
Setelah makan malam dan membersihkan dirinya, Jeno memilih untuk bersantai di balkon. Cowok itu hanya mengenakan celana tidur dan kaos tanpa lengan. Padahal cuaca malam ini cukup dingin, bahkan Hiro dan Kanfa saja sampai membungkus tubuh mereka dengan selimut tebal.
"Ngapain Jen? Tumben amat bengong di balkon" Kanfa berseru dari sofa ruang tengah, cowok itu menatap bergantian kearah Jeno dan tv yang sedang menayangkan acara favoritenya.
"Kepo amat. Fokus aja ama tv" balas Jeno malas.
"Yeeuuu si anjir"
Hiro tertawa kecil. "Udah tau orang lagi galau malah lo gangguin" ucapnya.
Spontan Kanfa menampilkan cengirannya. "Seru aja bikin dia kesel"
Bruk.
Geo menjatuhkan tubuhnya di single sofa yang berada di depan Jeno, memperhatikan ekpresi Jeno dengan raut datar miliknya.
"Ngapa hah?!" Ujar Jeno dengan nada yang agak sewot.
Geo masih diam, tidak menjawab atau mengeluarkan suara sedikitpun. Putra sulung Galih dan Kevin itu masih fokus menatap wajah Jeno menyebalkan Jeno.
"Orang tua lo menurunkan banyak hal ke lo termasuk sikap tolol mereka soal cinta" ucap Geo dengan nada datar.
Mata Jeno memicing tajam saat mendengar kalimat yang diucapkan sahabatnya itu. Dirinya tidak suka dengan perkataan Geo yang seolah menganggapnya tolol.
"Apa maksud lo ngomong gitu?" tanya Jeno tak terima.
Satu alis Geo terangkat tinggi. "Kenapa? Enggak ada yang salah dari perkataan gua, bukan?" jawabnya dengan nada yang cukup menyebalkan bagi Jeno.
"Berisik!"
Jeno memilih untuk tidak meneruskan percakapan mereka atau dirinya dan Geo akan kembali berdebat panjang.
Geo tersenyum sinis, sangat tau tabiat Jeno yang tidak akan meneruskan pembicaraan ketika tau dirinya sudah kalah telak.
"Seandainya suatu hari nanti, Erick tiba-tiba menghilang dan lo gak tau dimana keberadaannya.... Apa yang bakal lo lakuin?" tiba-tiba saja Geo memberikan sebuah pertanyaan yang sangat tidak terduga bagi Jeno.
Putra kedua keluarga Scander itu terdiam sunyi. Netra hazel serupa sang ayah menatap lekat sosok sahabat kecilnya. Tidak ada raut marah atau pun kesal, Jeno justru terlihat linglung seperti orang kebingungan.
"Apa... Menurutmu Erick akan meninggalkan ku?" Dengan suara yang terdengar ragu Jeno bertanya.
"Hanya sebuah perumpamaan. Bayangkan saja jika hal itu terjadi" jawab Geo masih dengan ekspresi tenangnya.
"Erick tidak akan pernah meninggalkan ku" ucap Jeno berbisik kecil dengan nada suara yang terdengar tidak yakin.
"Berdoa saja agar dia tidak menyingkirkan mu dalam hati dan hidupnya" ucap Geo lagi.
Kepala Jeno menunduk, matanya bergerak acak seperti meyakinkan dirinya sendiri bahwa hal buruk itu tidak akan terjadi.
"Mau bertaruh?" Hiro bersuara mengalihkan atensi Jeno dan Geo menjadi menatap ke arahnya.
"Apa?" Tanya Geo.
Kanfa memukul pelan bahu Hiro. "Apaan anjir? Jangan main-main Lo!" Omel Kanfa. Hiro berdecak kecil. "Udah tenang aja"
Hiro kembali fokus pada dua orang yang masih duduk di balkon itu. "Kalo tebakan gua bener Lo kasih motor kesayangan Lo ke gua" ucap Hiro sambil menunjuk ke arah Jeno.
"Deal" jawab Jeno tanpa berfikir panjang karena Jeno tau dirinya yang akan memenangkan taruhan itu. "Apaan taruhannya?"
Senyum miring tercipta di bibir Hiro. "Erick gak akan pernah nyusul Lo ke sini" ujarnya dengan suara tegas dan sangat yakin.
"Gimana kalau lo kalah?"
"Gua kasih motor uncle Leo ke lo. How?"
Mendengar hal itu sontak membuat Jeno menyeringai. Jujur saja motor milik uncle nya itu sudah sangat lama ia incar, namun sayangnya uncle Leo lebih memilih untuk memberikannya pada Hiro karena uncle Leo khawatir motor kesayangannya akan berakhir di tempat pembuangan sampah. Mengingat Justin Scander sangat tidak suka dengan motor.
Alasannya sederhana, karena sang istri Isabella Courtland pernah kecelakaan saat mengendarai motor. Itu kenapa Jeno hanya di izinkan memiliki satu motor di rumah.
--
Tengah malam tiba-tiba saja Erick terbangun entah karena apa. Erick mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk di atas kasur. Satu tangannya terangkat memijat keningnya yang terasa pusing karena bangun tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba bangun gini?" gumam Erick. "Pusing banget"
Erick bergerak ke arah samping kanan, mengambil botol minum yang berada di atas nakas. Mungkin minum air putih bisa meredakan sedikit rasa pusingnya.
Setelah selesai Erick meletakkan kembali botol minumnya ke atas nakas kemudian memilih untuk berbaring dan melanjutkan tidurnya.
Namun setelah beberapa menit kedua matanya tetap tidak mau terpejam, bahkan rasa kantuknya pun kini sudah menghilang.
"Ck, bisa begadang sampe pagi nih" ucapnya kesal.
Erick memilih untuk turun dari ranjang, berjalan masuk ke arah walk in closet dan mengambil satu kaos hitam milik Jeno dari dalam lemari kemudian memakai nya setelah melepaskan baju tidur miliknya.
Mungkin hal ini bisa membantunya untuk tidur. Karena biasanya jika tidak bisa tidur, Erick selalu memeluk boneka pemberian Jeno dan itu cukup berhasil membuatnya tertidur lelap.
Erick kembali naik ke atas ranjang, mencoba untuk kembali tidur dan benar saja tidak butuh lama cowok itu pun akhirnya terlelap.
Pada kenyataannya dalam mimpi pun Erick tetap saja merindukan Jeno
See you!