
Skip pulang sekolah
Virzan, Brian, Jovan, Keano dan Erick berjalan beriringan menuju area parkir, kecuali Erick yang langsung berjalan ke arah gerbang untuk menunggu sang papah menjemputnya.
"Lo gak mau bareng sama gua aja, Rick?" Tawar Jovan. Erick tersenyum kemudian menggeleng kecil. "Gak usah, bentar lagi papah juga nyampe"
Jovan mengusap tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Entah kenapa dirinya malah jadi merasa kikuk. "Yaudah kalau gitu"
"Aku temenin sampe papah dateng ya" ucap Virzan. "Kamu pulang duluan aja, Zan" balas Erick.
Kepala Virzan menggeleng kuat, alisnya menukik dalam tanda dirinya tak mau di tolak. Erick hanya bisa mengalah, lebih baik menurut daripada sahabatnya itu mengamuk nanti.
"Terserah lah"
Brian, Jovan, dan Keano akhirnya pamit untuk pulang duluan. Sedangkan Virzan menemani Erick di depan gerbang.
"Perasaan ku saja atau kamu memang menjauhi Keano?" Virzan berucap begitu mereka duduk di kursi kayu yang berada di sebelah pos satpam.
"Hanya menjaga jarak" jawab Erick malas.
"Sama saja bodoh"
"Aku masih kesal dengannya. Jadi aku tidak mau berinteraksi lebih banyak dengan manusia itu" Erick mengeluh dengan bibir yang mengerucut ke depan.
Virzan terkekeh, gemas melihat tingkah lucu sahabatnya itu.
Tanpa mereka sadari tawa Virzan ternyata membuat beberapa siswa yang lewat terpesona. Mengingat Virzan adalah cowok paling dingin di sekolah. Melihatnya tersenyum sama dengan melihat artefak kuno yang sangat langka.
"Wahh ganteng nya"
"Ya ampun ya ampun Virzan ketawa dong"
"Oh my god, malaikat ganteng lagi ketawa"
"Anjir, ganteng banget jodoh gue"
Begitulah kira-kiranya bisik bisik kagum yang keluar dari mulut para siswa.
Erick yang menyadari bahwa tatapan semua orang kini tertuju pada mereka pun akhirnya tertawa.
"Liat tuh mereka kaya lagi ngelihat peninggalan sejarah yang mengangumkan" ucapnya menggoda Virzan yang kembali menampilkan wajah datarnya.
"Lebay banget" balas Virzan ketus.
"Kkkkkk, jangan terlalu dingin, Zan. Kamu makin keliatan mirip sama daddy"
"Ck!"
Perhatian Erick teralihkan pada ponselnya yang bergetar, ada satu pesan masuk dari sang papah yang mengatakan bahwa pria itu sebentar lagi akan sampai.
"Ambil motor mu gih, sebentar lagi papah sampai" ucapnya setelah membaca pesan sang papah.
Virzan mengangguk. "Ok" lalu berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya.
Salah satu siswi menghampiri Erick begitu Virzan pergi. "Erick Erick, gimana sih caranya bikin Virzan ketawa terus?" Tanya siswi itu dengan wajah yang sangat serius.
Erick kembali tertawa. "Kau harus masuk ke dalam daftar orang-orang yang dia sayangi"
Siswi itu berdecak kecewa setelah mendapat jawaban dari Erick. "Ahhh imposible. Thank you ya Erick" kemudian pergi meninggalkan Erick.
"Hahahaha ada-ada aja"
Berbarengan dengan datangnya Virzan kembali ke pos satpam, saat itu juga mobil yang dikendarai Daniel akhirnya tiba. Daniel turun dari dalam mobil, menghampiri putra dan keponakannya.
"Erick" panggil Daniel. Erick dan Virzan menoleh. "Hai pah" sapa Erick.
"Maaf papah lama ya?"
Daniel menatap Virzan yang masih duduk di atas motornya. "Hai, son. Bagaimana kabar mu?"
