Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 55



Tepat pukul tiga pagi. Dokter keluar dari ruang operasi. Jason dengan cepat bangkit dari kursi, menghampiri dokter wanita tersebut.


"Bagaimana keadaan adik saya, dok? "


Dokter melepas masker medis yang dikenakannya. "Syukurlah operasinya berjalan lancar. Pasien sudah melewati masa kritisnya. Saya cukup terkejut dengan pasien yang begitu kuat bertahan dalam kondisi yang sangat buruk. Jika itu orang lain mungkin mereka tidak akan selamat"


"Saat ini pasien dalam kondisi koma. Sangat disayangkan saya harus mengatakan ini. Sebagian tulang dalam tubuh adik anda hancur, terutama lengan kirinya. Tidak ada yang benar-benar utuh. Bahkan tengkorak kepalanya mengalami cedera meski tidak terlalu parah. Bisa saya pastikan bahwa itu berasal dari hantaman benda keras"


Penjelas dokter membuat tubuh Jason menjadi lemas. Hidup adiknya benar-benar hancur. Jason meremat rambutnya kencang.


"Berarti adik saya... Dia cacat? "


Dokter mengangguk. "Ya. Kemungkinan yang pasti akan terjadi"


"Apa tidak ada cara untuk sembuh, dok? " Tanya Kenzo.


"Tentu saja ada. Tapi yang bisa dilakukan saat ini adalah cangkok tulang atau Transplantasi tulang"


"Cangkok tulang? Saya mengerti. Terima kasih dokter"


"Kalau begitu saya permisi dulu. Jika ingin melihat keadaan pasien, tunggu sampai dipindahkan keruang rawat"


"Sekali lagi terimakasih, dok"


"Sama-sama" dokter berlalu pergi darisana.


Jason menyandarkan kepalanya pada tembok. Membenturkannya berkali-kali. Merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga sang adik.


Steven dan Rion menarik paksa tubuh Jason. Menghentikan lelaki itu dari tindakan konyolnya.


"Kalau Lo mau mati, jangan sekarang. Nanti aja kalo Carissa sembuh, gak ada yang bisa dia babuin entar" seru Rion kesal.


"Masih sempet-sempetnya lo anjrit" sahut Daniel.


Galih menatap sang adik yang termenung, lalu menoleh pada Darren. Pandangannya kosong, jiwa Darren seperti tak ada adalam tubuhnya.


"Dar? " Galih menepuk pelan pundak sahabatnya. "Gua benar-benar gagal ya, Ge! Gua gak bisa ngedidik Sin dengan baik. Gua terlalu sibuk dengan dunia gua sendiri"


"Ini bukan salah lo ka. Lo sudah ngelakuin tugas lo dengan baik. Mom dan dad, juga lo sudah memberikan yang terbaik buat Sin. Tapi Sin sendiri yang memilih jalan hidupnya"


"Dia masih labil, masih belum mengerti mana yang baik dan benar. Apa yang dia pikirkan tidak sama dengan apa yang kita harapkan. Masih ada kesempatan untuk merubahnya menjadi lebih baik"


Galih menarik Darren kedalam pelukannya, yang dibalas dengan erat. Bisa Galih rasakan bajunya yang mulai basah. Kakanya yang paling kuat dan selalu terlihat tegar kini menangis.


Jason menatap keduanya. Dia ingin marah, tapi hatinya menolak untuk melampiaskan amarah tersebut pada sahabatnya. Hanya memendam amarahnya yang bisa ia lakukan sekarang.


"Telpon Maxime, Ver. Kasih kabar ini ke yang lain" ucap Daniel. "Ok " Verrel berjalan ke ujung lorong guna menelpon sang istri.


.


Carissa kini sudah dipindahkan ke ruang rawat. Jason menempatkan sang adik di ruang vvip. Lelaki itu tak henti mengecup kening adiknya sejak ia masuk.


Kenzo dan Verrel meringis melihat keadaan gadis cantik itu. Tubuhnya penuh dengan perban yang melilit.


"Carissa hebat banget ya ka? Padahal dia gak pernah latihan bela diri. Tapi bisa sekuat ini nahan rasa sakit ditubuhnya" Verrel menatap saudara iparnya yang masih terlelap dengan bangga.


"Dulu, cuma kenapa sayatan pisau ka Kevin aja, gua udah kaya kerasukan reog asking sakitnya. Tapi Carissa? Luar biasa. Kalau gua, behhh jangan ditanya udah" perkataan Verrel sukses membuat yang lain sedikit melupakan kesedihan mereka.


"Ver, gua kasih tau mendingan lu diem aja dah. Diem Ver! Air mata gua udah mau keluar masuk lagi, gak aci anjir" keluh Kenzo.


