
Bel istirahat berbunyi 15 menit yang lalu. Para murid lainnya sudah berhamburan keluar dati kelas, menyisakan kursi kosong tanpa penghuni. Kecuali satu kursi yang berada di pojok nomor dua dari belakang.
Si pemilik kursi masih setia pada posisinya. Enggan pergi atau beranjak sedikit saja dari posisinya. Erick sang pemilik kursi menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangan sebagai bantalan.
Bunyi berisik dari perutnya seolah tidak mengganggu Erick sama sekali. Remaja 14 tahun itu lebih memilih menahan lapar daripada harus bertemu Jeno di kantin.
Brakk!!
Pintu yang di tendang keras menimbulkan bunyi cukup nyaring. Erick mengumpat kasar dalam hatinya, dirinya jelas tau siapa pelaku penendangan pintu kelasnya.
Takk!!
"Bangun dan makan! Jangan membuat orang lain khawatir pada mu!!" Suara berat yang terdengar dingin menusuk telinga Erick.
"Erick!"
Dengan gerakan pelan Erick mendongakkan kepalanya. Netra birunya langsung bertabrakan dengan netra hazel milik Jeno.
Erick meringis tanpa suara mendapati tatapan tajam menusuk yang Jeno tunjukan untuknya.
"A-apa?" Tanyanya gugup.
"Makan!" Nada dingin masih melekat pada suara berat Jeno.
"Aku tidak lapar" cicit Erick. "Aku bilang makan Erick! Jangan buat aku marah"
"Tapi--"
Brukk!
Jeno melempar sekotak susu ke tembok. Memperingati Erick bahwa dirinya tidak main-main. Jeno sudah cukup lama menahan kesal di hatinya karena sahabatnya ini.
Paman Aldre menelponnya tadi pagi dan memberitahukan padanya bahwa Erick tidak memakan apa pun sejak semalam. Padahal bocah itu memiliki maag akut yang bisa kambuh kapan saja jika dia telat makan.
Erick menunduk takut. Jeno yang sedang marah sangatlah menyeramkan.
"Mau makan atau masuk rumah sakit?!" seru Jeno.
Dengan gerakan lambat Erick mengambil kotak makan yang Jeno letakkan di atas meja sebelumnya. Membukanya dan mulai melahap isinya dengan tangan gemetar.
Jeno mendudukan tubuhnya di sebelah Erick setelah menenangkan emosinya sendiri, meraih kotak makan tersebut dan menyuapi Erick.
"Maaf aku sudah marah-marah ya" ucapnya lembut. Erick mengangguk kaku.
Jeno mengusap lembut rambut Erick sambil terus menyuapi pujaan hatinya hingga seluruh isi kotak makan di tangannya lenyap
"Minum susunya" menggeser satu kotak susu ke hadapan Erick.
"Pergi kemana kemarin?"
"Kebun bunga"
"Kebun bunga? Di mana?"
"Gak tau. Di pedesaan tapi aku gak tau namanya"
"Kenapa gak bilang jujur sama aku pas aku tanya?"
"Takut kamu susulin"
"Memangnya kenapa kalau aku nyusul?"
"Gak mau" Erick mengerucutkan bibirnya.
"Gak kangen aku?"
"Gak."
"Masa sih?"
"Bawel ah"
"Hahahaha"
Pipi Erick memerah setelah mendengar suara tawa Jeno yang begitu merdu. Jika sedang tidak berada di lingkungan sekolah, mungkin tanpa berpikir panjang Erick akan mencium ke dua pipi chubi itu.
"Apa? Mau cium?" Seolah tau apa yang pujaan hatinya pikirkan, Jeno menaik turunkan kedua alisnya menggoda Erick.
"Apa sih ah. Pulang sono" balas Erick dengan ketus.
"Bercanda sayang"
Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Erick kembali meletakkan kepalanya di atas meja. Kali ini memiringkannya ke samping menghadap Jeno. Kedua netra birunya terpejam, dirinya merasa mengantuk setelah makan dan minum susu.
