
Setelah makan malam, Isabella dan Jesslyn langsung menuju kamar Erick. Keduanya membantu Jeno mengemas beberapa barang belum sempat lelaki itu siapkan.
Jeno terduduk di atas karpet ruang ganti miliknya. Hanya terdiam menyaksikan bunda dan adiknya tanpa melakukan apa pun.
"Masih ada waktu untuk menunda keberangkatan mu sampai minggu depan, Jeno" masih dengan usahanya, Isabella mencoba membujuk sang putra untuk menunda keberangkatannya.
"Jeno sudah mengatakannya, bunda. Dan Jeno tidak akan mengulanginya lagi" balas Jeno tegas.
Isabella hanya bisa menarik nafas pasrah. Putranya yang satu ini sama keras kepalanya dengan sang ayah.
"Bagaimana Erick?" tanya Jesslyn.
"Bagaimana apanya?"
"Kamu sudah bilang sama Erick, kan? Awas aja kalau kamu belum bilang!"
"Hm"
"Hm apa?!"
"Iya, aku sudah bilang! Lama-lama kau sama cerewetnya dengan Jovan"
"Nyenyenye. Erick pasti sekarang lagi nangis"
"Tentu saja, dia akan kehilangan pujaan hatinya" sahut Jovan yang baru saja masuk ke dalam kamar Jeno bersama Jeven di sebelahnya.
Jeno memutar matanya malas. Sebentar lagi dia pasti akan kembali mendengar ocehan tidak jelas kedua saudaranya itu.
"Tadi Keano menelpon, dia bilang Geo sudah tiba" ucap Jeven. "Woah? Geo pulang?" tanya Jesslyn dengan ekpresi terkejutnya.
Jeven mengangguk singkat sebagai jawaban. "Kenapa dia pulang?" tanya Jesslyn lagi. "Tentu saja menjemput kaka mu. Dia takut soulmatenya tersesat" sahut Jovan.
"Semakin lama kau semakin mirip ibu-ibu komplek. Tidak mau bergabung dengan grup arisan?" ledek Jeno.
"Berisik!!"
"Kkkkkkk"
Isabella tidak menghiraukan perdebatan ketiga anak kembarnya, Netra abu gelapnya hanya fokus menatap putra sulungnya setelah mendengar satu nama yang keluar dari mulut Jeven.
"Jangan temui dia, Jeven" ucap Isabella memperingati. "Jeven tau bunda" ucap Jeven lirih.
**
Setelah acara beberes dan bergosip ria, semua orang sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Kini menyisakan Jeno sendirian di dalam kamarnya.
Sejak lima belas menit yang lalu, yang Jeno lakukan hanya menatap sendu layar ponselnya yang mati. Dirinya mencoba menghubungi Erick, tapi sang pujaan hati tidak menjawab satu pun panggilannya.
"Kamu akan mengantarkan aku ke bandara kan, Rick?" gumamnya lirih pada dirinya sendiri.
"Hah.... Harusnya aku bicara pada mu sejak awal"
"Pertengkaran kita kemarin menyita waktu yang sudah ku siapkan"
Jeno memejamkan matanya, memilih untuk mulai berkelana ke alam mimpi. Tanpa tau bahwa sang pujaan hati sudah lebih dulu tertidur setelah makan malam selesai karena kelelahan menangis.
**
Ke esokan paginya.
Paginya mansion Scander sudah ramai oleh para sanak keluarga yang datang. Mereka berkunjung untuk bertemu Jeno yang akan melanjutkan studinya keluar negeri.
Tidak hanya keluarga Courtland dan Scander, keluarga Skholvies dan yang lain pun datang berkunjung. Mengingat mereka semua tidak bisa mengantar si empu ke bandara esok hari.
Para orang tua berkumpul di ruang tamu, mengobrol sambil sesekali bersendau gurau.
"Ya, ibu" jawab Isabella dengan nada tak kalah lembutnya.
"Tidak bisakah keberangkatan Jeno di tunda dulu?" tanya Riani pelan. Isabella menggeleng dengan wajah pasrah. "Tidak bisa, ibu"
"Kenapa?"
"Isabella sudah merayunya untuk berangkat bersama Jovan nanti. Tapi Jeno menolak, dia ingin tetap pada keputusannya, ibu. Bahkan ayahnya juga sudah membujuknya, tapi jawabannya tetap sama"
"Ibu hanya tidak tega pada Erick. Anak itu menangis semalaman"
"Tadinya Jeno tidak ingin memberitahu Erick, agar dia tidak merasa berat saat berangkat. Tapi Jovan bilang, bagaimana pun Erick harus tau, agar dia tidak merasa bahwa Jeno meninggalkannya begitu saja"
"Ibu mengerti. Tapi yasudahlah, jija itu memang keputusannya, ibu tidak bisa berbuat apa-apa"
"Apa Erick akan datang, bibi?" tanya Neoura. Riani mengangguk. "Dia akan datang sebentar lagi"
Tidak lama kemudian, yang sebelumnya di bicarakan pun akhirnya datang. Bersama kedua orang tuanya, sang adik, dan juga sepupunya, Geo.
Isabella melirik putra sulungnya begitu netra abunya menangkap sosok Geo yang melangkah masuk ke dalam rumahnya. Tapi sayangnya, Jeven sama sekali tidak menyadari lirikan sang bunda, anak itu hanya fokus pada sosok yang sudah lama tidak di temuinya itu.
"Bodoh" cibir Isabella dengan suara kecil.
"Syalom, bunda. Syalom, ayah" sapa Geo hangat pada Isabella dan Justin.
Keduanya tersenyum lembut. "Syalom, Geo. Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Balas Isabella.
"Baik. Sangat baik. Kalian?"
"Kami juga baik, nak. Kau pasti pulang hanya untuk menjemput Jeno kan?" Goda Justin. Geo terkekeh kecil, kemudian mengangguk tanda membenarkan.
"Kalau begitu, Geo mau menghampiri yang lain dulu ya, ayah bunda"
"Iya, silahkan nak"
Geo berlalu dari hadapan keduanya, menyapa paa orang tua yang lain sebelum akhirnya menghampiri teman-temannya.
"Aiisshh anak itu" desah Isabella. "Sudahlah, bee. Biarkan saja dia, sebentar lagi juga mereka berpisah lagi" ucap Justin.
"Terserahlah"
*
"Yooo, ma bro Geo akhirnya kombakkkk" seruan kencang Brian membuat Geo tertawa. Remaja 14 tahun itu dengan cepat memeluk erat tubuh sang sahabat yang hampir dua tahun belom di temuinya.
"Kangennn banget gua Ge. Betah amat di negeri orang Lo!!!" Protest Brian pada Geo yang sudah satu setengah tahun ini tak pernah pulang ke LA.
"Iya ini kan pulang, gua" ucap Geo membela diri.
"Apaan!! Lo pulang buat jemput Jeno doang abis itu pergi lagi"
"Yang penting ketemu"
"Bawel Lo ah, Bri. Minggir Lo!! Gua mau meluk sohib gua" tanpa perasaan, Virzan mendorong tubuh bongsor Brian dari Geo. Padahal posisi Brian tidak menghalangi sama sekali.
"Yeee, si anjir"
****
T B C?
BYE!