Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
109 | TERTANGKAP?



"Berapa lama kita akan berada disini papah?" Galih mengusap lembut rambut putranya. Keano baru saja mengajukan pertanyaan yang dirinya sendiri bahkan tidak tau jawabannya.


"Selama yang Keano mau" jawab Galih dengan senyum penuh kasih sayangnya yang ia layangkan pada sang putra.


Mata Keano berbinar cerah. "Selamanya?" Tanyanya antusias. Galih menyentil kecil dahi si sulung, tau kemana arah pikiran bocah 14 tahun itu.


"Tidak selamanya, sayang. Kita akan pulang tentu saja"


"Papah, apa daddy baik-baik saja?"


"Tentu saja. Memangnya kenapa sayang?"


"Daddy terlihat lelah akhir-akhir ini. Daddy juga sering marah-marah pada paman Jos. Apa terjadi sesuatu?"


Bibir lelaki 34 tahun itu mendadak kelu. Ia lupa jika Keano sangat mewarisi sikap peka dan pengamat sang suami. Anak ini pasti mengerti masalah apa yang tengah menimpa daddynya.


"Apa Keano mendengar semuanya?" Tanya Galih hati-hati. Keano mengangguk.


"Daddy akan baik-baik saja, sayang. Keano percaya pada Daddy kan?"


"Tentu. Daddy orang yang hebat, tidak ada yang sehebat Daddy. Kecuali bibi Isabella" cicitnya diakhir kalimat.


"Hahaha. Sudah, sekarang kita tidur"


Keano mulai memejamkan matanya, memeluk sang adik yang berada disebelahnya. Keano dan Kiran kembali merecoki kedua orang tuanya, dengan alibi mereka tidak terbiasa dengan tempat baru. Alhasil mereka kembali tidur berempat disatu ranjang, setelah mendapat cibiran panjang dari sang daddy.


.


Pagi-pagi sekali Justin sudah dibuat kalang kabut dengan menghilangnya sang istri, begitupun Galih yang keadannya tak jauh beda.


Fero menangis kencang karena tidak mendapati sang bunda ketika dirinya bangun, semakin menambah kepanikan Justin pagi ini.


BRAK...


Pintu utama didobrak kasar. Aldre dan Ara berlari panik masuk kedalam mansion. Netra gelap Aldre berkeliaran, mencari sosok sang kaka ipar.


"Dimana ka Kevin?" Tanya Aldre dengan panik. Galih menggeleng, melihat raut panik adik bungsunya itu ia yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres.


"Mereka menghilang sejak pagi, paman" ucap Jovan.


"Ada apa Aldre?" Galih meraih tubuh sang adik, memintanya untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.


"Mereka mendapatkannya, ka. Meso mendapatkan ka Kevin!!"


"A-apa?"


"Dia mengirim pesan padaku sebagai ucapan terimakasih karena membantunya mendapatkan Black Sweeper. Tapi demi tuhan aku tidak melakukan apapun!!"


Aldre menunjukn pesan yang dikirimkan Meso, juga foto sang kaka ipar yang tergeletak diatas sebuah ranjang. Bisa dipastikan lelaki itu berada dibawah pengaruh obat bius.


Kepala Galih mendadak pening seketika. Dirinya hampir saja pingsan jika tidak ada sepasang lengan kekar yang menopang tubuhnya.


"Daddy!!!"


"Ka Kevin!!" Jerit Jeven dan Aldre berbarengan.


Greep..


Keano dan Kiran yang semula berpelukan sambil menangis kini berhamburan memeluk tubuh kekar daddynya.


"Daddy hiks hiks hiks.." Tangisan Kiran pecah, begitupun Keano. Mereka begitu khawatir karena takut terjadi sesuatu pada sang daddy.


"Bee" Justin menatap sang istri meminta penjelasan.


"Hubby..." Panggil Galih lirih.


Kevin menatap sendu wajah pucat istrinya. "Hati-hati, love"


"Kamu... Bukankah..."


"Mereka tidak bisa menangkapku semudah itu, love. You forget who i am?" Goda Kevin.


Galih memukul kencang dada suaminya, membuat sang dominant meringis main-main. "Kamu bikin kami khawatir tau gak?" Jeritnya kesal. Butiran kristal yang ditahannya sejk tadi akhirnya tumpah. Perasaan lega membungkus hatinya.


"Jangan sombong, ka! Jika aku tidak datang bisa dipastikan foto yang Aldre terima itu memang kau!" Cibir Isabella.


