
Erick keluar dari kamar mandi dengan semangat. Menampilkan senyum lebarnya pada Jeno yang tengah duduk di pinggir ranjang sambil menatap malas ke arahnya.
"Udah?" Tanya Jeno. Erick mengangguk semangat. "Kamu gak mandi?"
"Nanti aja di rumah"
"Oke"
"Makan malam dulu ya"
"Terserah"
"Rick!"
"Iya iya. Bawel"
"Ayo turun" Jeno meraih kembali tas miliknya, menggenggam tangan Erick keluar dari kamar. Keduanya berjalan turun menuju meja makan.
Setibanya di ruang makan.
"Selamat malam semua" sapa Jeno berjalan masuk bersama Erick di belakangnya yang memasang wajah malas.
"Selamat malam, Jeno"
"Kau tidak jadi menginap Jeno?" tanya Daniel begitu melihat Jeno yang membawa tasnya.
Jeno menggeleng. "Tidak, paman. Bunda tidak mengijinkan. Oh kalau boleh aku ingin mengajak Erick menginap di tempat ku. Itu jika paman dan aunty mengijinkan" ucap Jeno dengan senyum manisnya.
Erick mendelik pada sang kekasih. "Kalau gak di ijinkan pun aku tetap pergi" celetuk Erick yang tidak di hiraukan oleh Jeno.
Daniel tersenyum kecil. "Baiklah, paman ijinkan. Tapi kalian makan dulu ya"
"Baik paman"
Daniel tidak bisa menolak keinginan sang putra, karena Erick yang tengah ngambek seperti ini membutuhkan waktu lama untuk kembali tenang. Jadi tidak ada pilihan lain selain mengijinkan putranya itu untuk ikut dengan Jeno.
Jeno menarik Erick untuk duduk meski sang kekasih sedikit menolak, tapi akhirnya Erick tetap menurut pada Jeno.
"Kamu mau apa sayang?" Tanya Ana pada Erick. "Apa aja" jawab Erick pelan.
"Jeno?"
"Jeno ambil sendiri aja, aunty"
"Baiklah"
Makan malam berjalan dengan tenang dan sunyi, tidak ada obrolan yang berjalan seperti biasanya karena suasana yang canggung. Sedangkan Jeno berusaha abai dengan keadaan di sekitarnya dan memilih fokus pada makanannya.
"Kalian mau berangkat sekarang?" Tanya Daniel setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.
Jeno mengangguk sambil mengecek ponselnya yang terdapat beberapa panggilan dari sang bunda. "Iya, paman" perlahan bangkit dari duduknya.
"Hati-hati ya, beritau papah jika kalian sudah sampai" Daniel mengusak rambut Erick pelan. "Hmm" hanya deheman singkat yang keluar dari mulut Erick sebagai jawaban.
Setelah pamit keduanya berjalan menuju pintu utama, untungnya motor Jeno masih terparkir di halaman mansion.
**
"Jeno belom sampai?" Justin menatap sang istri yang tengah fokus pada ponsel di tangannya. Makan malam mereka selesai 10 menit yang lalu.
"Erick pasti ikut dengannya" balas Isabella datar.
"Biarkan saja, Bee. Kamu seperti tidak paham bagaimana Galih dulu"
"Pria tua itu membuat ku kesal. Tapi aku lebih ingin menghabisi Keano"
"Hahaha, kenapa jadi kamu yang berambisi?"
"Keadaan Ge dulu membuatku trauma, Boo. Ge seperti orang yang tidak memiliki jalan hidup dan aku tidak ingin Geo seperti itu"
"Geo akan baik-baik saja. Galih sangat menyayanginya, dia tidak sama seperti ayahnya. Dan Geo, dia menjauh bukan karena benci pada papahnya tapi karena dia tidak ingin melihat papahnya sedih"
Justin merangkul pundak sang istri, menariknya agar lebih mendekat. "Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana menjauhkan Keano dari Jeven"
"Kamu punya rencana? Memasukkan Jeven ke asrama saja tidak cukup, Boo. Anak itu bisa kabur"
"Mau ikuti rencana ku?"
Tanpa ragu Isabella mengangguk mantab, netra abu gelapnya menatap lekat wajah tampan sang suami yang menampilkan ekspresi serius.
Justin mendekatkan wajahnya pada Isabella, kemudian berbisik kecil yang sukses membuat Isabella terkejut.
"Godfather"
"....."
"BUNDA, I'M HOME!" Teriakan Jeno yang berasal dari pintu utama menyadarkan Isabella dari keterkejutannya. Dengan cepat kepalanya menoleh kearah sang putra yang baru saja tiba.
"Ini sudah lewat lebih dari 30 menit, Prince. And... Hai Erick" tegur Isabella.
