
"Geo masih belum balik?" Jeno menatap Kanfa dan Hiro bergantian. Keduanya menggeleng tanda tidak tau kemana Geo.
"Coba telpon" ucap Jeno lagi. Ponselnya kehabisan daya dan ia lupa membawa power bank tadi, jadi baru sempat mengisinya begitu tiba di kamar.
Kanfa mengeluarkan ponsel miliknya jarinya bergulir cepat mencari nomor Geo. Setelah ketemu, ia langsung menekan tombol panggilan dan menempelkan ponselnya ke telinga.
Deringan pertama, deringan kedua, sampai deringan kelima masih tidak ada jawaban dari Geo.
"Gak di jawab" ucap Kanfa. Ia mencoba sekali lagi untuk menelpon Geo namun hasilnya sama, di percobaan ketiga nomor Geo justru tidak aktif.
"Malah gak aktif nomornya" ucap Kanfa menatap ke arah Jeno.
Kening Jeno mengkerut dalam, tidak biasanya Geo mengabaikan telpon dari mereka bertiga di tambah Geo pergi selama ini tanpa mengabari siapapun.
"Coba lacak nomornya" perintah Jeno lagi. Kanfa mengangguk paham dengan segera mencari lokasi dimana keberadaan Geo.
Di rumah Jeven...
Kegiatan Jeven yang tengah asik memandangi Geo di instrupsi oleh suara deringan ponsel. Kedua remaja beda usia itu tersentak dengan suara nyaring ponsel yang cukup keras.
"Ponsrl kamu?" tanya Jeven sambil menelisik ke arah kantung celana Geo. Sedangkan si empu hanya mengangguk kaku sebagai jawaban, masih tidak berani membuka suara.
"Siniin" ucap Jeven dengan nada ketus.
Dengan ragu Geo mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan memberikannya pada Jeven. "Abang mau ngapain?" tanya Geo takut.
Jeven tidak melakukan apapun pada benda pipih berwarna hitam dengan casing biru bertuliskan Geano di bagian belakangnya itu. Ia hanya menatapnya dan membiarkan panggilan tersebut mati dengan sendirinya.
Namun belum sempat Jeven meletakkan ponsel Geo, benda pipih itu kembali berdering dan menampilkan nama yang sama di layar. Setelah panggilan tersebut kembali mati, Jeven akhirnya memutuskan untuk mematikan ponsel Geo agar tidak ada yang mengganggu mereka lalu memasukkannya ke dalam saku celana miliknya.
"Handphone Geo--" ucapan Geo terhenti ketika Jeven melayangkan tatapan tajamnya.
"Nanti abang kembalikan kalau urusan kita sudah selesai" seru Jeven.
Geo hanya bisa menghela nafas pasrah tanpa berani untuk membantah. Ia kembali menundukkan kepalanya tidak mau menatap ke arah Jeven.
"Mau sampai kapan kamu nunduk kaya gitu? Abang gak akan pulangin kamu sebelum kamu mau jujur sama abang" ucap Jeven dengan nada datar.
Geo masih tidak bergeming dari posisinya, ia bahkan memilin jari-jarinya demi mengontrol rasa takut yang menghinggap.
"Geo" panggil Jeven. "Yaudah kalau gitu, abang ngurung kamu disini sampai kamu mau bicara" Jeven hendak bangkit dari posisinya namun Geo lebih dulu menahannya.
"Abang, Geo gak kenapa-napa Geo gak menghindar dari abang. Geo cuma mau fokus sekolah aja abang" ucap Geo yang akhirnya memberanikan diri membuka suara.
Kedua netra cokelat Geo menatap sendu kearah netra kelam milik Jeven. Sorot matanya mencoba meyakinkan cowok itu akan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Bohong" sergah Jeven tak percaya. Kepala Geo menggeleng ribut, "Geo tidak berbohong. Abang bisa lihat sendiri gimana keadaan Geo saat ini, Geo tidak mau memikirkan hal lain. Geo bahkan tidak bicara pada papah" jelasnya kembali meyakinkan Jeven agar percaya padanya.
"Bukan karena abang dekat keano?" tanya Jeven dengan mata memicing.
Geo kembali menggeleng. "Geo tidak perduli dengan hubungan kalian" jawabnya acuh.
"Baiklah, abang percaya" dengan lembut Jeven menarik Geo ke dalam pelukan hangatnya yang diterima Geo dengan senang hati.
--
"Ketemu?" Jeno menatap layar ponsel milik Kanfa dengan perasaan cemas. "Lokasinya di hutan pinus" jawab Kanfa.
"Hutan pinus? Ngapain Geo ke hutan pinus?" seru Hiro. Wajahnya menampilkan ekspresi bingung.
Kanfa menggeleng tanda dirinya tidak tau sedangkan Jeno terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Hutan pinus.... Abang kan suka hutan pinus" gumamnya yang masih dapat di dengar Kanfa dan Hiro.
"Apa Geo sama abang?" Jeno bertanya pada dirinya sendiri.
"Lah ? Bang Jeven ngapain di Jerman? Emang gak kuliah?" Tanya Hiro.
Pertanyaan Hiro cukup membuat Jeno menyadari satu hal, sepertinya abangnya itu kabur dan datang ke Jerman tanpa sepengetahuan siapapun.
Jeno bergegas masuk menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya yang sedang diisi daya. Jarinya bergulir cepat mencari nomor sang abang dan langsung menghubunginya. Namun sayangnya cowok yang lebih tua tiga tahun darinya itu sama sekali tidak menjawab panggilannya.
"Balikin Geo atau Jeno bakal bilang bunda kalau abang kabur dari rumah" - send.
Jeven menatap kesal layar ponselnya yang menampilkan pesan dari Jeno. Bagaimana bisa adiknya itu tau bahwa Geo ada bersamanya?
"Siapa?" Tanya Geo yang penasaran. "Jeno. Dia tau kamu sama abang" jawab Jeven tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ouh.... Gps nya masih bisa di lacak ternyata" ucap Geo lirih.
Jeven menoleh cepat ke arah Geo. "Apa?"
"Hah? Kenapa?" seru Geo pura-pura tidak tau.
"Kamu ngomong apa barusan?" tanya Jeven.
Geo menggeleng kecil. "Geo gak ngomong apa-apa" ucapnya. "Apa Geo bisa pulang?" tanya Geo lagi.
"Besok" jawab Jeven dengan nada ketus.
"Ish. Setidaknya kasih Geo makan dong, laper tau" cibir Geo. "Ouh? Kamu belom makan?" tanya Jeven tanpa dosa.
Geo menatap sinis ke arah Jeven, waktu makan malam saja belum mulai bagiamana bisa dirinya sudah makan?!
"Dasar gila" umpatnya pelan.
Jeven hanya menampilkan senyum tipis, kemudian berjalan keluar kamar meninggalkan Geo tanpa mengucapkan apapun.
----
See you!