
Meso membuka lebar rentangan tangannya, menyambut dengan bahagia kedatangan seseorang yang sudah lama dinantikannya. Senyumnya terpampang lebar dengan binar bahagia dari sorot matanya yang tidak menyurut sedikitpun.
"Selamat datang di istanaku yang tidak seberapa ini... Mr. Laxo" sambutan hangat Meso serukan begitu seseorang yabg dinantinya berdiri gagah dihadapannya.
"Terimakasih atas sambutan luar biasamu, Mr. Meso. Suatu kehormatan bagi saya bisa disambut secara langsung oleh keturun Napolin Croelden" balas Laxo dengan seringai lebar khasnya.
Meso terkekeh kecil menanggapi. "Silahkan masuk, yang lain sudah menunggu kedatangan anda"
Lelaki 60 tahun itu menuntun Laxo untuk masuk kedalam menuju ruang tamu miliknya, dimana para pemimpin Mafia dari kelompok lain sudah menunggu.
"Woah? Laxo? Hahaha Revano pasti senang bertemu kembali denganmu" seruan terkejut menjadi sapaan pertama begitu tubuh Laxo memasuki ruang tamu mewah itu.
"Itu kenapa aku menerima kerjasama ini, Farthur" balasnya.
Farthur Qarteus, salah satu dari sepuluh musuh besar Revano yang menempati posisi dibawah Laxo. Sama seperti Laxo yang begitu berambisi melawan Revano, Farthur tidak ada bedanya. Hanya saja ambisi mereka bukan untuk menjatuhkan sang Godfather, tapi ingin menghancurkan wajah menyebalkan sang pemilik gelar Raja Mafia tersebut yang selalu mengejek mereka dengan wajah menyebalkannya ketika mereka kalah dalam pertarungan 2 lawan 1 melawan Revano Courtland.
"Sepertinya kalian sangat mengenal baik Godfather" Meso begitu antusias mendengar pembicaraan keduanya.
Farthur menghebuskan asapa cerutunya keudara. "Lebih dari yang kau bayangkan"
"Aku dengar putrinya yang memegang tahta Ratu dunia bawah tidak ikut terjun kali ini" timpal salah satu dari mereka.
"Benarkah? Itu lebih memudahkan kita mengalahkannya" timpal yang lainnya.
Laxo menghempaskan tubuhnya disalah satu single sofa yang berhadapan dengan Meso. Kaki kanannya ia silangkan diatas kaki kirinya.
"Bukan berarti kita tidak boleh lengah. Putranya, Jovan Scander aku yakin anak itu pasti ikut andil"
"Sikembar Scander yang baru berulang tahun yang ke 14 beberapa bulan lalu maksudmu?" tanya yang lainnya.
Laxo mengangguj singkat"Ya"
"Dia hanya bocah" ejek lelaki itu tertawa remeh. Lagipula apa yang bisa dilakukan seorang bocah 14 tahun? Tidak perlu dikhawatirkan, begitu menurutnya.
"Menurutmu begitu?" Laxo memandang tanpa minat lawan bicaranya yang masih tertawa remeh bersama yang lain. Lebih tepatnya menertawakan dirinya yang takut dengan bocah 14 tahun.
"Kau terlalu khawatir dengan bocah itu, Mr. Laxo" ujar Meso tenang diringi senyum lebarnya.
"Kau yang tidak mengenalnya, Meso. Aku yakin kau juga tidak tau tentang Justin Scander"
"Justin Scander? Suami sang Ratu?tentu saja aku tau, siapa yang tidak mengenal Raja bisnis didaratan Amerika yang sulit sekali ditembus"
Laxo tertawa keras mendengar jawaban polos Meso. Lelaki ini cukup bodoh sebagai seorang keturunan Napolen Croelden, padahal pria tua bangka itu orang cukup mengerikan. Kasihan sekali Napolen, keturunannya ternyata tidak lebih dari seoonggok sampah tak berguna.
Farthur dan yang lainnya memandang Laxo heran. Kenapa lelaki itu tertawa begitu keras? Apa dia sudah gila?
