
Beberapa minggu kemudian.
Sejak kejadian itu kini semuanya mulai kembali normal. Perlahan Isabella mulai memaafkan Ara dan Aldre, sesekali wanita itu akan mengirimkan makanan buatannya untuk Aldre, meski masih enggan bertatap muka langsung.
Justin sudah sadar, dua hari setelah pengobatan yang Isabella lakukan. Kondisinya bahkan sudah sangat pulih sekarang, Justin sudah mulai berani untuk lembur dikantornya. Meski harus mendapatkan siraman rohani dari sang istri dan keenam anaknya. Si kecil Fero bahkan ikut mengomel tiap kali ayahnya pulang telat.
Galih dan Kevin sudah berbaikan, tidak ada lagi masalah yang menyelimuti mereka. Semakin hari keduanya semakin mesra, kadang tidak ingat waktu dan tempat untuk bermesraan, sepertinya mereka lupa hika sudah memiliki dua orang anak yanh sama-sama sudah beranjak remaja.
Ara dan Aldre. Aldre masih senantiasa menjalani hukuman tentu saja, dan Ara menjalani hari-harinya sebaik mungkin. Sesekali Ara akan pergi ke kantornya ditemani Carissa atau kadang hanya berdua dengan Henry jika Carissa tidak bisa menemaninya. Tapi terkadang juga, Ara akan duduk diem didepan pintu menuju ruangan bawah tanah. Hal itu ia lakukan jika sedang rindu dengan Aldre, itu cukup membuat anaknya tenang karena berada dijarak yang dekat dengan sang ayah.
"Sudah berapa jam kamu duduk disini, little princess?" Sofia mendekati sang putri yang termenung didepan pintu berwarn hitam tersebut.
Sudah yang kesekian kali wanita paruh baya itu mendapati putri bungsunya melamun didepan pintu besar ini.
"Ayao kembali ke kamarmu sayang, ini sudah malam" ucap Sofia.
Ara mendongak menatap wajah mamahnya. "Sebentar lagi ya mah, Ara masih pengen sama Aldre" pintanya lirih
"Papah belum tidur, mamah gak mau Ara diomelin papah lagi seperti kemarin. Ayok mamah antar kekamar"
Ara bergeming, tidak bergerak sedekitpun dari tempatnya.
Sofia tersenyum makalum dengan tingkah calon ibu muda ini. "Bibi Riyani sudah mengantarkan pakaian Aldre tadi sore"
Ara menoleh cepat kearah sang mamah dengan senyum sumringah dan matanya yang berbinar. "Benarkah?"
"Mm. Jadi ayo kembali ke-- ARA JANGAN BERLARI!!"
Dengan secepat kilat, Ara bangkit dam berlari menuju kamarnya membuat Sofia panik bukan main.
"Haisshh anak itu" desahnya lelah.
"Kenapa sih teriak-teriak?" Tubuh Sofia sedikit tersentak karena mendapat pelukan tiba-tiba dari suaminya. "Noh putrimu, lari-larian gak inget dia lagi bawa anaknya" Sofia berseru sebal.
Revan terkekeh. "Emangnya gak inget kamu dulu gimana waktu ngandung Devan? Ngambek sama aku sampai guling-gulingan di rumput" goda Revan yang membuat wajah Sofia memerah malu.
Dengan penuh cinta Sofia menginjak sebelah kaki Revan dengan kakinya yang masih mengenakan heels, membuat suaminya meringis kesakitan.
"Rasakan itu, dasar menyebalkan!!" Kemudian Sofia berlalu meninggalkan Revan yang meringis menahan sakit dipunggung kakinya.
"Kejam sekali" cicit Revan.
Revan tersenyum miring kemudian melangkah menyusul Sofia yang sudah tak menghilang dari balik tembok. "Menggemaskan sekali"
.
Begitu tiba didalam kamar, Ara langsung bergegas masuk kedalam ruang ganti miliknya. Wanita hamil itu menggeledah seluruh isi lemari miliknya untuk mencari tas atau koper milik sang kekasih, namun Ara tidak menemukan benda itu.
"Mamah bohong ya?" Bibirnya mencebik bergetar dengan masa yang berkaca-kaca.
Ara hampir saja menangis jika tidak merasakan sebuah benda keras yang tidak sengaja didudukinya begitu ia menjatuhkan dirinya ke sofa.
"Eh?"
Ada sebuah koper berwarna hijau gelap diatas sofa. Koper yang Ara tau jelas bahwa itu bukanlah miliknya. Kedua sudut bibir wanita itu tertarik membentuk senyuman indah. Tanpa banyak berkata Ara membuka koper itu dan benar saja isinya adalah beberapa potong pakaian milik kekasihnya.