"I'm sorry, bunda" Jeno menarik Erick untuk berdiri di sampingnya karena sebelumnya, cowok bersembunyi di belakang tubuhnya. "Selamat malam, aunty uncle" sapa Erick dengan suara pelan.
"Bisakah Erick menginap disini ayah?"
Justin terkekeh kecil. "Kenapa meminta izin pada ayah?"
"Ini kan rumah ayah" jawab Jeno sambil melirik sekilas ke arah sang bunda yang sudah bersedekap dada menatapnya.
"Baiklah. Hanya kali ini, Erick. Kecuali jika orang tua mu menitipkan mu disini"
"Terimakasih paman" jawab Erick masih dengan suara pelan.
"Kalian sudah makan?" Keduanya mengangguk kompak. "Kalau begitu istirahat lah. Sepertinya kau tidak membawa baju gantimu ya?"
Erick bari tersadar bahwa dirinya tidak membawa apa pun dari rumah selain ponsel dan dompetnya. "Em, aku lupa"
Jeno kembali menarik Erick menuju kamarnya yang berada di lantai dua, tidak menghiraukan sang bunda yang mendelik ke arahnya.
"Dasar anak kesayangan ayah" cibir Isabella. "Jangan begitu, bee. Biarkan Erick tenang dulu disini, suasana hatinya akan semakin memburuk jika terus bertemu paman Rayyan"
"Terserah lah. Aku mana bisa membantah mu"
"Hahaha, dasar tukang ngambek"
"HEH!"
**
"Kau disini Rick?" Jovan yang melihat pintu kamar sang kaka terbuka melenggang masuk, mendapati sahabatnya duduk termangu di pinggir ranjang.
Erick menoleh pada Jovan kemudian mengangguk kecil. "Kau belum tidur?"
"Aku baru selesai mengerjakan tugas. Kau tidak mengerjakan tugas mu?"
"Besok kan weekend"
"Oh iya, juga. Diaman Jeno?"
Erick menunjuk ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. "Baru masuk"
Jovan mendudukan tubuhnya tepat di samping Erick menatap lekat kekasih saudara kembarnya itu. "Are u okay?"
"Not okay"
"Aku minta maaf untuk, Keano"
"Kenapa kau yang meminta maaf?"
"Aku tidak berguna menjadi sahabatnya. Terkadang berhadapan dengan Keano membuat ku lelah"
"Payah"
"Aku bukan Jeno yang punya banyak kesabaran. Kau tau itu"
"Bisa pukul wajah Keano sekali untuk ku?"
"Ya tentu. Setelah itu aku akan berhadapan dengan kakek mu"
"Kau takut?"
"Tidak juga. Aku hanya tidak di ajarkan melawan orang tua"
"Kalau itu kakek Rayyan, bibi Isabella pasti akan menyemangati mu"
"HAHAHAHAHA"
"Kenapa tertawa?"
"Kau lucu. Harusnya menjadi kekasih ku saja"
"Memangnya aku mau dengan mu?"
"HAHAHAHA" suara tawa lain yang terdengar membuat dua orang yang asik mengobrol itu tersentak.
Jeno berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tawa lebarnya. Cowok itu masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Kami gak pake baju?" Tanya Erick dengan pipi yang merah. Pertama kali dirinya melihat sang kekasih yang shirtles seperti ini.
"Kenapa pipi mu seperti tomat, Erick?" Goda Jeno.
"A-apa? A-ku ti-tidak"
"Wooo santai saja. Seperti tidak pernah melihat Jeno shirtles saja"
"Memang tidak" celetuk Erick tanpa sadar. Tapi sedetik kemudian menutup mulutnya setelah tersadar dengan perkataannya.
Jovan tertawa senang. "Hahahaha. Dasar tsundere"
"Berhentu menggodanya, Jovan. Mengapa kau belum tidur?" Tegur Jeno.
"Ini bahkan belum jam 8 malam. Dan lagi, besok weekend. Aku ingin begadang malam ini" jawab Jovan santai.
"BUNDA JOVAN MAU BEGADANG MAIN GAME!!" Jeno berterika lantang membuat sang adik melotot panik.
"JOVAN!!!"
"Sialan kau!!" Dengan terburu-buru Jovan berlari keluar dari kamar sang kakak dan masuk ke kamarnya sendiri.
Erick menatap keduanya aneh. Apa seperti ini kelakuan mereka setiap hari di rumah? Dimana sikap dingin dan ketus seorang Jovan Scander yang biasa terlihat?
"Jahil banget"
"Namanya juga adek kaka. Kalau gak jahil ya berantem"
"Cih. Pake baju sana"
"Bukannya suka aku kaya gini?" Jeno mengerling dengan wajah menggodanya.
"Apaan sih!!"
"Santai sayang. Merah tuh mukanya"
"Jeno!!"
"Hehehe"
****
See you!