
"Hubungi saja, dia pasti akan menjawab mu kok"
"Apa yang harus aku katakan?"
"Katakan saja kau merindukannya"
"Kaaaa~"
Erick tertawa puas, jarang-jarang ia mendengar si manusia kulkas merengek seperti ini.
"Jangan meledek ku, ka" protes Virzan pada Erick yang masih menertawakannya.
"Aku tidak. Lagipula perkataan ku memang benar kan? Kau merindukannya jadi apa salahnya berbicara jujur" ucap Erick.
"Kalau dia salah paham bagaimana?"
Erick memutar kedua bola matanya malas. "Kau ini sahabatnya. Memangnya tidak boleh sahabat saling merindukannya?"
Secara otomatis Virzan langsung menampilkan cengiran lebarnya. Dengan semangat jari-jarinya menari di atas layar ponsel, mengetikkan beberapa angka yang sudah di hapalnya di luar kepala.
"Dasar bucin" cibir Erick. Virzan mendelik sinis. "Berkaca sana" balasnya.
Tak lama Virzan menempelkan ponselnya di telinga, jarinya mengetuk-ngetuk pegangan kursi menunggu seseorang di sebrang sana menjawab panggilannya.
"Halo" senyum lebar Virzan terpatri, Erick bisa menebak bahwa orang di sebrang sana sudah menjawab panggilan sahabatnya itu.
"Geo" sahut Virzan. "Ya? Kenapa Zan?" tanya Geo.
"Gak apa-apa, kangen aja sama lu" Virzan menjawab dengan pipi yang memerah. Cowok itu salting hanya karena mendengar suara Geo.
Erick menatap adiknya itu jijik, cowok itu sangat menggelikan dengan sikap malu-malunya. Pasalnya tingkah Virzan persis seperti seorang gadis yang tengah mengobrol dengan gebetannya.
"Tumben banget lu, kulkas" ucap Geo diiringi tawa kecilnya.
"Apaan, biasanya juga lu gak pernah jawab kalau di telpon" balas Virzan kesal.
"Hehehe, menata hati"
"Halah tai"
"ZAN BAGI DUIT ZAN!!!" suara teriakan Kanfa terdengar dari jauh. Virzan langsung menyalakan speaker begitu suara sahabatnya itu terdengar.
"Berisik anjing!" sahut Geo menatap sahabatnya itu kesal.
"PEWARIS TAHTA KAGA BOLEH PELIT" timpal Hiro tak mau kalah.
"Rusuh bener bocah herannn"
Virzan tertawa mendengar teriakan Kanfa dan Hiro yang disahuti oleh umpatan Geo. Virzan tau bahwa kedua sahabatnya itu pasti mengetahui tentang rahasianya mangkannya mereka merusuh seperti inu.
"Apasih ah, gua mau minta duit sma pewaris tahta" seru Hiro dari jauh.
"Bapak lu abis ngirim duit bego" seru Geo kesal. Hiro mengibaskan kedua tangannya. "Bodo amat. Lagian dia sepupu gua ya bajingan"
"Si bangsat ini"
"Udah-udah, nanti gua kirimin ya" ucap Virzan melerai keduanya.
"Jangan diturutin, magadir" ucap Geo yang kembali melirik keduanya. "Gak apa-apa, yo" balas Virzan lagi.
"Tuh yo dengerin, Virzan aja gak apa-apa. Posesif bener si kaya penganten baru" seru Kanfa.
"Lu magadir goblok"
"Bodo amaaaatttt"
Erick hanya bisa menggelengkan kepala nya, pusing jika harus menghadapi ketiga manusia ini.
"Kalian bertiga tuh udah kaya monyet yang sahut-sahutan di hutan tau gak?!" ujar Jeno yang baru saja datang.
Hiro, Geo, dan Kanfa menatap sinis ke arah Jeno.
"Apacih u, ikut-ikut aja bicik"
"Au bicik amat gak di ajak padahal"
"Au huh gak punya temen ya"
"Anjing!"
"Wkwkwkwk"
Virzan melirik ke arah sang kaka yang terlihat tenang. Cowok itu seolah tidak terpengaruh sama sekali ketika mendengar suara kekasihnya.
"Yo" panggil Erick. "Ya?" jawab Geo.
"Titip salam ya buat orang yang suka ngilang sama ngelanggar janji" ucap Erick dengan suara yang sengaja di besarkan.
