Aldre, dia tidak bisa tinggal Karen sudah berjanji akan menemani putri kecilnya tidur malam ini. Anak itu pasti masih begadang menunggu ayahnya pulang.
.....
T B C?
bye!