
Kevin kembali ke mansion Scander dengan perasaan marah. Pembicaraannya dengan adik iparnya tadi ternyata cukup mampu membuat emosinya hampir meledak.
DUAKK
Dengan tanpa permisi, Kevin menendang pintu besar berwarna emas itu. Membuat sang pemilik rumah menatap nyalang kearahnya.
"Jika kau berniat merobohkan rumahku, lakukan dalam mimpimu!" Seru Isabella sinis.
Netra abu gelapnya balas menantang tatapan tajam Kevin padanya. "Kau harus minta maaf atas apa yang kau lakukan pada Aldre" ucap Kevin.
Isabella tersenyum sinis, "atas dasar apa aku harus meminta maaf padanya?"
Kevin menggeram marah mendengar jawaban Isabella. "Apa yang terjadi pada Cloe dan Masev itu urusanmu! Cloe adalah tanggung jawab mu Isabella!!"
"Huh?"
"Apa kau bilang?"
"Apa kau tuli?! Ara adalah adikmu, itu artinya apa yang dilakukan alter egonya adalah urusanmu dan ayahmu!"
"HAHAHAHAHAHAHA" Isabella tertawa keras, namun sedetik kemudian wanita itu menghentikan tawanya dan menatap nyalang lelaki dihadapannya.
"LANTAS KAU PIKIR ALTER EGO ISTRIMU JUGA TANGGUNG JAWABKU?!! GUNAKAN OTAKMU SEBELUM BERBICARA!!"
"AKU PUNYA KEHIDUPANKU SENDIRI, KEVIN!! AKU SUDAH CUKUP MUAK MENGATASI SEGALA MASALAH YANG BUKAN MILIKKU! TERMASUK TINDAKAN SIALAN YANG ADIK IPARMU LAKUKAN!"
"APA KAU INGIN AKU JUGA MENGAWASI ALTER EGO ISTRIMU 24 JAM?! LANTAS APA FUNGSINYA KAU SEBAGAI SUAMI?!!"
Isabella murka, amarahnya meledak begitu saja setelah Kevin menghardiknya tanpa permisi. Tangannya mengepal kuat, dirinya hampir saja menjatuhkan pedang kesayangannya yang masih melayang-layang diatas kepalanya untuk menghujam tubuh lelaki sialan dihadapannya ini.
Kevin terdiam, tidak mampu membantah apa yang Isabella ucapkan. Lidahnya kaku, bibirnya terkatup rapat tanpa celah sedikitpun.
"Jauhkan adik iparmu dari adikku, aku lebih sudi anak itu lahir tanpa seorang ayah!"
Isabella berbalik, pergi meninggalkan Kevin yang masih berdiri mematung. Galih menghampiri sang suami, matanya menatap kecewa suaminya itu.
"Apa yang kau lakukan, hubby? Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Apa kamu pikir menyenangkan memiliki jiwa lain dalam dirimu?" Bibir Galih bergetar, matanya berkaca-kaca. Netra cokelap gelap Kevin menatap istrinya penuh penyesalan.
"Maafkan aku, love" Kevin berusaha meraih lengan sang istri namun dengan cepat Galih menepis tangan suaminya.
"Apa aku menjijikan bagimu sampai kamu berani berbicara seperti itu? Jawab aku!"
"Tidak, love" Kevin melangkah maju, namun Galih menghindar dengan melangkah mundur.
"Jangan sentuh aku" tolak Galih.
"Love. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin Aldre tertekan"
"TAPI KAU MEMBUATKU TERTEKAN!!" Lagi, Kevin kembali menatap tatapan nyalang yang kali ini Galih layangkan untuknya.
Aliran sungai kecil tercipta dipipi tirus lelaki manis itu. "AKU MEMBENCIMU, HUBBY! MENJAUH DARIKU MULAI SEKARANG!"
"Tidak, love. Tidak. Maafkan aku, aku salah. Jangan seperti ini aku mohon"
"Aku. Sangat. Membencimu!"
.
.
"Apa kau puas, Aldre?"
"Apa maksudmu? Apa kau tidak punya sopan santun? Berbicara hal tidak penting seperti itu"
"Aku tidak tau, dan tidak mau tau apa yang kau katakan pada kaka iparmu sebelumnya. Tapi selamat, usahamu sukses membuat rumah tangga kakamu hancur!"
"....."
"Kalau kau ingin mengadu domba orang lain hanya karena rasa kesalmu, makan pikirkanlah rencana yang lebih baik"
"Dan kau harus tau satu hal, setelah ini kubur dalam-dalam mimpimu untuk membangun rumah tangga yang indah dengan Ara. Karena selamat, kau masuk kedalam daftar hitam istriku!"
Rayya bangkit dari sofa, menghampiri Justin yang berdiri diujung ranjang rawat Aldre. "Apa maksudmu, Justin? Apa yang terjadi dengan Kevin dan Galih?"
"Aku tidak tau, paman. Silahkan paman cari tau sendiri"
.
.
Sudah lebih dari dua jam Kevin terduduk didepan kamarnya dan sang istri, berharap Galih mau membukakan pintu untuknya, dan berbicara padanya.
