
Sena menggigit jari-jarinya gugup. Wanita itu merasa sangat khawatir. Pasalnya sejak pergi tadi pagi hingga sore ini adik iparnya tak kunjung kembali. Ponselnya tak aktif, ia sudah menghubungi pihak kantor tapi mereka mengatakan bahwa adik iparnya tak datang sejak pagi.
"Halo" suara Jason terdengar begitu telpon tersambung.
"Halo, Ka" Sena menyahut dengan cemas.
"Ada apa, Sena? Kenapa suaramu begitu cemas? " Tanya Jason.
"Apa Carissa disana? "
"Tidak! Bukankah dia kekantor hari ini? "
"Seharusnya. Dia pamit pagi tadi, tapi sampai sekarang dia belum pulang! " Sena berbicara dengan pelan, berusaha agar tidak terdengar mertuanya.
"Mungkin masih macet dijalan, sayang" ucap Jason tenang.
Sena menggeleng kencang. "Aku sudah menghubunginya tapi sejak dia pergi ponselnya tak aktif, dan pihak kantor mengatakan Carissa tidak datang sejak tadi pagi"
Belum Jason menjawab, suara deringan ponsel terdengar dari seberang sana. Sena bisa mendengar jelas suara Galih yang mengatakan bahwa suaminya menelpon.
Di mansion Courtland
"Halo hubby" Galih menyalakan spiker, agar semua orang mendengar apa yang sang suami katakan.
"Love! Mereka sudah menyerang Aldre! " ucap Kevin diseberang.
"Apa mereka berhasil? " Tanya Galih cemas.
"Tidak! Aldre menjebak mereka. Tapi... Sin tidak ikut dengan mereka! "
"apa? "
"Informasi yang kami dapatkan, Sin pergi sejak pagi buta"
Jason tertegun, apa mungkin?
"Ka? Carissa.... " suara Sena terdengar. Semua orang menoleh pada Jason. "Sin? Apa Carissa bersama Sin? " Tanya Sena yang dapat didengar semua orang karena Jason tidak sengaja mengaktifkan spiker.
Semuanya tertegun, begitupun Kevin yang mendengarnya. Jason mematikan telponnya, pikirannya kalut pada sang adik yang menghilang.
"David! Jemput keluargamu dan bawa mereka kesini! Saka kawal David! " Saka mengangguk, mengikuti David yang langsung berlari cemas.
.
.
Perbatasan Rusia
"Isabella!! " Kevin berlari terburu-buru masuk keruang rawat Imelda. Isabella menatap datar saudara iparnya itu.
"Ada apa? " Tanya Isabella datar.
"Carissa!! Sin menculik Carissa! " ucap Kevin cepat.
Mata Isabella membelalak, begitu juga Imelda dan Jovan. "Bunda apa yang harus kita lakukan? " Tanya Jovan cemas.
Isabella terdiam, Kevin mencoba menebak apa yang ada dalam pikiran wanita itu. "Beritau dokter untuk mempersiapkan kepulangan Imelda dan bayinya. Kita kembali ke LA! " Perintahnya mutlak.
Danesh mengangguk, segera memerintahkan seluruh anak buahnya untuk bersiap.
Tidak lama kemudian Imelda dan bayinya diijinkan pulang. Mereka langsung bergegas pergi ke bandara, menyisakan Isabella sendiri di sana.
"Apa tidak apa-apa kita meninggalkan bunda, daddy? " Tanya Jovan.
"Jangan khawatir. Sekalipun sendirian, tidak akan ada yang bisa menyentuh bundamu! " jawab Kevin.
10 menit kemudian pesawat mereka lepas landas. Isabella berbalik, melanjutkan langkahnya menuju istana Romanov.
Tidak butuh waktu lama baginya tiba ditempat tujuan. Wanita itu turun dari mobil, melangkah masuk dengan santai.
