Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
130 | TONGKAT SIHIR



Revan menjulurkan tangannya, sebenarnya dirinya sudah mendengarkan pembicaraan mereka tadi. Sebuah cahaya keluar dari telapak tangan Revan membentuk sebuah lingkaran yang persisi dengan yang Saka lihat sebelumnya.


"Masuk"


Cahaya hitam yang perlahan melebar dan membentuk sebuah lubang besar terbuka lebar. Revan bisa merasakan jejak yang Meso tinggalkan, jadia pria itu tau kemana harus menyusul mereka.


"Masuk" perintahnya lagi.


Saka menjadi yang pertama melompat diikuti Laxo dan Farthur, lalu Devan dan Revan yang terakhir melompat masuk.


.


.


Justin memijakkan kakinya keanak tangga, tujuannya adalah lantai dua markas besar itu. 'Jaraknya bahkan tidak terlalu jauh dari markas The Faulr Blood, tapi bagaimana bisa bangunan ini lolos dari pengawasan papah?' Pikir Justin heran.


'Apa karena perisai itu? Bukankah itu sebuah sihir?'


'Dilihat bagaimana kalung ini terbentuk, harusnya aku tidak terkejut lagi jika mereka memang menggunakan sihir. Tapi pertanyaannya, darimana mereka mendapatkan sihir itu?'


Justin menyentuh kalung yang masih menggantung indah dilehernya. Kalung itu sudah kembali menampakkan diri setelah sebelumnya bersembunyi entah dimana karena istrinya mengeluarkan pedang miliknya.


Langkah kakinya menelusuri setiap lorong lantai dua. Disisi kanan kirinya ada banyak pintu, namun tidak satupun yang bisa dibuka. "Dimana ruangan milik Napolen?" Justin berbisik lirih.


Ketika dirinya sibuk memperhatikan setiap pintu, kalung dilehernya kembali bersinar membuat tubuhnya tertarik seperti diseret paksa. Hingga akhirnya langkah kakinya berhenti didepan sebuah pintu besar berwarna putih dengan ukiran yang sama seperti dikalungnya.


"Apa ini ruangannya?"


Ceklek..


Pintu terbuka dengan sendirinya. "Woah.. Kau cukup berguna juga rupanya" ucapnya berbicara dengan kalung dilehernya.


Dengan langkah pelan Justin berjalan masuk. Ruangan ini tidak berbeda jauh dengan miliknya di Amerika, hanya beberapa susunan furniturenya yang berbeda.


"Apa Napolen menyukai sesuatu hal yang sama? Tidak ada yang berbeda dari markas ini dengan markas di Amerika. Bahkan barang-barangnya, hanya susunannya yang dibuat berbeda"


Justin terdiam untuk sesaat, sebelum akhirnya menyadari satu hal. "Sebuah tipuan ternyata. Kau pintar juga Napolen"


Disisi lain, Aldre dengan santainya berjalan kearah ruangan miliknya. Lebih tepatnya sebuah kamar tidur mewah yang terdapat diujung lorong lantai satu.


Dirinya ingin menghubungi kekasih, namun Aldre baru ingat jika mereka tidak bisa menggunakan ponsel saat ini. Membuka pintu kamar, Aldre berjalan mendekat kearah sebuah lemari besar diujung ruangan. Membuka pintu lemari yang kosong lalu menekan sebuah tombol kecil yang tersembunyi disana.


Suara tembok yang bergesar sukses menampilkan senyum miring Aldre. Lorong panjang dibalik tembok yang terdapat barisan anak tangga untuk bisa sampai kelorong tersebut.


Ruang rahasia bawah tanah. Yang berhasil Aldre ciptakan sendiri tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Meso.


Ruangan itu sengaja Aldre ciptakan untuk menyimpan sebuah senjata rahasia milik Napolen yang senua orang tau sudah hancur puluhan tahun lalu saat bertarung melawan Devan.