Geo tertawa lebar. "Anjai-anjai"
"Bilangin juga, tenang aja gua gak bakal nungguin dia kok. semangat deh buat sekolah dan mimpinya, kalau ketemu yang baru jangan ditinggal tiba-tiba lagi ya" lanjut Erick.
"Aman Rick, pesan tersampaikan" seru Kanfa heboh.
"Oke siap"
Entah kenapa tapi kali ini Virzan merasa sangat bangga pada sang kaka. Erick sudah bisa mengendalikan dirinya setelah mendengar segala hal tentang Jeno.
"I'm so proud of you, bro" ucap Virzan setelah Erick keluar meninggalkan kamarnya.
"Brother goals banget ye kan" timpal Geo. Virzan terkekeh manis. "Jadi malu" cicitnya pelan.
"Apasih anjing cringe banget"
"Hehehehe"
Di luar kamar, Erick memejamkan matanya kemudian menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Usahanya tidak sia-sia untuk berdamai dengan keadaan. Ia bisa mengendalikan dirinya dengan sangat baik.
"Bagus, Rick. Kau harus pertahankan itu"
Erick kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil cemilan. Senyum puas dan perasaan lega memenuhi hatinya.
--
"Brian gak main sama Virzan nak?" Sofia bertanya pada Brian yang baru saja keluar dari kamar. Tidak biasanya anak itu masih ada di rumah saat hari sudah mulai siang.
"Virzan lagi main ke rumah Erick" jawab Brian mengambil tempat di samping sang mamah, Neoura.
"Kenapa tidak ikut?"
"Virzan pengen quality time katanya"
"Oh"
Neoura mengusap lembut rambut putra sulungnya itu. "Tugas sekolahnya sudah selesai?" tanyanya. Brian mengangguk. "Sudah mamah"
"Papah kemana?" tanya Brian saat tak melihat keberadaan sang papah.
"Di halaman belakang sama grandpa dan uncle Devan" jawab Neoura.
"Kenapa uncle Devan selalu datang dan pergi tiba-tiba ?" serunya dengan wajah polos.
Sofia dan Neoura tertawa. "Uncle mu harus mengurus Phoenix, sayang. Mangkannya dia suka menghilang tiba-tiba" jawab Sofia.
"Kenapa aunty Cassy tidak?"
"Karena aunty Cassy tidak akan selalu mengikuti kemana suaminya pergi"
"Oohh" Brian mengangguk paham. "Boleh Brian menyusul?"
Neoura mengangguk. "Tentu. Tapi jangan mengganggu ya? Perhatikan saja dari jauh"
"Siap bos" ucap Brian sambil memberikan gestur hormat. Kemudian anak itu berlari menuju halaman belakang mansion.
Sesampainya di halam belakang, Brian bisa melihat papahnya sedang membuat sesuatu dengan pakaian lengkap dan diawasi grandpa dan uncle.
"Apa papah sedang merakit bom?" gumamnya. Brian tau bahwa papahnya bisa merakit bom karena grandma sering menceritakan tentang anak-anak nya. Tapi ia sendiri tidak pernah melihat Javin melakukannya.
Brian hanya bisa memperhatikan dari jauh, seperti kata sang mamah bahwa ia tidak bisa mendekat apalagi mengganggu.
Tidak lama kemudian Javin bangkit dari posisi jongkoknya, menatap kedua orang yang mengawasinya kemudian mengangguk kecil. Kepalanya menoleh kebelakang mendapati putra sulungnya yang memperhatikan mereka dari jauh.
"Hai, son" sapa Javin. "Papah sedang apa?" tanya Brian.
"Melatih kemampuan papah"
"Merakit bom?"
Javin menggeleng. "Menjinakkannya"
"Waaahhh, keren"
"Sudah bereskan kamar mu?" Tanya Javin sembari berjalan mendekat.
"Kenapa?" Brian menatap Javin bingung.
"Besok adik mu pulang" jawab Javin. Mata Brian berbinar seketika. "Benarkah?" Serunya dengan antusias.
Javin mengangguk dengan senyum lebarnya. "Besok kita jemput dia di bandara ya"
"Yes. Aku akan segera bereskan kamar ku" Brian berlari kembali masuk ke dalam menuju kamarnya.
"Sekolahnya sudah selesai?" Tanya Revan. "Mereka ingin sekolah disini katanya" ucap Javin.
"Setidaknya Jesslyn akan punya teman nanti" ujar Devan.
Revan menatap putra sulungnya dengan satu alis terangkat. "Kaya yakin mereka bisa berteman?"
"Kita lihat saja" ketiganya tertawa kecil.
See you!