
Setelah perjalanan panjang yang memakan waktu hampir 18 jam, Isabella dan Jovan kini sudah tiba diperbatasan Rusia. Mereka disambut oleh apara anggota pasukan yang sudah lebih dulu berada disana.
"Tuan muda, Jovan. Selamat datang " sapa Salah satu anggota begitu melihat Jovan berada dibelakang Isabella. Remaja 13 tahun itu mengangguk sebagai jawaban.
"Bagaimana hasilnya? " Tanya Isabella. Pengawal tersebut kembali maju, "masih sama nona, masih belum ada pergerakan yang terlihat dari mereka. Kami menunggu perintah selanjutnya dari anda"
"Aku mengerti, ayo " Isabella dan Jovan masuk kedalam mobil untuk menuju markas.
.......
Atlanta, Georgia
Disini lah Aldre berada. Lelaki itu tidak kembali ke Rusia tapi masih berada di Amerika. Orang yang diincarnya selama ini sudah berpindah tempat. Sangat membuatnya kesal karena berhasil lolos dari pengawasannya.
"Kau tidak akan lolos lagi dariku, Thomas! " Desisnya penuh ancaman. Ada sedikit senyum kecil dikedua sudut bibirnya, berpikir bahwa rencananya akan lebih mudah tanpa Isabella si pengacau.
"Semudah itu mengelabui mereka? Hahaha. Aku begitu pintar tenyata"
Pandangannya kembali fokus pada layar didepannya, menampilkan sebuah rumah sederhana disebuah desa, yang beberapa hari terakhir diawasinya.
Tidak lama seorang lelaki berkaos biru keluar dari dalama rumah. Secara reflek membuat Aldre menagapkan tubuhnya. "Thomas " bisiknya.
Thomas Alfan, mantan kekasih Ara enam tahun lalu. Lelaki brengsek yang membuat hubungannya dan gadis yang dicintainya hancur. Lelaki sialan yang hampir merusak masa depan gadisnya.
Kini, setelah enam tahun Aldre kembali mengejar pria itu, membalaskan enam tahunnya yang terbuang sia-sia. Tidak hanya lelaki itu, tapi juga sosok lain yang menjadi penghianat. Aldre sudah bersumpah tidak akan melepaskan mereka berdua.
Kembali pada Aldre yang masih fokus pada tv didepannya. Dalam layar tersebut, terlihat Thomas yang berjalan kedepan gerbang, ada sebuah mobil yang menunggunya disana. Aldre baru menyadari kehadiran mobil tersebut.
Sesaat dia tertegun. Dia tau siapa pemilik mobil ini. Roxy, sepupu angkatnya. Anak tunggal dari adik kandung ayah angkatnya.
DAMN!!
"Sialan!! Jadi ini caramu melawanku Roxy? "
"Baiklah, tidak masalah bagiku menghabisimu. Kalian hanya sampah!! "
Tangan lelaki itu terkepal erat. Buku jarinya memutih, urat ditangannya terlihat seperti cacing, menonjol, dan kencang. Giginya bergemelutuk keras, tatapannya semakin menajam, seiring dengan amarahnya yang meningkat.
.....
Kembali ke Rusia
Ibu dan anak itu kini sudah tiba dimarkas, Kevin menyambut kedatangan mereka. "Selamat datang nona dan tuan muda, Jovan" hormatnya main-main. "Daddy menggelikan" ucap Jovan.
Kevin tertawa kecil, sedangkan Isabella hanya mendengus melihat kelakuan saudara iparnya ini. "Ayo masuk" ajak Kevin. Mereka melangkah masuk kedalam bangunan bergaya khas eropa tersebut.
"Haruskah aku berbasa basi menanyakan perjalanan kalian? "
"Aku tidak gugup daddy, tapi terimakasih usahamu"
"Sure"
Kevin menatap lamat Jovan, tatapannya perlahan menjadi sendu, layaknga seorang ayah pada putranya. "Kau tau bahwa ini pertama dan terakhir kalinya dalam hidupmu, kan? Daddy berharap bahwa kau tidak akan tertarik lebih jauh"
"Aku tidak bisa berjanji, daddy. Tapi aku akan berusaha. Aku harap kalian tidak kecewa dengan apapun yang menjadi keputusanku nanti" ungkap Jovan dengan tegas.
Inilah rasa kekhawatiran Justin pada Jovan. Putranya mewarisi sifat kerasnya dan Isabella. Sifat yang tidak bisa dilawan siapapun.
"Daddy percaya padamu. Putuskan yang terbaik bagi dirimu sendiri"
Isabella memanggil seorang pelayan, memintanya untuk mengantar sang putra ke kamarnya."Istirahatlah, sayang. Bunda ingin berbicara sebentar dengan daddymu" Jovan mengangguk, meraih tasnya berjalan mengikuti pelayan tersebut.
"Kita keruanganmu, ka" mereka beranjak dari ruang tamu, menuju ruang kerja Kevin yang letaknya tak jauh dari sana. Yang lebih tua membuka pintu ruangannya, membiarkan yang lebih muda masuk terlebih dahulu, setelah itu mengunci pintu memastikan tidak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Jelaskan rencanamu sekarang! " ucap Kevin dengan tegas. Isabella menyandarkan tubuhnya pada meja, melipat kedua tangannya didada. "Aldre tidak berada di Rusia, ka"
"Apa?! "
"Dia masih berada di Amerika. Tapi bukan dia yang aku incar saat ini. Kau pasti mengerti cara bermainku kan? "
Kevin mengangguk. "Aku akan membiarkan Aldre menjalankan rencanananya, aku akan membuka jalan mudah untuknya, setelah itu kau bisq menebak apa yang akan aku lakukan"
"Lalu Jovan? "
"Dia senjata rahasiaku, ka. Kau akan tau nanti"
"Tidak ada orang yang bisa berfikir secepat dirimu, Isabella. Kau bahkan bisa merubah rencana baru dalam hitungan detik" keluh Kevin. Sampai detik ini dia bahkan masih tidak memgerti bagaimana otak seorang Isabella Courtlands bekerja.
"Kau belum tau apa yang bisa putraku lakukan. Setelah melihatnya, kau akan mengerti mengapa suamiku begitu posesif padanya" senyum miring tercetak dibibir merah itu.
Kevin tidak mau membayangkan itu. Isabella dan Justin saja sudah segila ini, bagaimana dengan putra mereka, Jovan.
......
"Aku tau seberapa menariknya duniamu, bunda. Dan aku tidak ingin munafik untuk tidak mengakui bahwa aku begitu tertarik"
"Maafkan aku ayah, aku tidak ingin mengecewakanmu sama sekali. Tapi aku berjanji tidak akan menyembunyikan apapun darimu"
......
T B C?
Bye!