Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
159



"Udah lama banget kita gak ngumpul kaya gini" celetuk Jason.


Isabella mendengus, padahal lelaki itu sering datang ke mansionnya hanya untuk mengacak-acak seisi mansion.


"Cih! Padahal setiap hari kau datang ke sini hanya untuk mengganggu" cibirnya.


"Lagi pula ini mansiom kakak ku" balas Jason tak terima. "Oh benarkah? Haruskah aku menunjukan sertifikatnya pada mu?" Ledek Isabella dengan ekspresi super menyebalkannya.


Jason menggeram kesal, jika tidak takut pada wanita di depannya ini, Jason pasti dengan suka cita melayangkan pukulan mautnya.


Galih, Darren, Steven hanya memandang keduanya geli. Jika bertemu si bungsu dan si sulung di antara mereka ini pasti selalu seperti orang mau tawuran yang saling melempar ejekan untuk memancing lawan.


"Beranten mulu gak cape?" Tanya Steven lelah.


"Gak!!" Jawab keduanya kompak. "Busettt, selow men selow"


"Hahaha"


"Oh iya Dar, gimana Sin?" Galih menata Darren.


"Lo mau tau yang mana dulu?" Darren balik bertanya.


"Semuanya"


"Baik. Dia jauh lebih baik sekarang, cerewetnya masih sama kaya dulu" Darren menarik nafas pelan sebelum melanjutkan perkataannya.


"Tapi gua rasa sekarang ini dia lagi deket sama seseorang atau ada yang deketin dia. Beberapa hari ini dia sering misuh-misuh sambil ngeliat ponsel, tipikal Sin kalau lagi ada yang deketin tapi dia risih" jelas Darren.


"Cepet banget udah dapet ganti Aldre" ucap Steven.


"Tapi Carissa malah ngurung diri beberapa hari ini, persis cewek patah hati. Baru kemaren dia keluar kamar lagi buat kerja" timpal Jason seketika ingat sang adik yang beberapa hari lalu mengurung dirinya di kamar tanpa alasan.


Tidak ada suara yang keluar dari mereka. Ke empatnya kompak menatap ke arah satu-satunya wanita di antara mereka yang hanya menampilkan senyum simpul miliknya.


Galih memajukan tubuhnya, wajahnya tepat berada di hadapan Isabella. "Tuang" bisiknya singkat. Siap menerima gosip apa pun dari soulmatenya itu.


"Just wait" jawab Isabella singkat.


"Yaaaahhhhh" ******* kecewa meluncur dari bibir ke empat lelaki tampan itu.


"Penonton kecewa bungggg" seru Darren mengajukan protesnya.


"Padahal pop cornnya hampir jadi" sahut Steven.


"Kecewa kecewaaaaa" teriak Galih cukup keras.


"Wkwkwkwk"


"Orang gila"


"Oh iya de, Sin tanya apa dia boleh bekerja? Rencananya jika kau mengijinkan, aku akan memindahkan butik miliknya di spanyol ke sini" ucap Darren.


"Sure. Dia boleh melakukan apa pun selama itu bukan hal buruk" jawab Isabella tersenyum.


"Yas. Bantu aku ya, aku butuh biaya banyak"


"Yeee asu"


"Apa? Halo? Oh iya iya"


"Mules anjing"


"Aduuuhhh ducati makin kinclong semiwrieinggg"


"Punya temen kaya bangsat semua"


"Wkwkwkwwk"


*


*


"Gimana kerjanya?"


Carissa menatap kesal kaka sepupunya. Padahal sudah dirinya katakan untuk pura-pura tidak mengenalnya, tapi lelaki itu malah menghampiri meja kerjanya. Dan kini semua orang memandangnya bingung sekaligus terkejut.


"Kenapa? Kaka cuma mau mastiin kamu kerja dengan nyaman" ucap Justin santai. Tidak terpengaruh dengan tatapan kesal adiknya.


"Aku kan udah bilang pura-pura gak kenal sama aku" keluh Carissa dengan nada frustasi.


Setelah alis Justin terangkat. "Apa sih. Kalo ngomong tuh yang jelas"


"kakakakaaaaaaaa" teriak Carissa kesal.


