Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
42. Erick marah



Akhirnya waktu makan siang tiba, karena tidak bisa masuk ke dalam sekolah sebab ini bukanlah waktu kunjungan, Revan akhirnya meminta Jeno dan Geo untuk bertemu di taman komplek yang merupakan tempat bersantai seluruh penghuni Cartesy saat weekend.


Revan sempat meminta kedua cucunya itu untuk datang ke mansion utama Courtland, tapi Jeno menolak dengan keras, dan kini ia dan yang lainnya sudah tiba di taman tinggal menunggu Jeno dan Geo yang belum datang.


"Papah yakin kita janjian disini? Tapi ini tempat umum" Ara menatap sekeliling taman yang terbilang sangat ramai. Bukankah tidak aman jika harus berbicara di tempat seramai ini.


"Ada area khusus di taman ini yang tidak boleh di kunjungi siapapun kecuali orang tertentu, jadi kamu gak perlu khawatir" Revan tersenyum lembut pada putri bungsunya itu.


"Oke"


Isabella menatap cemas ke seluruh penjuru, putranya belum datang dan ia khawatir Jeno benar-benar tidak datang. Galih yang berada di sebelahnya hanya bisa mengelus pundak sahabatnya itu dengan sabar, ia mengerti ke khawatirkan wanita itu.


"Tenanglah. Jeno sudah berjanji akan datang, dia pasti datang" ucap Galih menenangkan.


Isabella menghembuskan nafas berat. "Aku hanya khawatir"


"Relax oke"


"Kau bisa bicara dengannya setelah ini, ka Justin" sama seperti sang istri, Kevin juga menenangkan Justin yang terus menatap sedih dan cemas ke arah sang istri.


"Bagaimana jika setelah ini dia tetap ingin bercerai?" tanya Justin dengan suara lirih.


"Ya kau berarti manjadi duda" celetuk Kevin asal.


Javin yang duduk tak jauh dari mereka sambil menenggak minuman tersedak karena perkataan Kevin. "Dasar gemblung"


"Tidak lucu Kevin" seru Justin sinis. "Kkkkk. Tenanglah, kau terlalu parno. Anak-anak tidak akan rela kalian bercerai" ujar Kevin di selingi tawa.


Kevin benar, setidaknya ia memiliki anak-anak yang akan mendukungnya kecuali Jeven. Karena bocah itu sedikit banyak sudah mengetahui masa lalu kedua orang tua angkatnya.


**


Jeno, Kanfa, Geo, dan Hiro sudah tiba di taman komplek. Ke empatnya kini berada di area khusus, dimana terdapat sebuah danau besar di sana yang terhubung dengan danau yang berada di dalam Cartesy.


"Mereka pasti tidak menunggu kita disini" ujar Geo. "Jen" panggilnya pada Geo yang fokus menatap lurus ke arah danau.


"Hm" deheman singkat keluar dari mulut Jeno.


"Kau yakin tidak ingin menghubungi grandpa jika kita sudah sampai di sini?" Tanya Geo memastikan.


"Biarkan saja"


"Terserah kau saja lah"


"Daripada bertemu keluarga, tingkah kita lebih mirip dengan cowok yang akan bertemu crush nya" celetuk Hiro.


Kanfa menepuk sedikit keras bahu Hiro hingga membuat si empu meringis kesakitan. "Bener juga lo"


"Bener-bener tapi jangan nampol anjir! Sakit nih"


"Hehehe"


"Haha hehe"


*


"Sudah satu jam, pah! Kenapa Jeno gak datang juga?!" Isabella kembali cemas, wanita mulai kehilangan kesabarannya.


Sudah satu jam berlalu, tapi putranya tak kunjung terlihat. Bahkan orang-orang yang semula memenuhi taman kini satu persatu mulai pergi.


"Ayo kita ke area khusus, princess. Siapa tau Jeno sudah di sana" Revan menarik sang putri ke dalam pelukannya agar putrinya itu lebih tenang.


Dalam dekapan sang papah, Isabella memejamkan kedua matanya. Otak nya terlalu penuh dengan kata takut, ia takut putranya akan membencinya karena masalah ini.


"Jeno...."


Di pinggir danau, Jeno masih setia berdiri pada posisinya memandang lurus ke arah danau tanpa bergerak sedikit pun.


Kanfa dan Hiro sibuk memainkan rumput seperti orang gabut, sedangkan Geo memilih merebahkan dirinya di salah satu bangku panjang yang ada di sana.


"Kalo Jeno aja kaya gini, aunty Isabella sama paman Justin kaya gimana ya waktu mudanya?"


"Barbar" jawab Geo.


"Masa?"


"Kalo kata papah, dua-duanya sama dingin tapi yang satu tukang tawuran yang satu lagi senggol bacok"


"Busetttttt serem bener" Hiro jelas percaya apa yang Geo katakan, sebab dirinya pernah melihat bagaimana aunty nya itu mengamuk. Sangat sangat menyeramkan, kedua orang tuanya saja bahkan sampai menjaga jarak.


"Pantes sekalinya berantem hujan badai angin ribut aja lewat" timpal Kanfa.


"Kkhh, konyol" Jeno mendengus geli, ketiga sahabatnya itu terlalu berlebihan.


"JENO!!!"


Suara teriakan keras mengejutkan ke empat cowok tampan itu. Kanfa, Hiro dan Geo membola panik ketika mendapati Erick berdiri tak jauh dari mereka.


"Mampus nyonya besar dateng" seru Hiro. Jeno mengumpat kasar dalam hati, ia melupakan soal sang kekasih. "Sialan!" desisnya pelan.


Erick berjalan dengan langkah lebar ke arah Jeno. Di belakangnya Jovan, Brian, Virzan, dan Keano mengejarnya dengan susah payah karena langkah kaki Erick yang terlalu cepat.


"Say--"


PLAK!!


Belum sempat Jeno menyelesaikan ucapannya, Erick sudah lebih dulu melayangkan tamparan keras di pipi kekasihnya itu hingga membuat kepala Jeno terlempar ke samping.


"Kamu--"


"Apa?! Mau marah?! Aku yang seharusnya marah sama kamu!! Dasar bocah!"


"Erick."


"Maksud kamu apa ninggalin aku gitu aja?! Kamu udah janji ya gak akan pernah ninggalin aku!!"


"Sayang... Gak gitu maksud aku"


"Halah pembohong!! Dasar brengsek!"


"Sayang..."


"Diem!! Aku gak mau ngomong sama kamu, aku marah!"


"....."


"JENO!!!"


"loh? Tadi katanya aku suruh diam"


"Ishh ngeselin banget sih!!"


Geo, Kanfa, dan Hiro berusaha mati-matian menahan tawa mereka agar tidak meledak. Mereka tak ingin menjadi sasaran amukan Erick selanjutnya.


"Geo!!" Erick menatap tajam sepupunya itu. Geo yang merasa namanya di panggil menjadi ciut seketika.


"Aku gak tau apa-apa Rick. Tiba-tiba Jeno chat aku pas aku udah mau tidur, beneran dah" dua jari Geo terangkat membentuk tanda V.


"Boong Rick boong" Kompor Hiro memanasi suasana.


Plakk!!


Geo melayangkan satu geplak kan sayang di belakang kepala Kanfa yang sukses membuat si empu meringis sambil tertawa.


"Diem anjing!"


"Kkkkk paneekkkk"


****


See you!