Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
98 | ADIK BARU?



"Kau tau apa yang terjadi padanya? Aku kesulitan membaca pikirannya?"


"Kenapa kau ingin membaca pikiran kekasihku?" Tanya Ara dengan nada sinis andalannya.


"Entahlah. Tapi aku merasa ada sesuatu yang salah disini, tapi aku belum mendapatkan jawabannya"


"Maksudmu?" tanya Ara bingung.


"Haruskah aku bertanya pada kekasihku?"


"Masev?" tebaknya.


"Memangnya siapa lagi?"


Dua netra berbeda yang terpancar dibalik cermin tengah mengobrol santai seperti berdiskusi. Ara sudah cukup jengah berdiri dihadapan benda yang memantulkan gambaran dirinya sejak 23 menit yang lalu.


"Bisakah kau pergi sekarang?" Ucapnya pada sosok yang tengah mengajaknya berbicara saat ini.


Salah satu sudut bibir Ara terangkat membentuk seringai mengejek. "Sepertinya kau masih takut padaku, hah?" Tanya sosok tersebut.


"Aku sangat ingin istirahat saat ini, Cloe!" Ara mendesah malas.


Cloe mendengus, "alasan! Kau selalu seperti ini jika berbicara denganku" omelnya.


"Aku bukan Masev atau ka Bella yang akan menanggapi mu dengan senang hati" balas Ara sinis.


"Baiklah. Tapi aku ingin berbicara dulu dengan kekasihku"


"Kau menyusahkan!"


Cloe melengos tidak perduli. Menggerakan tangan kiri Ara untuk meraih ponsel gadis itu.


Jarinya bergulir cepat mencari nama sang kekasih. Tapi decakan keras keluar dari bibirnya ketika ia tidak mendapati apa yang dicarinya. "Kenapa tidak ada nama kekasihku disini?" Tanyanya kesal.


Ara memutar bola matanya malas. "Tentu saja tidak ada, bodoh. Apa kau pikir aku akan menyimpannya dengan nama kekasihmu?!"


"Aaahhh, kau benar hihihi" Cloe tidak terpikirkan soal itu. Kekasihnya itu bahkan tidak memiliki ponsel sama seperti dirinya.


"Halo" suara diseberang sukses menampilkan senyum lebar Cloe.


"Halo, Galih~" Cloe menyapa dengan suara sexynya, membuat Ara mendesah lelah dengan kelakuan gadis itu.


"Cloe?"


"Aisshh, kenapa kau bisa mengenaliku?"


"Ada apa?" tanya Galih malas.


"Aku ingin bicara dengan kekasihku"


"Tidak ada! Dia sudah tidur"


Klik


"Yaakkkkssss Galih Aldebaren!! Sialan!! Berani sekali-- Ara!!!"


"Hahahaha. Sudahlah Cloe, kita bicarakan lagi besok. Aku sudah sangat lelah sekarang"


Ara melangkah keluar dari ruang ganti, melempar ponselnya kasar keatas nakas, dan mulai merebahkan tubuhnya keranjang.


.


"Who?" Kevin yanh tengah bersandar dipunggung ranjang menatap penuh tanya kearah sang istri.


"Cloe" jawab Galih singkat.


"Untuk apa dia menghubungimu?" Kevin menaikkan setelah alisnya.


"Apalagi? Tentu saja mencari kekasihnya" ucap Galih santai.


"Aahh, dia pasti ingin mencari tau sesuatu"


"Mm"


Galih merangkak masuk kedalam pelukan hangat suaminya. Yang disambut Kevin dengan rentangan tangan lebar.


"Apa kamu sudah mendapatkannya, hubby?" Galih mendongak, menatap wajah tegas suaminya.


"Who?"


