Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
103 | ARA KNOW



Ara benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini. Tapi sejak beberapa hari ini, dirinya sama sekali tidak melihat keberadaan sang papah. Bahkan mamahnya pun terlihat santai, seolah itu bukanlah hal yang besar.


Ara ingin bertanya, tapi ia ragu. Tidak ada yang memberitahunya kemana papahnya itu pergi, hal ini membuatnya bingung.


Saat ini, Ara tengah berdiri diam didepan pintu ruang keluarga. Tadinya ia ingin masuk, tapi pembicaraan didalam sana membuat Ara mengurungkan niatnya yang ingin mendorong pintu.


"Kenapa mamah biarkan papah kembali ke sana?" Sayup-sayup bisa Ara dengar suara marah kakanya, Rafael yang sepertinya tengah berbicara dengan sang mamah.


"Papahmu melakukan ini demi melindungi anak-anaknya, Rafael" suara lembut sang mamah yang menjadi balasan terdengar.


"Tapi mah... Bagaimana jika papah kembali menjadi mafia?"


Mafia? Apa papahnya itu akan kembali menjadi mafia? Tapi kenapa?


"Tidak akan. Kau hanya perlu percaya pada papahmu"


"Mah... Mamah tau kan keluar dari dunia bawah itu tidak mudah?"


"Mamah tau kau khawatir pada papahmu, tapi kamu harus percaya bahwa papahmu akan baik-baik saja, Rafael. Dia tau apa yang harus dia lakukan" Sofia berusaha menenangkan sang putra. Ia mengerti bagaimana Rafael sangat mengkhawatirkan papahnya.


"Ini semua karena Aldre! Kalau aja dia tidak bertingkah, semuanya tidak akan jadi seperti ini!" Rafael berucap murka.


A-apa? Aldre?


"Kalau sampai papah kembali memimpin The Fault Blood, aku sendiri yang akan menghabisi anak itu!"


Jadi papahnya berada dimarkas besar The Fault Blood?


"RAFAEL!! Jaga bicaramu! Bagaimana jika Ara mendengar?" Sofia menegur keras putranya itu. Ia tidak ingin putri bungsunya tau apa yang tengah terjadi saat ini.


Rafael mendengus marah. "Biarkan saja dia tau! Dia harus mengetahui sebarapa bajingannya kekasihnya itu!" Seru Rafael.


Ara tertegun. Tubuhnya membeku setelah mendengar apa yang sang kaka katakan. Pantas saja Cloe merasa resah akhir-akhir ini, jadi ini alasanyya.


'Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Al? Kenapa papah sampaj harus turun tangan seperti ini?' Batin Ara resah.


Ara berbalik, memilih pergi dari sana. Ia harus segera menemukan jawaban atas situasi yang terjadi saat ini.


BRAKK


Ara menutup kasar pintu kamarnya. Gais itu berlari menuju ruang ganti, lalu berdiri didepan cermin. Matanya terpejam, hatinya merapalkan sebuah nama.


Setengah menit kemudian Ara kembali membuka matanya, salah satu netranya berubah menjadi light grey.


"Cloe" panggilnya pada sosok lain dalam dirinya.


"Why?" Suara dingin Cloe menyaut.


"Papah--"


"I see"


"Apa yang terjadi, Cloe?" Ara menatap pantulan dirinya di cermin dengan cemas.


"Sepertinya kekasih bodohmu itu melakujan sesuatu yang sangat bodoh. Jika prediksi ku tidak salah, dia pasti berurusan dengan kelompok mafia yang menjadi musuh abadi kaka sulungmu? Atau mungkin dia bagian dari mereka"


"Ka Devan maksudmu? Apa hubungunnya?"