"Memang sialan, membuatku khawatir saja!" Aldre melempar tubuhnya ke Sofa, nafasnya terengah karena berlari tadi.


"Uuu manis sekali adik iparku"


"Berisik!"


Kevin melepaskan pelukannya pad sang istri, beralih pada kedua anaknya yang masih menangis. Merengkuh tubuh keduanya erat.


"Daddy hiks jangan kaya gitu hiks Kiran khawatir" omel Kiran diselingi tangisnya.


"Maafkan daddy ya sayang, daddy janji tidak akan mengulanginya lagi" balas Kevin lembut.


"Jadi, bisa kalian jelaskan?" Justin kembali membuka suaranya. Dirinya masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


Isabella dan Kevin saling pandang, agar cemas takut-takut lelaki itu marah.


"Ada masalah diperkebunan milik ka Kevin, boo" dengan ekspresi tenang Isabella menjawab pertanyaan sang suami.


"Masalah? Masalah apa?"


"Ada yang membakar pekerbunan, tapi untungnya hanya seperempat yang hangus. Sepertinya mereka tau ka Kevin berada disini, jadi sengaja memancingnya untuk keluar" jelas Isabella.


"Bukankah banyak penjagaan ketat dikebunmu, Kevin?"


"Ayah lupa? Jovan sudah katakan bahwa banyak mata-mata disana" timpal Jovan yang sejak tadi hanya menyimak.


"Aahhh, kau benar. Lalu?"


"Jika aku tidak salah, sepertinya mereka sudah menyerang rumahmu lebih dulu, Ge. Tapi karena tidak mendapati target mereka, jadi mereka mencari cara lain untuk memancing suamimu keluar"


"Hubby..." Galih semakin menatap suaminya cemas. Sampai kapan kehidupan mereka akan dihingkupi ketakutan seperti ini?


"Aku punya rencana. Tapi bisa aku bawa Jovan bersamaku?" Tanya Kevin. Matanya memandang lekat tuan ruamah, meminta izin untuk melibatkan salah satu pangerannya.


"Tell me!"


"Of course"


.


.


MARKAS PHOENIX


"Bagaimana Kevin?"


"Dia baik-baik saja. Isabella bergerak cepat mencegah mereka"


"Bajingan itu benar-benar!!" Devan menggeran marah. Ia hampir meledakkan amarahnya begitu mendapat informasi bahwa adik iparnya tertangkap oleh mantan musuh besarnya. Untung saja adiknya bertindak dengan cepat. Jika tidak, sudah bisa ia pastikan dirinya akan kembali menjadi seperti puluhan tahun yang lalu.


Dan sekarang, ia masih menunggu perintah dari papahnya. Pria paruh baya itu menberikan ultimatum tak main-main agar dirinya menurut.


Devan tak pernah tau, benar-benar tau bagaimana sosok sang Godfather ketika masih dalam masa kejayaannya. Karena ketika dirinya lahir, papahnya sudah tidak seaktif dulu.


Tapi dari apa yang pernah didengarnya, pria itu bahkan tidak ada bedanya dengan putri kesayangannya. Bedanya hanyalan dalam tindakan dan otak mereka.


Godfather adalah soaok yang bergerak cepat, tanpa perhitungan, namun tepat sasaran. Tidak ada yang bisa melakukan hal segila dirinya, menyerbu markas mafia terbesar di eropa tanpa pasukan dan rencana yang matang. Dan yang lebih luar bisanya adalah tindakannya itu tidak menuai kegagalan sedikitpun. Pantas jika sang kakek sampai jatuh sakit karena memikirjan putranya.


Sedangkan Godmother, tindakannya sngat diperhitungkan, hati-hati, namun sulit ditebak. Otaknya mampu membuat rencana lebih cepat dari apa yang orang bayangkan. Bahkan dalam situasi mendesak sekalipun dirinya berada diujung kematian. Membuka jalan bagi Black Sweeper untuk mengacaukan ekonomi dunia bawah tanah bukanlah hal yang main-main. Yang menjadi masalah adalah, wanita itu terlihat santai seperti pengangguran. Pergerakannya yang tidak bisa terbaca membuat musuh-musuhnya kewalahan.


"Aku baru sadar jika aku terlahir dari keluarga gila" Devan memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut.


"Kau sama gilanya, bajingan!" Sahut Leo yang duduk tak jauh darinya. Umpatannya disambut tawa keras Harves.


"Brengsek!"


.....


T B C?


BYE!