Langkahnya tegas berjalan menuju ruangan milik pemimpin keluarga Romanov, Ferosa Romanov. Namun sayangnya langkah Isabella dihentikan oleh seorang pengawal.
(Kami akan membunuhmu jika kamu melangkah lebih jauh, Putri Isabella)
CRAKKKK
Dengan cepat Isabella mengayunkan pedangnya, memisahkan leher dan tubuh pengawal tersebut.
"сделай если сможешь! "
(Lakukan jika kamu bisa! )
Netra abu gelap itu memandang bengis wayat pengawal. Sepertinya Isabella sedang tidak ingin memainkan permainan apapun saat ini.
Kembali melangkah kan kakinya yang tertunda. Kini Isabella tiba di depan ruangan tuan Ferosa.
BRAKKK
Kakinya yang mengenakan heels setinggi 5 cm menendang pintu dengan kasar. Sukses membuat pemilik ruangan terkejut.
"Putri Isabella! " panggil tuan Ferosa terkejut dengan kedatangan tamu istimewanya yang lebih cepat dari dugaannya.
"Фероза, ты знаешь, чего я хочу, не так ли? " ujar Isabella.
(Ferosa, anda tau apa yang saya inginkan, bukan? )
Tuan Ferosa cukup terkejut dengan aksen Rusia Isabella yang sangat bagus. "Ух ты! Я польщен твоим красивым акцентом "
(Wow! Aku tersanjung dengan aksen indahmu)
Isabella menatap pria paruh baya didepannya dingin. Lelaki itu berjalan memutari tubuh Isabella yang sejak awal wanita itu masuk membuatnya tertarik.
Ferosa berdiri tepat dibelakanh tubuh Isabella, menyentuh pinggang ramping wanita yang baru sebulan lalu melahirkan. Tangannya naik turun mengelus sensual.
"Bukankah lebih baik jika kau menjadi nyonya besar Romanov, Princess Isabella! " bisiknya tepat ditelinga Isabella.
Isabella tersenyum miring, pandangannya berubah menjadi sayu. "Menurutmu begitu?" Balas Isabella lembut.
Ferosa menjadi bersemangat, merasa bahwa wanita ini sudah masuk kedalam jebakannya. Baginya, tidak akan ada yang bisa menolak pesona seorang pemimpin Romanov.
Tangan nakal pria itu semakin menjalar. Bahkan kini kedua tangannya sudah bertengger indah di atas dada Isabella. Meremasnya lembut, mencoba merangsang targetnya.
"I really sorry boo" batin Isabella.
Isabella mendongak kepalanya, bersikap seolah-olah menikamti permainan pria itu. "Kau menyukainya, sayangku? Ouhh ini sunggur besar! " ucapnya kagum.
Isabella mengerang, "aahhh, lebih cepat sayang" pintanya. Sukses membuat Ferosa semakin bersemangat. "Nggghhh" ******* Isabella kembali terdengar.
Isabella memutar tubuhnya cepat, mendorong Ferosa ke atas sofa. Menaiki tubuh pria itu yang memandang penuh nafsu kearahnya.
"Kau tau, Ferosa? Kenapa suamiku benci aku menjadi mafia? " Tanya Isabella dengan sura sexynya.
"Karena dia pecundang" ucap Ferosa bangga.
Isabella menyeringai kejam. "Karena aku.... Menjebak mereka seperti apa yang aku lakukan padamu saat ini!" Senyum Ferosa luntur seketika.
"Sampai bertemu dineraka, sayangku! "
CRAKKK
Netra abu gelap itu terpejam, kembali terbuka dengan sorot bahagia. Wajah cantiknya penuh dengan darah. Lidahnya terjulur, menjilat darah diujung bibirnya.
Tangannya yang memegang pedang kembali terayun, memotong kedua tangan yang berani menyentuhnya sembarangan. "Boo akan suka hadiahku! "
.....
T B C?
BYE!