Hanya ada sebuah lemari kaca besar yang dikelilingi sihir didalam ruangan itu. Didalamnya sebuah tongkat berwarna hitam keemasan dengan bentuk bulat dibagian ujungnya yang dihiasi sebuah kristal berwarna biru dibagian tengahnya.


Kedua mata Aldre terpejam, mulutnya merapalakan sebuah mantra untuk mematahkan sihir yang melindungi lemari kaca itu.


Meso percaya bahwa tongkat milik sang ayah masih ada, karena benda itu tidak mudah untuk dihancurkan, namun sayangnya Meso tidak bisa membuat jiwanya menyatu dengan kalung yang kini berada ditangan Justin yang akhirnya tidak bisa menemukan dimana keberadaan tongkat yang nyatanya saat ini ada dihadapan Aldre dan lelaki itu sembunyikan bertahun-tahun.


Tongkat hitam itu melayang, terbang mendekat kearah Aldre yang langsung ditangkap lelaki itu dengan mudah. "Maafkan aku Napolen, tapi keturunanmu harus berakhir sampai disini" desis Aldre.


Dalam sekejap tongkat ditangan Aldre menghilang. Aldre akan memanggilnya kembali saat situasi yang tepat nanti.


.


.


"MESO!!!" Jovan berteriak kencang, menghentikan langkah Meso yang hendak kembali berlari.


Keduanya baru saja tiba didalam sebuah bangunan besar yang entah apa, Jovan tidak mengetahuinya. Netra berbeda milik Jovan mengedar mencoba mengenali dimana dirinya berada berada hingga ia menangka sebuah patung iblis berukuran besar yang hampir mencapai langit-langit bangunan itu.


'Markas utama The Cruel'd?' Batin Jovan.


"Hei bocah! Siapa kau sebenarnya hah?! Kenapa kau mengikutiku?!" Teriak Meso pada Jovan yang masih terdiam.


Jovan kembali menatap Meso yang memandangnya kesal, sebelah alisnya menukik tajam.


"Jovan Scander! Itu namaku" jawabnya lantang.


Meso terdiam, ia seperti pernah mendengar nama itu. "Jovan Scander?"


"Putra Justin Scander dan Isabella Courtland! Apa kau masih tidak tau siapa mereka?"


Meso ingat sekarang, dia adalah bocah yang Laxo ceritakan padanya. Meso menyeringai, merasa dirinya mendepatkan sebuah keuntungan besar disini.


"Kau akan mati disini, bocah!!" Desisnya tajam.


Jovan terkekh sinis. "Benarkah?" Ujarnya angkuh.


"Angkuh sekali kau sialan! Kau akan mati ditanganku Jovan!!"


"Lakukanlah jika kau bisa"


Meso merapalkan sebuah mantra dimulutnya. Cahaya kekuningan keluar dan bergerak cepat menyerang Jovan, namun dengan gesit bocah itu menghindari serangannya.


"Hanya segitu kemampuanmu?" Ledek Jovan.


Meso menggeram marah, kembali melancarkan serangan bertubi yang membuat Jovan kewalahan.


"Bagaimana bocah?" Seringai lebar Meso mengembang.


Nafas Jovan terengah, keringat mengucur deras dikeningnya. Dirinya tidak bisa membalas menggunakan sihir karena ia belum cukup yakin untuk melakukannya.


"Sial! Dia pengguna sihir yang cukup hebat ternyata"


"Rasakan ini bocah!!"


Telapak tangan kiri Meso terbuka, sebuah cahaya berwarna biru gelap keluar menuju kearah Jovan. Bisa Jovan rasakan tingkat sihirnya yang lebih kuat dai sebelumnya.


"Brengsek!!"


Belum sempat Jovan menghindar tiba-tiba...


CTARR!!


Sihir Meso meledak diudara bertabrakan dengan sihir hijau yang melayang dari atas. Jovan menoleh keatas, disana sang ayah berdiri diujung tangga menatap tajam kearah Meso.


"Siapa kau?" Tanya Meso heran. Siapa lagi orang ini yang dengan lancangnya masuk kedalam istananya?


"Justin Scander" jawab Jovan puas.


.....


T b c?


Bye!