"Pria itu"


"Yah, I know him"


"Sungguh?" Kevin mengusap lembur rambut panjang Galih yang hampir menutupi seluruh wajahnya. "Mm"


Kevin menggeleng "Tidak sekarang, love. Aku masih harus memastikannya"


"Be careful, hubby"


"Of course"


Ceklek


"Papah" Galih dengan cepat bangkit, begitu mendapati putrinya yang membuka pintu berali kearahnya.


"Kenapa belum tidur, sayang?" Tanya Galih mendudukan Kiran diatas pangkuannya.


"Mau tidur sama papah dan daddy" jawab Kiran menatap polos sang papah.


Kevin mendesah berat, padahal jika putrinya itu tidak datang, ia pasti sudah melepaskan seluruh baju tidur yang menghalangi tubuh istrinya itu.


"Boleh kan, pah?" Tanya Kiran. Galih mengangguk, "tentu saja, sayang"


"Keano juga, Keano mau bobo sama papah dan daddy"


Teriakan semangat Keano dari ambang pintu kini membuat Kevin mendesah frustasi. Lelaki 35 tahun itu mengacak kasar rambutnya.


Galih tersenyum geli, ia tau niat yang suami karena lelaki itu terus meraba pahanya saat mereka mengobrol tadi.


"Kemarilah, sayang" Keano dan Kiran merangkak naik keatas ranjung. Berbaring ditengah-tengah kedua orang tuanya.


"Loveeee..." mata elang Kevin menatap memelas sang istri. ia sangat tidak rela jika harus berpuasa lagi malam ini.


"Tunggu sebentar, Keano belom pulas. Tunggu dikamar mandi nanti aku menyusul" ucap Galih.


Dengan semangat Kevin turun dari ranjang dan berlari kecil menuju kamar mandi. melepaskan seluruh pakainnya hingga ia benar-benar telanjang. lalu menyandarkan dirinya di westafel.


10 menit kemudian


"Lama" sambutan yang Galih dapat dari sang suami begitu ia mengunci pintu kamar mandi.


"Sabar, hubby"


Tanpa basa-basi, Kevin meraup bibir merah sang istri. Membawanya dalam ciuman kasar dan penuh napsu.


"Jangan minum obat itu lagi, aku ingin kita memiliki bayi sekarang" Galih hanya bisa mengangguk atas perintah suaminya. Meski ia tidak yakin apakah ia masih bisa mengandung atau tidak.


"Pelan-pelan, hubby" tegur Galih.


"Tidak bisa. Aku sudah menahannya hampir sebulan" keluh yang lebih tua.


Kevin merobek kasar baju tidur yang Galih kenakan, membuat sang pemilik baju mendesah pasrah. Pasalnya baju itu masih baru dan baru sempat Galih pakai malam ini.


"Aku berubah menjadi penggila shopping gara-gara kamu!" Omelan sang istri hanya dibalas kekehan kecil Kevin.


"Bukankah itu namanya aku memanjakan istriku?"


"Memanjakan apanya? Kamu hanya memanjakan dirimu sendiri"


"Sssstttt, bawel" Kevin kembali meraup bibir Galih yang sudah membengkak.


Kedua tangannya menangkup sempurna dada Galih yang ukurannya lebih besar daripada lelaki pada umumnya.


"Jangan mainkan-- aakhh"


Ciuman Kevin berpindah, turun menelusuri leher, memberikan tanda merah disana. Lalu kembali turun menuju spot favoritenya. Menghisapnya seperti bayi kehausan.


Setelahnya hanya suara *******, dan erangan keduanya yang mengalun indah.


Diatas ranjang


"Ka... Papah dan daddy sedang membuat dedek bayi, ya?"


Keank terkikik mendengar pertanyaan polos sang adik. Keduanya terbangun karena erangan keras sang daddy.


"Nanti Kiran jadia kaka, ya?"


"Yessss, Kiran punya adik. Nanti Kiran mau pamer sama Valerie dan Harena"


"Kkkkkk"


.....


T b c?


Bye!