Ara mengambil kaus V-neck berlengan pendek, memeluknya erat, dan mencium aromanya dalam-dalam. Aroma khas milik Aldre yang tertinggal disana, seketika membuat perasaan rindu Aa sedikit berkurang.
Ara melepaskan baju yang dikenakannya lalu memakai kaus milik Aldre, dengan begini dirinya akan tidur dengan nyenyak setiap malam.
.
Diruang bawah tanah. Aldre mendengus geli setelah membaca surat yang dikirimkan sang ibu, dimana isinya adalah pemberitahuan bahwa setengah dari pakaian miliknya kini sudah berpindah dan berada didalam lemari kekasihnya yang kini tengah mengandung anak mereka.
Aldre melirik meja disebelahnya yang terisi beberapa snack dan botol air mineral, juga lampu kecil untuk sedikit memberikan cahaya untuknya. Walau sebenarnya ruang bawah tanah itu tidak terlalu gelap karena ada lampu yang menerangi meski agak remang.
"Nona sering kali duduk didepan pintu ruangan ini agar bisa lebih dekat dengan anda, tuan Aldre" ucap Henry tiba-tiba.
Aldre mendongak, menatap remaja 18 tahun yang bertugas menjaganya. "Benarkah?"
"Ya. Nona melakukannya setiap malam. Sepertinya adik bayi tidak ingin jauh dari daddynya" jawab Henry.
"Jadi karena itu pakaianku dipindahkan kekamarnya"
"Mm. Nona Isabella hampir membakar seluruh pakaian anda jika saja tidak dihentikan oleh tuan Justin dan nona Ara yang menangis histeris karena pakaian anda hilang dari dalam lemarinya"
Pikiran Henry menerawang kejadian seminggu yang lalu saat Isabella baru mengetahui bahwa pakaian Aldre dikirim kerumah ini. Remaja 18 tahun itu sampai bersembunyi dibalik tubuh Jos, sang paman karena takut melihat Isabella yang tiba-tiba mengamuk dan menyalakan api besar didalam rumah. Bagusnya rumah besar ini tidak terbakar.
Tawa kecil Aldre mengalun ditelinga Henry membuat remaja itu mendengas. "Saya sampai harus bersembunyi dibalik tubuh paman Jos karena nona Isabella menyelakan api didalam rumah" serunya ketus.
"Maaf ya Henry, aku dan Ara banyak merepotkanmu" ucap Aldre tulus.
"Memang. Saya akan minta bayaran besar setelah ini"
Aldre meringis. Like father like son. Bocah ini benar-bena mirip dengan daddynya.
"Kau benar-benar anaknya ka William ternyata"
"Kekekeke"
.
.
"Kamu gak mau ngasih teman buat keponakan kita nanti?"
Galih mendelik kearah suaminya. Sejak mereka baikan, Kevin terus merayunya untuk mempunyai anak lagi tapi dirinya menolak dengan keras. Hormon suaminya bertambah 100x lipat ketika dirinya hamil, dan Galih sama sekali tidak bisa menolak keinginan suaminya karena orang hamil umumnya juga memiliki hormon yang besar.
"Diam hubby! Tutup mulut sialanmu itu atau aku akan mengamuk lagi padamu!" Ancamnya.
Kevin memasang ekspresi memelasnya. "Ayolah Love, aku ingin sekali memiliki bayi kecil lagi. Ya ya ya ya"
"Tidak mau sialan! Kau saja yang mengandung sana!!"
"Kau sudah tidak menyayangiku, love" bibir Kevin mencebik, matanya berkaca-kaca siap untuk menangis.
Galih mengacungkan jari tengahnya membuat kedua anaknya tertawa geli. Omong-omong keduanya memang bertengkar didepan anak-anak mereka karena baru saja menyelesaikan makan malam mereka yang kemaleman.
"Aku tidak perduli bajingan!! Persetan dengan ***** sialanmu!"
"Love!! Anak-anak mendengarnya bajingan!"
"Kau yang bajingan, brengsek! Menjauh dariku! Dasar pria mesum!!"
"DASAR PECINTA GENGSI!!" Kevin berteriak lantang saat Galih meninggalkannya untuk menaruh piring ke dapur.
Acungan jari tengah kembali Kevin terima sebelum sang istri menghilang dibalik tembok dapur.
Keano dan Kiransa hanya bisa menertawakan tingkah kedua orang tuanya. Mereka lucu jika sedang bertengkar seperti ini.
.....
T b c?
Bye.