Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
4. Marah (2)



Begitu selesai menghabiskan makanannya, Jeno beranjak dari kursinya berjalan menuju salah satu stand yang menjual minuman. Membeli dua kotak susu untuk Erick.


Setelah membayar susu dan makanan miliknya, Jeno kembali berjalan ke meja dimana dirinya duduk sebelumnya. Tangannya meraih sebuah paper bag berisi bekal yang di buatkan sang bunda tadi pagi, lalu membawanya menuju kelas Erick.


"Ngamuk nih pasti" seru Virzan selepas kepergian Jeno dari kantin.


"Udah ketebak. Modelan bucin kaya Jeno" timpal Keano.


"Ikutin yuk?" Ajak Brian. "GASSS" Jovan menjadi yang pertama bangkit dan berlari keluar dari kantin.


"Lah? Ngebetan dia anjing" cibir Virzan kaget. Jesslyn tertawa kecil. "Pengen bales dendam kayanya"


"Bales dendam?"


"Mobilnya hampir di sita ayah semalem"


"Hadeeehhhh"


**


Brakk!!


Dengan perasaan marah, Jeno menendang pintu kelas Erick hingga hampir rusak. Cowok itu menatap tajam ke arah Erick yang tengah tertudur di atas meja.


Dari posisinya berdiri bisa Jeno lihat tubuh Erick yang terperanjat kecil karena terkejut. Tapi cowok itu berusaha untuk tetap terlihat tenang.


Jeno mendekat ke arah meja tempat Erick duduk. Meletakkan paper bag dan susu di tangannya dengan sedikit keras.


"Makan" ucapnya datar. Erick tidak bergeming, masih bertahan pada posisi menelungkupnya.


"Kau dengar aku Erick? MAKAN!!" kali ini Jeno berbicara lebih keras, kesabarannya hampir menipis.


Erick mengangkat kepalanya dengan gerakan lambat, menatap takut-takut ke arah Jeno yang tengah memandangnya tajam.


"Makan!"


"A-aku gak lapar" cicit Erick takut. "Aku bilang makan Erick! Jangan buat aku marah" sentak Jeno


Erick menggeleng kuat. "Gak mau" tolaknya lagi.


Brukk!


Jeno melempar sekotak susu ke tembok. Memperingati Erick bahwa dirinya tidak main-main. Jeno sudah cukup lama menahan kesal di hatinya.


Paman Aldre menelponnya tadi pagi dan memberitahukan padanya bahwa Erick tidak memakan apa pun sejak semalam. Padahal bocah itu memiliki maag akut yang bisa kambuh kapan saja jika dia telat makan.


Erick menunduk takut, tidak berani melihat sosok di hadapannya. Jeno yang sedang marah sangatlah menyeramkan.


"Mau makan atau masuk rumah sakit?!" seru Jeno.


Dengan gerakan lambat Erick mengambil kotak makan yang Jeno letakkan di atas meja sebelumnya. Membukanya dan mulai melahap isinya dengan tangan gemetar.


Jeno mendudukan tubuhnya di sebelah Erick setelah berhasil menenangkan emosinya sendiri, meraih kotak makan tersebut dan menyuapi Erick.


"Maaf aku sudah marah-marah ya" ucapnya lembut. Erick mengangguk kaku masih tidak berani menatap ke arah Jeno.


Jeno mengusap lembut rambut Erick sambil terus menyuapi pujaan hatinya hingga seluruh isi di dalam kotak makan lenyap.


"Minum susunya" Jeno menggeser satu kotak susu yang tersisa ke hadapan Erick.


Erick mengambil kotak susu tersebut, meminumnya hingga tandas tak bersisa.


Sedangkan di luar kelas..


"Busehhhh, galak banget bocah"


"Gak maen-maen emang anaknya Justin Scander"


"Maknyussss"


"Bucin."


Begitulah sekiranya reaksi para netizen yang menguping di depan pintu.


Kembali ke dalam kelas..


"Kenapa menghindar dari aku kemarin? Aku datang ke rumah paman Aldre tapi kamu malah sembunyi" Tanya Jeno sambil memainkan rambut bagian belakang Jeno.


"Gak apa-apa" jawab Erick pelan. Dalam hati mengumpat kasar karena Jeno mengetahui dirinya yang bersembunyi. Padahal ia sudah bermain sebaik mungkin sampai paman dan bininya tidak menyadari dirinya menghilang.


"seneng jalan-jalannya?" Jeno masih setia mengusap lembut rambut Erick.


Erick mengangguk dengan semangat. "seneng dong. seneng banget"


"padahal aku mau susulin loh"


"gak!"


"Masih ngambek?"


"Gak"


"Masa?"


"Iiihhh apa sih"


"Hahaha maaf ya sayang. Mau tidur lagi?"


"Hmm"


"Tidurlah. Aku tungguin di sini"


"Balik aja. Bentar lagi bel masuk"


"Gak sayang. Guru-guru ada rapat setelah ini"


"Eh?"


"Nah. Tidurlah"


"Mm"


Erick kembali meletakkan kepalanya di atas meja, dalam sepersekian detik cowok itu sudah kembali terlelap.


"Cih! Si bucin satu ini" cibir Jovan yang berdiri di depan pintu.


"Setidaknya aku bukan pedofil" balas Jeno kalem.


"Sialan!"


"Hahahahaha" Tawa Virzan, Brian, Keano, dan Jesslyn meledak. Bahkan Erick yang mulai terlelap jadi bangun kembali hanya untuk menertawai tingkah keduanya. Memang hanya Jeno yang bisa melawan mulut pedas Jovan.


"Pantas kau berlari secepat kilat setelah menghabiskan makanan mu" ketus Jovan.


"Berisik! Kau tidak lihat Erick sedang tidur!" Balas Jeno tak kalah ketus.


Jovan mencibir. Menurutnya kaka kembarnya ini terlalu munafik. Gayanya sudah seperti orang dewasa yang punya pikiran rumit.


"Lagak mu seperti ayah dan bunda!" cibir Jovan.


"Berkaca bodoh! Kau yang lebih mirip grandpa dan grandma" balas Jeno tak mau kalah.


"Sialan!"


Jesslyn, Virzan, Keano, dan Brian kembali tertawa geli, begitu pun Erick yang matanya masih terpejam. Memang unik dua saudara kembar ini, Jovan yang senang menggoda sang kakak dan Jeno yang senang meladeni adiknya.


***


See you again!!