
Pagi harinya
Seluruh anak buah Roxy tengah bersiap untuk penyerangan yang akan mereka lakukan hari ini. Informasi tentang lokasi Aldre sudah mereka dapatkan.
Roxy berjalan keluar dari pintu utama, diikuti Thomas dan Metio dibelakangnya. "Dimana gadis itu? " Tanya Roxy mencari Sin. Sejak kemarin Sin tidak terlihat sekalipun.
"Nona Sin pamit keluar pagi-pagi sekali, bos" ucap salah satu anak buah yang berdiri tidak jauh darinya.
"Ck! Dasar gadis bodoh, apa dia ingin melewatkan kesempatan berharga ini? Biarkan saja dia menyesal"
Metio menepuk pundak sepupunya. "Kau tau apa yang harus kau lakukan jika kau gagal kan, Thom? " Tanya Metio.
Thomas mengangguk. "Aku kau, kau jangan khawatir" ucapnya mantap.
"Kalau begitu, berhati-hatilah! "
"Kalian sudah selesai bicara? Ayo kita berangkat sekarang" ujar Roxy.
Satu persatu dari mereka mulai masuk kedalam mobil, meninggalkan Metio yang masih berdiri menatap jejeran mobil hitam itu keluar.
"Aku tidak berharap kau selamat, Thomas. Tapi semoga tubuhmu masih tetap utuh" Metio melangkah masuk kedalam mansion.
Tidak butuh waktu lama bagu Roxy dan anak buahnya untuk tiba di tempat persembunyian Aldre.
Roxy dan Thomas turun dari mobil, diikuti oleh anak buahnya. "Tempat ini serasa tidak asing bagiku" ujar Thomas.
"Benarkah? Ingat-ingatlah siapa tau kau mengenali tempat ini" ucap Roxy. Matanya menelusuri setiap sisi bangunan.
Thomas menunduk, matanya terpejam mencoba mengingat bangunan yang tidak asing baginya ini.
"Damn! "
Roxy menoleh heran. "Ada apa? " tanyanya bingung. "Bangunan ini.... Adalah markas tempatku dan teman-temanku berkumpul. Kejadian enam tahun lalu terjadi disini! " serunya cepat.
"What the ****?! "
Suara siulan kencang terdengar. Spontan semuanya menoleh keatas. Disana tepat di balkon lantai dua, sosok yang mereka incar tengah berdiri dengan seyum sombongnya.
"Aldre!! " desis Roxy marah.
Thomas tertegun menatap Aldre. Lelaki itu jauh berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Banyak sekali perubahan yang bisa ia lihat, terutama pada badan dan wajahnya.
Dulu, Aldre bahkan tidak sebanding dengan tubuhnya yang tegap dan lebar. Tapi sekarang lelaki itu bahkan lebih besar darinya, juga rahang tegas yang luar biasa kokoh. Sudah bisa ia pastikan satu pukulan telak dari lelaki itu akan menghancurkan rahangnya.
"Pecundang dan pecundang menjadi satu kubu, heh?" Ujar Aldre memanasi.
Roxy menggeram, tangannya yang memegang pistol semakin mengeratkan genggamannya. "DIAM KAU BRENGSEK!! "
"AKAN KU PASTIKAN KAU MATI KALI INI!! "
Aldre tersenyum miring, "really!! Let's see"
"SERANG!!! "
Teriakan Roxy menggema, memerintahkan seluruh anak buahnya menyerang tempat itu. Satu persatu dari mereka mulai berlomba untuk masuk. Pintu utama yang tadinya berdiri kokoh kini sudah tak berbentuk.
"Bodoh! " desis Aldre. Lelaki tampan itu melangkahkan kakinya santai menaiki tangga menuju rooftop.
Pintu rooftop terbuka, menampilka. Sebuah helikopter besar yang bersandar apik diatas landasan.
Brendon mendekat, menunduk hormat pada bosnya. "Semuanya sudah siap, tuan! Kita bisa pergi sekarang"
"Jangan terburu-buru, aku masih ingin menyaksikn hasil akhirnya" ucap Aldre. Brendon mengangguk, kemudain membukakan pintu helikopter.
Di lantai satu.
Thomas dan Roxy, beserta seluruh anak bawah mereka masih bertarung melawan anak buah Aldre. Keduanya kini kewalahan akibat musuh mereka yang tak kunjung berkurang.
"Kau dengar itu? Suara helikopter!"
"Brengsek!! Bajingan itu melarikan diri! "
"Tidak ada helipad disini"
"Ck! Kejar dia bodoh. Rooftop dia pasti di rooftop!! " Thomas berlari menuju anak tangga, disusul Roxy dibelakangnya.
Suara baling-baling helikopter makin terdengar jelas ditelinga mereka. Membuat kedua orang itu mempercepat langkah kaki.
Roxy mendobrak pintu rooftop, tepat setelah helikopter yang Aldre tumpangi melepaskan diri dari landasan.
"Kalian punya 3 menit untuk meninggalkan seluruh markas! " ucap Aldre pada seluruh anak buahnya lewat monitor.
Mereka yang tadinya tengah bertarung kini perlahan mulai berpencar untuk keluar dari sana, meninggalkan anak buah Roxy yang kebingungan.
Setelah memastikan semua anak buahnya keluar, Aldre kembali berbicara. "Nikmati kembang apimu, sepupuku sayang! "
DUARRR DUARRR!!
Tepat setelah Aldre menyelesaikan ucapannya sebuah ledakan besar terdengar. Roxy dan Thomas merunduk, melindungi kepala mereka dengan lengan.
"Sial, Roxy!! Kita bisa mati jika terus berada disini! " teriak Thomas. "Lalu bagaimana sekarang bodoh!! Tidak mungkin kita turun!! " Roxy menyahut marah.
"Lompat!! "
"Apa?! "
"Lompat brengsek!! "
"Kau gila?! "
"Tidak ada pilihan lain sialan!!! Kecuali kau ingin mati!! " Thomas berlari kearah pembatas. Naik keatas pembatas setinggi 1 meter tersebut, kemudian lompat dari sana.
"Argggghhhh brengsek!!! " Roxy berlari menyusul Thomas yang sudah sampai ditanah lebih dulu.
BUGGG
Roxy meringis, merasakan sakit luar biasa ditubuhnya. Beruntung mereka terjatuh diatas rumput yang cukup tebal. Setidaknya kondisi mereka tidak akan seburuk yang dibayangkan.
Skip
Thomas dan Roxy kini sudah kembali ke mansion, setelah mendapat peraeatan singkat dirumah sakit. Keduanya mengalami cedera punggung yang cukup parah.
"Bagus sekali kalian masih hidup! " celetuk Sin mengejek.
"Jadi, Aldre kabur? " Tanya Metio. Thomas mengangguk, "dia menjebak kita, sengaja membocorkan informasi keberadaannya"
"Setidaknya kau masih hidup"
"Dan, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Sin! Darimana kau? " Metio menatap Sin.
Sin menyeringai. "Bawa dia masuk! " perintahnya.
Dua orang lelaki bwrbadan brsar terlihat menyeret masuk seseorang yang kepalanya ditutup kain. Dari pakainnya bosa terlihat bahwa orang itu adalah seorang wanita.
"Who? " Tanya Roxy.
"Buka kainnya! " perintah Sin. Thomas membelalak begitu tau siapa sosok itu. "WHAT THE ****!! "
.....
T B C?
BYE!