Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
31. Motor baru?



Dengan malas dan berat Geo merebahkan tubuhnya di atas kasur karena saat ini ia tengah berada di kamar milik sang daddy.


Geo pikir mereka akan berkunjung biasa lalu setelah itu pulang, tapi nyatanya mereka justru malah menginap disini.


"Tau gitu aku tidak perlu repot membujuk Jeno. Hah sial sekali!" gumam Geo.


Beberapa detik setelahnya yang Geo lakukan hanya menatap langit-langit kamar sambil melamun. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tapi keningnya mengkerut sangat dalam tanda bahwa ia sedang berpikir keras.


"Chicago ya..."


*


Makan malam selesai


Geo bersiap untuk beranjak dari kursinya, ia akan kembali ke dalam kamarnya untuk segera beristirahat.


"Kau mau kemana sayang?" tanya Galih begitu melihat Geo yang hendak bangun.


Geo menghentikan gerakannya, kemudian mengalihkan tatapannya pada sang papah. "Geo mau balik ke kamar, pah. Geo mau istirahat"


"Tapi ini masih sore"


"Tidak apa, Galih. Biarkan Geo beristirahat, masih ada waktu esok" Devan menimpali. Membiarkan keponakannya untuk beristirahat di kamar.


"Terimakasih paman dan selamat malam semuanya"


"Selamat malam, Geo"


Kevin menatap sang putra dengan pandangan sulit di artikan. Perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang anak itu sembunyikan.


Sana halnya dengan Devan yang melirik adik iparnya itu, dirinya jelas paham apa yang ada dalam pikiran Kevin. Tapi ia tidak akan ikut campur untuk masalah ini kecuali jika dirinya memang harus turun tangan.


Skip time..


Waktu masih menunjukan pukul 3 pagi, tapi sepasang suami-istri paruh baya sudah terbangun dari tidur mereka, bahkan telah memulai aktifitas mereka. Dimana tetangga yang lain bahkan belum terbangun atau mungkin baru akan mulai mengarungi mimpi.


Keduanya mondar-mandir di depan rumah seperti tengah sibuk melakukan sesuatu.


"Dimana tasnya?" Tanya sang istri yang kelimpungan mencari sesuatu.


"Disana. Kau melatakannya di belakang pintu kemarin" sang suami menjawab sambil menunjuk ke belakang pintu.


"Ouh hahaha astaga aku lupa" hanya gelengan kepala sang suami yang diberikan sebagai respon sudah biasa dengan sifat pelupa istrinya itu.


Tanpa mereka sadari ada sepasang netra biru yang sejak tadi memperhatikan segala pergerakan mereka.


Sosok itu adalah Geo. Saat ini Geo tengah berdiri di depan rumah keluarga Aldebaren, ya lebih tepatnya di depan rumah kedua orang tua sang daddy.


Mata Geo berkaca-kaca karena akhirnya dirinya bisa melihat kakek dan neneknya secara langsung. Geo tidak tau sejahat apa perlakuan mereka pada daddy nya dulu sampai sang daddy menganggap orang tuanya telah mati, tapi yang Geo tau mereka sangat menyayanginya dan tidak pernah absen menanyakan kabar tentangnya.


Lamunan Geo buyar saat telinganya menangkap suara sepeda motor. Kakek dan neneknya kini sudah duduk di atas motor usang yang di kendarai sang kakek.


"Apa mereka akan ke perkebunan? Sepagi ini? Persis sekali dengan daddy"


Kemudian Geo berbalik bergegas naik ke atas motornya untuk mengikuti dua orang paruh baya yang sudah berjalan lebih dulu.


"Apa motornya kuat berjalan sampai perkebunan?"


Geo memperhatikan motor usang yang di kendarai keduanya, ia khawatir motor itu tiba-tiba rusak di tengah jalan. Apalagi inu masih pagi buta, tidak akan ada bengkel yang buka di jam segini.


Namun rasa khawatir dalam diri Geo lenyap seketika begitu mereka telah tiba di depan pagar perkebunan. Kakek dan neneknya sampai dengan selamat.


"Syukurlah"


***


"Maaf tuan, tapi kami tidak pernah memesan motor. Apalagi motor semahal ini" Kava dan Carla saling pandang.