Diujung lorong, Keano berdiri menatap sendu daddynya. Dia tidak tau apa yang terjadi pada kedua orang tuanya, tapi sepertinya mereka bertengkar dengan masalah yang cukup serius.
"Jangan ikut campur, biarkan mereka yang menyelesaikannya sendiri" Jeven menepuk pelan bahu Keano, lalu menggiring remaja itu untuk pergi dari sana.
"Love, berbicaralah denganku aku mohon. Aku tidak bermaksud menyakitimu, love. Sayang...."
Lirihan Kevin yang berujung menjadi isak tangis kecil memenuhi lorong lantai 2. Tangan kanan Kevin memukul-mukul pelan pintu kamar yang ditempati dirinya dan sang istri. Kepalanya ia sandarkan pada pintu berwarna cokelat tersebut, dengan bibir yang terus menggumamkan kata maaf.
Didalam kamar, Galih berbaring diatas ranjang dengan kondisi yang tidak jauh dengan sang suami. Pipinya basah oleh derai air mata, kedua matanya bahkan sudah membengkak.
Galih memeluk dirinya sendiri, seolah melindungi jiwanya yang hampir rusak. Tidak ada yang ingin menjadi seperti dirinya, berbagi tubuh dengan jiwa yang lain. Galih juga ingin hidup normal, ia ingin menghilangkan semua yang ada dalam dirinya seandainya ia bisa. Ia tidak ingin seperti ini, ia ingin hidup seperti manusia normal lainnya. Namun perkataan suaminya mulai membuat Galih kembali membenci hidupnya. Rasa yang sama yang pernah ia rasakan saat pertama kali mengetahui bahwa ada jiwa lain dalam raganya.
"Apa aku ini hanya beban bagimu selama ini, hubby? Kenapa kau tega berbicara seperti itu?" Galih meremat dadanya yang terasa begitu sakit. Dirinya terus menangis hingga tanpa sadar tertidur.
.
.
Keesokan harinya
Perkataan Justin terus terngiang dikepala Aldre. Apakah ucapannya sangat keterlaluan hingga membuat rumaha tangga kakanya berantakan. Bukan ini tujuan Aldre, ia hanya tidak ingin disalahkan sendirian. Tujuannya hanyalah agar Isabella bisa mengerti posisinya.
"Kapan Aldre bisa pulang, ayah?" Tanya Aldre pada sang ayah yang senantiasa menunggunya.
"Ayah tidak tau, nak. Kondisimu belum sepenuhnya pulih" jawab Rayyan. "Ada apa?"
"Aldre ingin pulang, Aldre ingin minta maaf pada ka Galih" ucap Aldre lirih.
"Ayah mengerti kau marah pada Isabella atas perlakuannya padamu, tapi Isabella juga berhak marah padamu. Dia tidak pernah gagal menjaga adik-adiknya, tapi Ara... Membuatnya merasa tidak berguna menjadi seorang kaka"
"Isabella sudah punya keluarga, dia memiliki anak dan suami yang lebih butuh perhatiannya. Tidak selamanya ia harus terus menjaga adik-adiknya. Kakakmu Galih mengontrol dirinya sendiri agar bisa lebih kuat dari alter egonya, dan seharusnya Ara melakukan hal yang sama. Gadis itu terlalu bergantung pada keluarganya"
"Kau dan Ara bukan anak kecil lagi yang harus terus kami perhatikan. Sadarkah bahwa secara perlahan kau melepaskan begitu saja masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu sendiri. Bahkan sampai membuat paman Revan turun tangan, apakah kau pikir itu hal yang pantas? Kau egois nak, sejak dulu. Dan kesalahan ayah yang hanya berharap bahwa kau akan berubah, harusnya ayah membimbingmu menjadi lebih baik"
Rayyan keluar dari ruang rawat putra bungsunya, meninggalkan Aldre agar bisa berpikir lebih tenang. Rayyan bertemu dengan Daniel yang hendak masuk kedalam ruang rawat Aldre.
"Bagaimana kakamu, Dan?" Tanya Rayyan pada putra angkatnya itu.
Daniel menggeleng lemah, "ka Galih gak mau keluar dari kamar, bahkan tidak mau berbicara dengan siapapun. Dan ka Kevin enggan pergi dari depan pintu kamar mereka, masih setia membujuk ka Galih" jelas Daniel.
"Keano tau papah dan daddynya bertengkar, yah. Anak itu murung sejak semalam" lanjut Daniel lagi.
"Jaga adik mu, ayah akan pulang sebentar untuk bicara dengan kakamu"
"Baik ayah"
"Apa kau puas? Kapan kau akan berhenti menjadi anak-anak?" Daniel menatap tajam Aldre begitu dirinya masuk.
"Kaka lelah menghadapi, Aldre. Dimana adik kecil kaka yang manis, kenapa kau semakin lama bertingkah seperti bajingan?" Seru Daniel kesal.
Jika adiknya itu sedang tidak dalam perawatan, Daniel akan dengan senang hati melayangkan tinjunya pada bocah nakal itu.
"Maaf..."
"Kau selalu mengatakannya dan kembali mengulangi hal yang sama"
.....
T B C?
BYE!