"Ingus lu ketarik lagi juga gak? "


"Si anjing! "


Tawa mereka kembali meledak. Dua orang ini emang selalu bisa mencairkan suasana.


"Ini Carissa bangun-bangun depresot, tau kan Jas salah siapa? " seru Rion.


Daniel menatap sang adik yang hanya tersenyum simpul. "Al" panggilnya. Aldre menoleh kearah sang kaka. "Ganti baju dulu. Kaka sudah bawain baju ganti buat kamu"


"Ka... "


"Kita bicara nanti. Sekarang ganti bajumu dulu. Bukankah kau ingin menangkap mereka? " ucap Daniel. Aldre mengangguk. Tangannya meraih tas yang disodorkan Daniel padanya, lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Steven menatap ke arah Rion. "Lu gak ikut yon? " Rion menggeleng. "Gua di tugasin jaga Carissa disini"


"Kan ada Galih? Ada Verrel juga, walaupun gua gak tau fungsi dia apa disini"


"Yeee bangsat" sahut Verrel emosi. Kenzo kembali tertawa mendengar umpatan sohibnya.


"Galih bakal ikut sama Aldre. Kevin, Neoura, sama ka Harves baru aja berangkat. Sedangkan ka Devan dan ka Leo udah berangkat lebih dulu" Jelas Rion.


"Nah itu sudah formasi lengkap. Trus lu ngapain, Ge? " Steven menoleh pada Galih bingung.


"Ara! Isabella minta untuk Ara ikut dengan mereka. Dia butuh Cloe, alter ego Ara yang misterius. Dia seorang psycho sama seperti Erick. Tapi lebih berbahaya"


"Maksdunya Erick ngawasin Cloe gitu? " Galih menggeleng. "Masev! Masev pacarnya Cloe! "


"What?! " kaget Steven.


Aldre yang baru keluar terkejut mendengar perkataan kaka keduanya. Dia jelas tau siapa Masev. Tapi setaunya Masev hanya seorang anak kecil berusia 10 tahun.


"Bukankah Masev hanya bocah 10 tahun? " Tanya Daniel tidak mengerti.


"Tadinya. Itu juga yang kaka tau. Tapi beberapa hari setelah ka Bella melahirkan. Kaka terbangun dalam kondisi habis berhubungan. Kaka jelas tau bahwa kaka tidak melakukan itu karena ka Kevin sedang berada diluar kota"


"Jadi kaka bercerita pada Isabella. Dan dia mengatakan, bahwa Masev yang melakukannya. Dia bukan hanya sosok seorang bocah berusia 10 tahun. Tapi sebenarnya, Masev jaub lebih dewasa dari Erick. Dia tidak pernah menampakan dirinya selama ini, dan hanya keluar saat ada sesuatu yang membuatnya tertarik"


Penjelasan panjang Galih semakin membuat mereka tercengang. Terutama Aldre, sesuatu yang dijelaskan sang kaka di awal membuat hatinya terasa sakit.


"Aldre... Maafkan kaka. Kaka tidak pernah tau tentang hal ini sebelumnya. Maafkan kaka, karena.... "


"Apa ka Kevin tau? " Tanya Aldre datar. "Ya dia tau. Dia disana saat Isabella menjelaskan semuanya"


"Kenapa ka Bella tidak menghentikannya? "


"Fokus Isabella bukan hanya pada mereka Aldre. Isabella mungkin bisa mengendalikam Cloe, tapi Masev? Dia terlalu pintar menyembunyikan dirinya"


"Kaka benar-benar minta maaf padamu"


"Aku mengerti! " ekspresi Aldre berubah. Kembali pada dirinya yang sebelumnya.


Steven menarik tubuh Darren mundur kebelakang saat melihat warna mata Galih yang berubah biru.


"Apa? " Darren menatap sahabatnya bingung. "Itu.. " tunjuk Steven pada Galih. Darren menoleh, dan terkejut. "Masev" gumamnya.


Aldre menatap dingin Masev yang mengambil alih tubuh sang kaka. "Setelah semuanya selesai, jauhi Ara! " ucap Aldre dingin.


"Aku tidak memiliki hubungan dengan gadismu! " Masev menjawab tak kalah dingin. Suaranya yang berat dan dalam membuat Steven dan yang lain merinding mendengarnya.


"Tapi tubuh itu milik gadisku! Dan kau tidak memiliki hak apapun! "


"Bukan waktunya kita meributkan hal ini sekarang! Mereka sudah menunggu! " sejujurnya Masev ingin sekali membungkam mulut lancang Aldre. Tapi sayangnya, mereka tidak memilikk banyak waktu saat ini.


Masev membawa tubuh Galih melangkah lebih dulu keluar dari kamar rawat Carissa. Aldre berpamitan pada semua orang, lalu menyusul Masev keluar.


......


T B C?


BYE!