
Kepala Daniel menunduk dalam, kedua tangannya saling meremat kuat. Tidak beda jauh dengan sang suami, Ana pun sama. Keduanya sama-sama berdiri tegak dengan kepala tertunduk ke bawah.
Di hadapan mereka, Rayyan berdiri dengan wajah marah. Menatap keduanya tajam, mulutnya tak berhenti mengucapkan kata yang penuh kemarahan pada keduanya.
Galih, Kevin, Aldre, dan Dion memandang kedua adik mereka itu dengan penuh kekecewaan. Pasalnya, sejak satu minggu kepergian Erick mereka baru mengetahui jika Erick telah berangkat keluar negeri setelah mereka datang untuk berkunjung ke rumah Daniel.
Selama ini, setiap mereka bertanya Daniel selalu mengatakan jika sang putra tengah sibuk dengan les privatenya, tapi nyatanya bocah itu sudah pergi ke negara lain.
"Apa kalian sudah tidak menganggap ayah? Apa ayah ini sudah menjadi orang asing untuk kalian?!!" Sembur Rayyan penuh kekecewaan.
"Tidak ay--"
"Diam!! Ayah tidak meminta kamu bicara!!" Ucap Rayyan lagi memotong perkataan yang hendak keluar dari mulut Daniel.
"Yah... Biar Galih yang bicara" Galih menepuk pundak sang ayah, meminta izin agar dirinya yang melanjutkan.
"Daniel" panggil Galih pelan. Daniel mengangkat kepalanya perlahan, menatap tepat kedua netra biru sang kaka dengan sedih.
"Jelaskan! Kenapa kamu tidak memberitahu kami soal Erick"
"Maaf ka..."
"Kaka tidak butuh maaf mu. Kaka butuh penjelasan"
"Daniel tidak bisa menolak permintaan Erick untuk pergi, Daniel tidak ingin Erick terus bersedih"
"Lalu kenapa tidak bilang pada kami?"
"Erick tidak ingin Jeno sampai mengetahui kepergiannya, karena itu dia meminta aku dan Ana untuk tidak memberi tahu siapa pun.
Erick terlalu kecewa ka. Setiap hari dia selalu melamun dan menangis sendirian. Daniel tidak bisa melihatnya seperti itu lagi.
Jeno sudah melanggar janjinya dan itu membuat Erick semakin terluka" tangis Daniel meledak ketika mengingat bagaimana kondisi putranya sebelum pergi.
"Yatuhan" Galih memijat pelipisnya yang berdenyut kuat.
"Kemana Erick pergi?" Tanya Kevin. Daniel bungkam, begitpun Ana. Keduanya tidak ada yang menjawab pertanyaan kaka ipar mereka.
"Isabella knows ?" Tanya Kevin lagi. Kali ini Danuel mengangguk sebagai jawaban.
"Mereka datang saat Erick berangkat. Ka Justin selalu mengawasi Erick sejak Jeno tidak ada" jawab Ana dengan suara parau.
Aldre berjongkok di depan keponakan kesayangannya, menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu. "Harena kenapa tidak bilang pada paman?" Tanya Aldre lembut.
"Harena tidak ingin ka Erick sedih" jawab Karena dengan wajah lugunya.
"Harena ingin ka Erick bahagia?"
"Mm. Ka Erick harus bahagia, tidak boleh sedih lagi"
"Kalau begitu, saat ka Jeno pulang nanti kita harus tonjok dia sama-sama"
"Kenapa?"
"Karena sudah membuat ka Erick sedih"
"Ohh iyaaa. Kalau begitu Harena harus belajar tinju supaya bisa tonjok ka Jeno yang kencang"
"Bagus. Nanti paman ajarkan ya?"
"Siap"
"Alllll!!!" Ara hanya bisa geleng-geleng dengan kelakuan sang suami. Padahal yang lain sedang serius, tapi lelaki itu masih bisa bergurau.
***
Kelima cowok tampan yang berjalan beriringan di bandara menjadi pusat perhatian. Wajah tampan mereka mencuri banyak perhatian orang-orang yang tengah beraktifitas di bandara, sampai menghentikan kegiatan mereka demi menatap pemandangan indah di depan mata. Serasa model yang berjalan di atas catwalk.
"Anak itu akan mengamuk sebentar lagi" gumam Justin sambil menatap ke arah lima cowok tampan itu.
Isabella yang berdiri di sebelah sang suami tertawa. "Itu tugas mu, boo. Hanya kau yang bisa menanganinya"
"Haaiihhh. Harusnya anak itu tidak perlu pulang sampai pendidikannya selesai" keluh Justin.
"Semangat"
"Apa yang akan ka Justin lakukan nanti?" tanya Verrel yang baru saja datang bersama Maxime. Keduanya juga ingin menjemput anak mereka yang pulang untuk berlibur.
"Menguncinya di ruang bawah tanah. Lalu setelah itu aku akan menyelematkan diri ku sendiri" jawab Justin asal.
Verrel mendengus geli. "Konyol"
"Hahahaha"
"Kalian banyak berubah" seru Javin begitu kelimanya tiba dihadapan para orang tua.
"Kami bukan anak kecil lagi, pah. Tentu harus ada perubahan" protes Brian.
"Santai brodi. Papah hanya bertanya"
"Kau pulang dengan kami Geo" ucap Justin.
"Tidak perlu paman. Daddy sudah datang" tunjuk Geo pada sang Daddy yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Kenapa dia hanya sendiri? Dimana ka Galih?" tanya Verrel heran.
"Tentu saja menyiapkan sambutan untuk ke datangan putra sulungnya. Kau tau sendiri bocah ini sulit sekali di suruh pulang" timpal Isabella sambil mendelik tajam pada Geo.
Geo hanya mengedikkan bahunya tersenyum geli. "Papah protector is back" ledek Geo.
"Bocah sialan!"
"Hahahaha"
Verrel menatap Jeno lekat. Dirinya tau bocah itu pasti sedang mencari seseorang. Mengingatnya membuat Verrel kesal setengah mati. Jika bisa, Verrel akan dengan senang hati melayangkan tinjunya pada bocah menyebalkan ini.
"Yang kau cari tidak ada. Fokus saja pada kami yang ada di sini" sindir Verrel dengan suara lantang.
Jeno hanya melirik sekilas sang paman, lalu berjalan begitu saja meninggalkan semua orang yang ada di sana.
"Sifatnya dinginnya mengalahkan mu, Jovan" ujar Neoura.
"Dia kesal karena tidak bisa di hubungi" bukan Jovan, tapi Virzan yang menjawab.
"Apa dia belom tau?" tanya Maxime. "Mereka bahkan belom tau, Maxime" balas Isabella.
"Belom tau apa?" tanya Geo.
"Bukan apa-apa, son. Ayo, papah mu sudah menunggu" sambar Kevin.
"Baiklah"
****
T b c?
Bye!