Cloe memutur bola matanya malas. Kenapa pemilik tubuh ini begitu bodoh! "Be smart Ara. Apa kau pikir jika bukan kaka sulungmu, papahmu mau repot-repot turun tangan menangani masalah ini? Dia anak kesayangan papahmu jika kau lupa"


"Dan lagi, jika itu Isabella? Kau pikir dia butuh bantuan, bahkan untuk menerka masalah apa yang tengah dihadapinya saja itu tidak mungkin, Ara! Jadi berpikirlah dengan benar" ucap Cloe sarkas.


Lagi-lagi Ara terdiam. Apa yang dikatakan Cloe benar, jika itu bukan ka Devan, papah tidak akan mau repot-repot turun tangan seperti ini.


"Tapi sepertinya bukan hanya kakamu yang terancam. Tapi masih ada yang lainnya?"


"I'm not sure"


"Kita harus mencari jawabannya jika kau ingin tau apa yang terjadi"


"Masev?" Usul Ara.


"Kau pikir dia mau diajak bekerja sama?!" Jawab Cloe sinis.


Ara mendesah putus asa. Belum apa-apa dia sudah ingin menyerah. Haruskah dirinya bertanya langsung pada sang kekasih? Tapi lelaki itu pasti tidak akan menjawabnya dengan jujur.


Sebenarnya Ara tidak mengerti banyak tentang dunia bawah, dirinya juga tidak tau bagaimana sosok papahnya dulu saat menjadi penguasa. Karena yang Ara tau, bahkan sebelum kaka sulungnya lahir, papahnya sudah tidak terlalu aktif. Pria paruh baya itu hanya akan terjun sesekali, selebihnya hanya mengawasi dari jauh.


"Apa kau tidak memiliki ide, Cloe?" Tanya Ara. Cloe berdecak kecil, "ka Bella. Jika kau berani bertanya langsung padanya" ucap Cloe.


Ekspresi Ara berubah menjadi lemas seketika. "Ayolahhhh, kau ingin mencari masalah? Lebih baik bertanya langsung pada Aldre!"


Cloe terdiam. Gadis itu juga bingung apa yang harus dilakukannya. "Sepertinya aku tau kemana kita bisa mendapatkan informasi"


"Kemana?"


"Ka Charles"


Mata Ara berbinar terang. Kenapa dirinya tidak terpikirkan sosok kaka kesayangannya itu. Lelaki itu pasti tau apa yang terjadi.


"You're right "


.


"Bee..."


"Hm?"


"Kenapa melamun?"


Isabella tersenyum kearah sang suami. Tangannya mengelus rahang kasar Justin. "Ara know" ucapnya.


"Ara?" Justin tertegun, ia baru ingat dengan sibungsu Courtland. "Kenapa kamu selalu tau segala hal?" Tanya Justin heran.


Isabella mendengus geli. "Feeling" jawabnya singkat.


Kini gantian dengan Justin yang mendengus mendengar jawaban istrinya. "Cih!"


Tangan Isabella bergerak naik turun dari pipi hingga rahang Justin, terua berulang-ulang seperti itu. "Biarkan Jovan ikut bersamamu, Boo"


"No!" Tolak Justin tegas.


"Kau tidak bisa menghentikannya. Menghentikan sifat ambisius milikmu yang kau turunkan padanya" ucap Isabella.


Justin menatap tajam sang istri. "I said no!"


"Jangan bilang aku tidak pernah memperingatkanmu!" Setelah mengatakan hal itu, Isabella berlalu pergi dari sana karena putra bungsunya sudah terbangun.


Kedua tangan Justin mengepal kuat, buku jarinya memutih. Ia tidak tau sudah sejauh mana putranya itu bertindak, tapi sepertinya Isabella memang benar tidak akan menghentikan Jovan sekarang.


Anak itu bahkan tidak pernah absen untuk keluar rumah sejak beberapa hari lalu. Entah kemana bocah 13 tahun itu pergi.


"dengan papah ikut campur saja itu sudah cukup membebaniku! sekarang dimana bocah nakal itu berada?!"


.....


T B C?


BYE!