"Sssttt berisik! Kamu ganggu orang kerja"


"Pergi sana. Kaka ganggu aku kerja!"


"Bodo amat!"


"Pergi gak!"


"Iyaiya galak banget"


Justin pun melangkah pergi dari sana setelah menitip pesan pada ketua divisi tempat Carissa bekerja untuk menjaga sang adik.


Carissa begitu kesal sekarang, padahal dirinya ingin di perlakukan sama seperti karyawan yang lain, tapi kaka sepupunya itu malah menganggu rencananya. Jika sudah begini pasti yang lain akan segan berteman dengannya atau yanh lebih buruk dirinya akan menjadi bahan gosip karena berhasil lolos lewat orang dalam.


"Dasar menyebalkan"


"Harusnya aku melamar di perusahaan saingannya, biar dia tau rasa"


Dengan perasaan kesal Carissa kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kehadiran Justin tadi. Dirinya harus segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam makan siang karena akan ada rapat divisi nanti.


*


Di dalam ruang kerja Justin, Javin, dan Evan yang sejak tadi menunggu kedatangan si pemilik ruangan itu terheran. Pasalnya Justin datang dengan tawa lebar. Keduanya khawatir lelaki itu kerasukan penunggu perusahaan, kesian adik dan keponakan mereka nantinya.


"Apa kau gila?" Ucap Javin heran.


Justin menghempaskan tubuhnya di sofa tepat di setelah sahabatnya. "Aku masih waras tentu saja"


"Tapi tingkah mu seperti orang gila"


"Sialan"


"Ngomong-ngomong dari mana kau?" Tanya Evan.


"Melihat Carissa. Hari ini hari pertamanya bekerja" jawab Justin menyalakam rokok miliknya.


"Dia bekerja di sini?"


"Mm. Aku juga terkejut saat melihatnya menjadi salah satu peserta interview. Dia tidak bilang pada ku sebelumnya"


"Dia ingin mandiri"


"Itu benar. Dia marah-marah saat aku mengganggunya tadi"


"Karena itu kau tertawa seperti orang gila?" Timpak Javin. "Hehehe"


*


Pukul empat sore Carissa keluar dari perusahaan. Gadis itu baru saja selesai melakukan rapat dan memutuskan untuk langsung pulang karena kepalanya terasa begitu pening.


Langkah Carissa di hentikan oleh seseorang yang berdiri tak jauh dirinya. Bersandar pada bagian depan mobil dengan pakaian kerja yang masih lengkap menempel pada tubuhnya. Carissa berbalik, melangkah menjauh secepat mungkin dari sana dan berjalan menuju halte terdekat.


"Kenapa lelaki itu ada di sini?" Gumamnya resah. Sesekali Carissa menoleh ke belakang memastikan sosok itu tak melihatnya.


Begitu tiba di halte, Carissa langsung mendudukan dirinya di atas bangku panjang, mentralkan nafasnya yang memburu. Carissa kembali menoleh, sosok itu sudah tidak berada di sana. Sepertinya sudah pergi.


"Mencari seseorang?"


"akhh"


suara seseorang tepat di telinganya membuat Carissa terkejut. kepalanya menoleh cepat mendapati sosok yang di hindarinya sudah berada di sebelahnya.


"hai" sapa sosok itu.


Carissa terdiam. menguncu mulutnya dengan rapat, tidak ingin mengeluarkan seatah kata pun untuk menjawab lelaki di sebalahnya ini.


"ayo aku antar pulang" ucap sosok itu.


masih hening. tidak ada jawaban yang keluar dari bibir merah itu.


"aku akan tetap di sini sampai kamu mau ikut aku pulang" ucapny lagi.


waktu berlalu, hampir menunjukan pukul enam sore, dan Carissa sudah tertinggal enam bus yang datang karena lelaki di sebelahnya menggenggam tangannya begitu erat. tak mengijinkannya pergi kemana pun.


"lepas Rolen! aku ingin pulang" sentak Carissa kasar. Rolen menggeleng semakin mengeratkan genggamannya.


"Rolen!"


"pulang sama aku, baru aku lepas" ucapnya yang lebih mirip sebuah perintah.


"terserah"


.....


T b c?


Bye!