Keduanya kebingungan saat ada seorang pria dari showroom yang mengantarkan motor mahal untuk mereka. Harley-davidson Cosmic Starship yang harganya mencapai US$3jt.


"Motor ini sudah di bayar lunas atas nama Kava Aldebaren. Anda benar bukan?" Jawab si pegawai showroom yang mengantarkan motor mahal tersebut.


"Kalau begitu silahkan tanda tangan disini pak sebagai tanda bukti bahwa motor sudah diterima oleh anda"


Mau tidak mau Kava memberikan tanda tangan pada surat yang disodorkan pria di depan nya ini. Karena menolak pun percuma motor mahal itu sudah atas namanya.


"Kalau begitu ini surat-surat lengkapnya dan tugas saya sudah selesai. Kalau begitu saya permisi"


Setelah kepergian pegawai showroom, yang dilakukan Kava dan Carla hanya melamun. Mereka bingung harus mereka apakan motor ini.


"Apa Devan yang memberikannya?" Tanya Carla.


"Tidak mungkin" Kava membantah perkataan sang istri.


"Lalu siapa? Ada baiknya kita tanyakan pada Devan"


"Kau benar. Kalau begitu ayo kita ke Phoenix"


Keduanya pergi menuju Phoenix, mereka tidak menggunakan motor baru mereka tapi menggunakan motor mereka yang telah usang dan meninggalkan yang baru di perkebunan setelah menitipkannya pada salah satu pegawai.


Setibanya di depan gerbang markas Phoenix, mereka di hentikan oleh anak buah yang berjaga.


"Maaf tuan Aldebaren, apa anda memiliki keperluan penting?" Tanya salah satu pria berpakaian hitam yang berjaga di depan gerbang.


"Ada hal penting yang ingin kami pastikan, bisakah kami bertemu Devan?" Balas Kava.


"Bisa beritau kamu hal penting apa itu? Agar kamu bisa menyampaikannya pada tuan Devan"


"Ada orang yang mengirimi motor untuk kami, Harley-davidson Cosmic Starship. Kami ingin memastikan apakah Devan yang mengirimkannya atau bukan"


"Kalau begitu silahkan tunggu sebentar"


Sang penjaga berjalan masuk ke dalam markas. Menemui Devan yang kebetulan tengah berada di ruang tengah saat ini.


Sang penjaga tersentak dirinya sempat ragu untuk maju karena melihat Kevin yang berada di samping Devan, namun Devan keburu menyadarinya.


"Ada apa?" Tanyanya dengan suara berat. Penjaga tersebut menunduk. "Maaf tuan" kemudian melangkah mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Devan.


Devan mengangguk. "Biarkan mereka masuk"


"Baik tuan"


"Siapa?" Tanya Kevin. "Kau akan tau nanti"


"Silahkan" penjaga tersebut kembali bersama sepasang suami-istri paruh baya di belakangnya.


Mata Kevin menajam melihat siapa yang datang. Begitupun dengan Kava dan Carla yang menyadari keberadaan putra mereka disana.


"Duduklah mom, dad" ucap Devan mempersilahkan keduanya. "Kalian dari perkebunan?" Tanya Devan. Kava mengangguk kecil.


"Panggil Cassy dan Galih" perintah Devan pada salah satu maid.


"Mommy daddy" seru Cassy yang baru datang dari dapur bersama Galih. Galih mendekat, menyalami kedua mertuanya meski Carla sempat menolak karena tak ingin membuat Kevin marah.


"Tidak apa-apa mommy" bisik Galih. "Apa Geo baik-baik saja?" Tanya Carla. Galih mengangguk dengan senyum manis diwajahnya.


"Jadi? Apa yang mommy dan daddy ingin tanyakan?" Ucap Devan.


Kava melirik Kevin sebentar lali kembali menatap Devan. "Begini, tadi ada yang mengantar motor ke perkebunan untuk kami. Tapi daddy sama sekali tidak memesan apapun. Jadi daddy ingin bertanya apakah kamu dan Cassy yang mengirimkannya?"


"Motor apa itu?" Kali ini Cassy yang bertanya.


"Harley-davidson Cosmic Starship" jawab Kava yang sukses membuat Cassy dan Galih kebingungan.


"Maaf daddy, tapi Devan tidak mengirimkan apapun pada kalian" ucap Devan. Kava dan Carla saling pandang. "Lalu siapa?"


"Aku"


*****


See you!