"Sangat baik, pah" Virzan bergerak turun dari motor, menghampiri Daniel lalu memeluknya singkat.
"Sudah lama papah tidak bertemu dengan daddy dan pappo mu"
"Itu karna papah sibuk mengurusi kakek Rayyan" goda Virzan dengan wajah tengil.
"Hahahaha kau benar"
"Kalau begitu pulang dengan papah ya, tinggalkan saja motor mu disini" ajak Daniel.
"Ayolah pah, ini motor terakhirku, jika ini ilang maka pappo tidak akan mau membelikannya lagi" wajah tengil Virzan berubah menjadi lesu seketika.
"Kau terlalu banyak bergaul dengan bibi Isabella dan paman Galih"
"Hehehehe"
"Yasudah kita pulang sekarang? Dan kau, hati-hati bawa motor mu. Jangan lupa, papah titip salam untuk orang tuamu"
"Siap" Virzan memberikan gestur hormat pada Daniel. "Papah juga hati-hati bawa mobilnya"
"Tentu. Papah duluan ya, ayo Erick" pamit Daniel.
"Aku duluan ya, Zan" Erick dan Daniel berjalan menuju mobil setelah berpamitan.
Setelah memastikan mobil Daniel menghilang di ujung jalan, Virzan baru menyalakan mesin motornya dan mulai meninggalkan area sekolah.
**
Seperti kata Kanfa dan Hiro bahwa mereka memang harus menyerah untuk membujuk Jeno. Geo juga mulai memutuskan untuk menyerah, namun sayangnya tingkah Jeno saat ini sangat ingin membuatnya membanting cowok itu ke atas meja.
Pasalnya sejak tiba di cafetaria sekolah sampai dirinya selesai menghabiskan dua piring makan siang karena Jeno yang tidak memakan makan siangnya sama sekali, cowok itu hanya menatapi foto Erick yang selalu dia bawa kemanapun.
"Kau tau kan masalah hidupku sangat berat?" Seru Geo yang sukses membuat Jeno mengalihkan pandangannya dari selembar kertas di tangannya.
Jeno melirik sahabatnya itu singkat, lalu memasukkan kembali foto Erick ke dalam dompet. "Hm"
"Jadi bisakah kau tidak menambah beban hidupku? Karena aku bukan papah yang memiliki kesabaran sebesar month Everest untuk menghadapi bunda. Paham?!"
"Hm"
"Bajingan"
Kanfa dan Hiro hanya bisa mengawasi kedua sahabat mereka itu dari jauh, mereka tidak ingin ikutan menggila seperti Geo hanya dengan melihat wajah Jeno. Di tambah, mereka berempat adalah roommate.
"Bibi Isabella dan paman Justin pasti tidak kalah menyebalkannya dari Jeno saat masih muda dulu" seru Hiro.
"Setuju" balas Kanfa. Keduanya masih fokus menatap Geo dan Jeno yang entah berbicara apa. Dilihat dari wajah kesal Geo , bocah itu pasti ingin sekali menghantam wajah menyebalkan Jeno dengan apapun.
"Sekarang kau antri lagi kesana dan makan lunch mu dengan benar!" Geo berucap kesal sambil menunjuk ke arah antrian panjang para siswa yang ingin makan siang.
Jeno mengikuti arah yang di tunjuk Geo, keningnya mengkerut dalam. 'Seingatnya ia sudah mengambil makan siang? ' lalu kembali menatap ke arah meja dan melihat piring miliknya yang telah kosong.
"Apa?!" Ketus Geo begitu Jeno menatapnya kesal. "Akan ku adukan pada ayah mu jika kau tidak mau makan!" Ucapnya lagi.
"Bajingan!" Dengan perasaan kesal, Jeno kembali mengantri untuk mengambil makan siangnya.
"Rasakan itu brengsek" umpat Geo dengan perasaan bahagianya.
Kanfa dan Hiro mati-matian menahan tawa mereka melihat wajah kesal Jeno. Akhirnya kekesalan mereka terbalas hari ini. Kkkkkkkk
***
See you!