Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
175



Satu Tahun Kemudian....


Pelatihan yang Jovan jalankan akhirnya telah sampai pada titik akhir. Hari ini, bocah 15 tahun itu akan menyelesaikan segala pelatihannya yang telah berjalan selama satu tahun.


Dan selama itu juga, Erick sama sekali tidak mendapatkan kabar apa pun dari saudara kembar Jovan yang telah meninggalkannya demi pendidikan satu tahun lalu. Terakhir kali, saat lelaki itu menyampaikan padanya bahwa dia sudah mulai memasuki tahun ajaran barunya, setelahnya dia menghilang begitu saja.


Erick menatap sendu ke depan, ke arah Jovan yang tengah berbicara dengan paman dan grandpanya. Minggu depan Jovan akan berangkat menyusul saudara kembarnya, dan itu artinya Erick akan benar-benar sendiri. Karena Brian dan Virzan akan ikut bersama Jovan.


"Sorry lama" ucap Jovan yang kini sudah berada di sebelah Erick. "Hmm" jawab Erick malas.


Keduanya berjalan beriringan menuju mobil. Sebelum pulang, Jovan berencana akan mengajak Erick jalan-jalan terlebih dahulu. Sejak sang kaka tidak ada, Jovan yang melanjutkan kebiasaannya mengajak Erick berkeliling kota.


"Kau yakin tidak ingin ikut dengan ku? Masih ada waktu loh?" tanya Jovan membuka pembicaraan.


Erick menggeleng. "Tidak" jawabnya tegas.


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin melihat wajah kakak mu" jawaban yang keluar dari mulut Erick cukup membuat Jovan terkejut. Bahkan sahabatnya itu menggunakan nada yang sangat dingin.


"You hate him?" tanya Jovan lagi.


"....." tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Erick. Bocah itu menutup rapat mulutnya.


"I see"


"He's miss you, Erick. Always"


"I don't care"


Jovan hanya bisa menghela nafas berat. Dirinya sudah lelah menceramahi saudara kembarnya untuk tidak mengambil tindakan seperti ini, tapi bocah itu tak mau mendengar. Dan sekarang, jika sudah seperti ini dirinya tak bisa melakukan apa pun lagi.


Erick sudah terlanjur kecewa, dan rasa kecewa itu akan sulit untuk pergi.


"Aku akan kembali setelah menyelesaikan S1 ku"


"Kau bisa pergi selama yang kau mau, Jovan. Jangan khawatir soal adik ku, dia masih kecil untuk merasa seperti ku"


Jovan menjilat bibirnya gugup. Entah hanya perasaannya saja atau sejak hari itu, Erick memang lebih sering menyindirnya.


'Kaka sialan!!' umpatnya keras dalam hati.


Pembicaraan terakhir mereka membuat Jovan kehilangan kata-kata. Dirinya tidak bisa memikirkan kata yang tepat untuk meneruskan pembicaraan. Otaknya mendadak buntu.


"Kita pulang saja. Kau mengajak ku berkeliling tidak jelas" ucap Erick sambil mendengus sebal.


"Hehehe, maaf maaf. Kita makan saja bagaimana?"


"Tidak mau! Aku bosan melihat wajah mu!"


"Aiihhh?? Hah, baiklah"


***


"Sudah setahun, kau yakin tidak ingin menghubunginya?"


"Waktu ku masih panjang di sini"


"Kau tau bagaimana dia kan? Kau sudah berjanji padanya"


"Dia akan mengerti"


"Bukan masalah itu! Kesabarannya tidak sebesar itu, bodoh! Jangan menambah masalah dalam hubungan mu!!"


"Sudah mulai kelas. Lebih baik kembali ke kelas mu"


"Dasar keras kepala!"


***


"Sudah pulang, sayang? Jovan mana?" Ana yang sejak tadi menunggu kepulangan sang suami dan anaknya sore ini menyambut kedatangan Erick yang baru saja tiba.


"Pulang" jawab Erick singkat. Dahi Ana mengernyit heran. "Loh kenapa? Biasanya Jovan selalu mampir"


"Erick usir. Erick bosan melihat wajahnya"


"Au? Dasar kamu ini. Yasudah mandi terus istirahat ya, nanti mamah panggil saat waktunya makan malam"


"Erick ke kamar dulu, mah"


"Iya sayang"


"Haruskah aku ikut dengan Keano?" gumamnya pada dirinya sendiri.


"Tapi Keano bisa menjadi jembatan untuknya. Lalu aku harus kemana? Aku tidak ingin gila sendirian di sini"


Erick kembali bangkit dari posisi berbaringnya, berjalan cepat menuju meja belajar miliknya. Tangannya dengan cepat merai laptop miliknya, membukanya, dan melakukan pencarian di google.


Matanya fokus menilai satu persatu lokasi yang tepat. Namun tidak lama senyumnya terbit begitu Erick mendapatkan sebuah tempat yang sesuai keinginannya.


"Aku tau aku harus kemana"


Makan malam..


Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Erick tiba tepat setelah masakan terkahir sang mamah selesai di hidangkan.


Mereka makan dengan khidmat dan tanpa suara. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar.


"Pah, Erick boleh ngomong sesuatu?" Erick mulai membuka suara begitu melihat sang papah sudah selesai dengan suapan terakhirnya.


"Tentu, sayang. Katakanlah" jawab Daniel.


"Erick.... Bolehkah Erick sekolah asrama?" Tanyanya takut-takut.


"Sekolah asrama?" Kaget Daniel. Erick mengangguk cepat.


"Bersama Keano? Atau kamu ingin ikut dengan Jovan?"


Erick menggeleng. "Erick ingin sekolah di tempat yang berbeda" Erick mulai menjelaskan kemana dirinya ingin pergi.


Daniel menatap lekat sang anak. Dirinya paham apa yang terjadi pada putra satu-satunya itu. Dan sejujurnya, Daniel terlalu takut melepaskan putranya pergi sendirian ke tempat yang begitu jauh.


"Bolehkan pah?" Tanya Erick lagi saat dirinya tak mendapati jawaban apa pun dari sang papah.


"Erick ingin mengambil sekolah apa?"


"Arsitek. Erick ingin menjadi Arsitek lepas" jawab Erick penuh semangat.


"Erick yakin?" Erick kembali mengangguk.


Daniel menghembuskan nafas berat. Melihat tatapan penuh harap sang putra membuat dirinya tak bisa berkata tidak.


"Baiklah. Kapan Erick ingin berangkat?"


"Nanti, setelah Jovan. Tapi papah seriuz izinin Erick kan?"


"Iya, sayang" jawab Daniel tersenyum simpul.


"Mamah?" Erick beralih menatap sang mamah.


"Kalau menurut Erick itu yang terbaik, mamah pasti dukung"


Ana tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui keinginan sang putra. Dirinya sudah tak sanggup melihat Erick yang terus menangis dan melamun sendirian.


"YESSSS!!! MAKASIH MAMAH, PAPAH. I LOVE YOU TWO SO MUCH"


"I love you too, boy"


"Biar nanti papah urus semuanya ya"


"Boleh gak Erick minta jangan kasih tau siapa pun kemana Erick pergi sampai Erick kembali ?"


Permintaan Erick membuat Ana dan Daniel saling pandang dengan raut bingung.


"Memangnya kenapa sayang?" tanya Ana.


"Erick tidak ingin dia tau"


"Mamah mengerti. Akan kami rahasiakan"


"Karena juga Harena juga" timpal Harena yang hanya menyimak sejak tadi.


"Hahahah, iya cantik"


*****


T b c?


Bye!


Mohon maaf kalau tidak jelas