"Kau sungguh tidak tau? Pemimpin The Cruel'd sebelum Aldre, orang yang menghancurkan markas abadi The Cruel'd di Washington, sekaligus sosok sebenarnya yang berhak atas kalung milik ayahmu? Justin Scander, suami sang Ratu. Harusnya kau tau itu Meso" ucap Laxo tajam. "Kau lucu Meso, pantas kau bodoh" matanya memicing sinis.
Meso terbelalak, dirinya tidak tau fakta ini sebelumnya. Farthur dan para pemimpin Mafia lainnya pun tak jauh beda.
"Jovan Scander, aku yakin bocah itu akan melampui kakek dan bundanya. Kau tidak tau seberapa hebatnya dia yang menyusup masuk istana Romanov dengan penjagaan super ketat tanpa terdeteksi, bahkan berhasil lolos dari kamar Aldre yang sejatinya tidak bisa ditembus siapapun"
"Kalian terlalu meremehkannya sebagai bocah 14 tahun. Berhatilah-hatilah Meso, kau tidak tau apa yang bisa bocah itu lakukan padamu!" Peringatan keras Laxo layangkan. "Aldre bahkan tidak bisa mengalahkannya" lanjunya lagi.
Sejujurnya Laxo tidaklah perduli dengan Jovan, dirinya hanya menginginkan musuh abadinya Revano. Jadi dia tidak perlu memusingkan yang lainnya. Laxo mendesah kecewa, bagaiman bisa dirinya mendapatkan sekutu yang lebih bodoh dari Roxy? Dan omong-omong lelaki sialan itu tidak lagi terlihat sejak pertempuran saat itu.
"Bagaimana bisa kau mengetahui hal ini, Laxo?" Tanya Farthur tak percaya.
Laxi memiringkan sedikit kepalanya kekanan. "Kau yang bodoh! Justin bahkan menjalan The Cruel'd secara terang-terangan. Semua orang tau bagaimana lelaki itu menghancurkan markas abadi yang katanya tidak bisa dihancurkan oleh apapun. Dan yang aku tau, dia membangkitkan markas itu kembali untuk mencari tau tentang Napolen"
"Tapi kalung itu ada padaku selama ini. Bagaimana bisa dia menghancurkannya?" Sergah Meso penuh amarah.
"Itulah hebatnya dia. Dia mampu menghancurkannya tanpa kalung sialan Napolen!"
Meso mengepalkan tangannya kuat, setelah sibrengsek Devan, lalu si penghianat Aldre, dan sekarang Justin Scander! Benar-benar brengsek.
"Aku akui kau cukup berani menantang Godfather, Meso. Napolen bahkan tidak berani melakukannya. Ayahmu tunduk patuh pada Godfather dalam sekali tatap, dan kau putranya yang bodoh malah dengan tidak tau diri menantangnya. Luar biasa!"
Laxo bertepuk tangan keras, mengapresiasi kebodohan Meso yang tak tertandingi.
"Aakkhhh terserah! Kita akan tetap bisa menghancurkan mereka!" Sahut pemimpin Mafia yang sebelumnya meremehkan Jovan dengan penuh ambisi.
"Terserahlah! Tapi jangan meminta bantuanku nanti, karena urusanku hanya dengan Revano! Jujur saja Meso, aku tidak perduli dengan rencanamu" seru Laxo malas.
Perkataan Laxo cukup menyudutkan keadaannya bagi Meso, dirinya tidak memperkirakan kejadian ini sebelumnya. Faros benar, ia cukup bodoh dalam mengambil tindakan. Tapi jika sudah seperti ini tidak ada jalan untuk mundur, bendera perang sudah dikibarkan, dan itu artinya perang akan tetap berlanjut sampai akhir.
'Bagaimanapun keadaannya, kau akan tetap mati ditanganku Devano!!' Batin Meso penuh dendam. Dirinya tidak akan pernah melupakan bagaimana ayahnya meregang nyawa dihadapannya dengan cara yang sangat mengenaskan, dan itu karena ulah si bajingan DEVANO COURTLAND!
"Bagaimanapun tujuanku menghabisi Devano Courtland harus terlaksana! nyawa ayahku harus terbayar dengan tuntas!" ucap Meso lantang.
"keras kepala!" cibir Feros yang sejak tadi mengintip pertemuan mereka dari balik tembok.
.....
T B C?
BYE!