"Tidurlah"
"Bentar lagi bel masuk" jawab Erick degan suara parau khas orang yang sedang mengantuk.
"Ada rapat guru sayang. Jadi kita free sampai pulang"
"Mm"
"Sayang sayang! Officialin dulu bocah"
Jeno menggeram kesal mendengar suara menyebalkan sang adik. Sejak kemarin entah kenapa adik kembarnya itu menjadi banyak bicara dan menyebalkan.
Di depan pintu kelas Erick, Jovan, Keano, Jesslyn, Virzan, dan Brian berdiri bersebalahan. Pandangan mereka tertuju ke arah yang sama, Jeno dan Erick.
Erick tidak memperdulikan kehadiran para sahabatnya. Dirinya terlalu ngantuk dan matanya tidak mau terbuka. Jadi biarkan saja mereka melakukan apapun, ia tidak perduli.
"Pantas kau berlari secepat kilat setelah menghabiskan makanan mu" ketus Jovan.
"Berisik! Kau tidak lihat Erick sedang tidur!" Balas Jeno tak kalah ketus.
Jovan mencibir. Menurutnya kaka kembarnya ini terlalu munafik. Gayanya sudah seperti orang dewasa yang punya pikiran rumit.
"Lagak mu seperti ayah dan bunda!"
"Berkaca bodoh! Kau yang lebih mirip grandpa dan grandma"
"Sialan!"
Jesslyn, Virzan, Keano, dan Brian terkikik geli, begitu pun Erick yang matanya masih terpejam. Memang hanya Jeno yang bisa melawan mulut pedas Jovan.
Skip time
Para siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas satu detik setelah bel pulang berbunyi.
Ke tujuh remaja itu berjalan beriringan menuju parkiran. Ericj berjalan sempoyongan kepalanya terasa pening setelah tertidur hampir dua jam di dalam kelas dan bangun tiba-tiba karena mendengar suara bel pulang.
"Kau berjalan seperti mumi" celetuk Virzan. Erick berdecak, kepalanya sangat-sangat pusing.
"Kita naik mobil aja ya" ucap Jeno khawatir. Erick kembali berdecak, "memangnya bawa mobil?" Jeno mengangguk sebagai jawaban.
"Mobil siapa yang kau maksud bodoh?!" timpal Jovan tak santai. Pasalnya di antara mereka bertujuh hanya dirinya lah yang selalu membawa mobil kemana pun.
"Berisik!"
"Ck ribut lagi! Udahlah lagian enakan naik motor. Siapa tau nanti pusingnya ilang kena angin" lerai Jeno.
"Yaudah kalau gitu. Bawa helm?"
"Bawa. Aku taro di motor kamu"
Begitu sampai di parkiran ke tujuh remaja JHS itu langsung berpenca menuju motor masing-masing. Kecuali Jovan yang membawa mobil dan Jesslyn yang bersamanya.
Jeno mengenakan helm miliknya dengan cepat, setelahnya mengambil helm milik Erick dan memakaikan pada si empunya.
"Aku bisa pake sendiri" protes Erick. "Gak usah bawel, tinggal pake aja"
"Beh beh beh. Dah aku mah apa atuh cuma ujan badai angin ribut angin ribut" Virzan berseru menggoda sahabat dan sepupunya itu.
"Halilintar tulul wkwkwk" sahut Brian melayangkan satu pukulan di punggung Virzan.
"Wkwkwk"
"Key, liat sepupu lu noh. Lagaknya tsundere tsundere padahal di perutnya udah banyak lalat itu" Brian menoleh pada Keano dengan dua alis yanh sengaja di naik turunkan.
Virzan terbahak. "Kupu-kupu bego"
"Antepin antepin. Bentar kagi gua aduin kakek sama nenek" Teriak Keano cukup kencang.
"Skrinsut skrinsut"
"Eeeaahhhh paniiikkkk"
"Wkwkwkwkwk"
.....
T b c?
bye!
JenoErick end!