Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
157



Sin meringis sakit saat pahanya di cubit kemcang oleh Carissa. Dan kini sahabatnya itu menatal tajam ke arahnya.


"Hai mantan" sapa Rolen dengan seringai lebarnya.


Carissa melotot tajam pada Sin, yang di balas kedikan bahu gadis itu..


"Kau menyapanya seolah dia mantan kekasih mu" sahut Fedrick.


"Memang mantan kekasih ku" balas Rolen santai.


"What?!"


Sin menatap Carissa tak kalah tajam. Menuntut penjelasan dari putri bungsu keluarga Alexander itu. Carissa tidak pernah mengatakan bahwa dia sudah berpacaran dengan seseorang yang di sebutnya sebagai Crush. Sin pikir hubungan mereka sebatas pdkt.


"Kau tidak pernah mengatakan apa pun padaku" ujar Sin


"Ssstttt" Carissa menempelkan jari telunjuknya di bibir. Meminta sahabatnya itu untuk diam.


"Jadi? Kenapa kau pindah ke sini?" Tanya Fedrick pada Rolen yang masih asik menatap Carissa.


"Mengejar mantan kekasih ku yang meninggalkan ku tanpa pamit" ungkap Rolen.


Pandangan lelaki itu tidak terlepas sedikit pun dari Carissa. Membuat gadis cantik itu salah tingkah karena merasa sindiran itu di tunjukan untuknya.


"Kasian sekali" celetuk Sin enteng.


Carissa menyenggol lengan Sin kencang. Sekali lagi meminta sahabatnya untuk diam. Tapi Sin adalah Sin, gadis itu tidak akan diam begitu saja saat ada sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Kenapa tidak membalas pesan ku?" Rolen kembali bersuara. "Carissa!"


"Tidak ada kewajiban bagiku untuk membalas pesan mu" Carissa menjawab dengan ketus.


"Aku masih kekasih mu jika kau lupa"


"Cih! Aku tidak sudi"


"Kau salah paham. It's not me"


"It's not you? Really?"


"Kau harus mendengar penjelasan ku"


"Penjelasan apa hah?! Kebohongan apa yang ingin kau katakan pada ku?! Aku melihat semuanya dengan mata kepala ku sendiri brengsek!!" Sembur Carissa penuh amarah.


Sin dan Fedrick hanya bisa terdiam. Karena sesungguhnya mereka tidak tau apa yang terjadi pada kedua orang ini.


"Car..." Rolen menatap Carissa sedih. Dalam hati merutuki segala kebodohan yang dirinya lakukan dulu.


"Aku mau pulang Sin. Kalau kamu masih mau disini terserah!"


Carissa meraup tasnya, kemudian pergi dari restaurant begitu saja.meninggalkan Sin yang masih mencerna kejadian barusan.


"Carissa tunggu!!!"


Sin akhirnya berlari mengejar sahabatnya setelah sebelumnya membereskan barang-barang miliknya.


Selepas kepergian kedua wanita itu, tidak ada suara yang keluar dari binir Fedrick maupun Rolen. Keduanya sama-sama bungkam.


"Apa yang kau lakukan sampai Carissa membenci mu seperti itu?" Fedrick membuka suara, memcah keheningan.


Tarikan nafas berat dari sosok di sebelahnya bisa Fedrick dengar dengan jelas.


"Carissa memiliki seorang sahabat di Sydney. Gadis itu satu-satunya teman yanb Carissa miliki di sana selain aku"


"Gadis itu menyukai ku, tapi aku menyukai Carissa. Tapi Carissa tidak tau tentang hal itu, dan aku tidak perduli dengan perasaan gadis itu"


"Apa hubungannya dengan masalah mu?"


"Gadis itu menjebak ku. Mengundangku ke sebuah pesta yang di buat dengan alasan sebagai perpisahan untuk kami. Tapi dia tidak mengundang Carissa, dan aku tidak curiga karena tau Carissa tidak memiliki toleransi pada alkohol"


"Dia membuat mu mabuk?"


Rolen mengangguk. "Ya. Tapi kau tau bagaimana aku ketika mabuk. Aku tidak seperti orang lain yang akan mengamuk dan meracu tidak jelas. Kau justru langsung tertidur saat mabuk"


Fedrick bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. "Dan Carissa memergoki mu dengannya di atas ranjang. Begitu?"


Rolen kembali mengangguk. "Tapi aku tau dengan jelas bahwa aku tidak pernah melakukan apapun pada gadis itu. Karena aku tidak mencium aroma ****** saat aku bangun"


Fedrick menghempaskan tubuhnya ke belakang. Tangannya memijat keningnya yang terasa berdenyut. Ada saja masalah yang menghadang setiap kali dirinya ingin bergerak.


"Aku akan membantu mu. Tapi kau harus membantu ku dekat dengan Sin setelahnya. Bagaimana?"


Rolen menatap sepupunya itu dengan mata berbinar. "Sungguh?" Fedrick mengangguk mantap.


"Deal" keduanya saling berjabat tangan sebagai persetujuan atas kesepakatan yang mereka buat.


*


*


Di taman belakang mansion Aldre. Ara yang tengah bersantai di gazebo duduk sambil melamun. Entah kenapa pikirannya saat ini malah tertuju pada kedua sahabatnya. Perasaannya sedikit tidak tenang.


Cupp..


Satu kecupan manis mendarat di pipi Ara, menyadarkan ibu muda itu dari lamunannya. Ara menoleh, matanya menangkap sosok sang suami yang tersenyum tampan sambil menyodorkan segelas es jeruk kepadanya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Pelayan bilang sejak tadi kamu melamun. Bahkan tidak menyahut saat mereka mengajakmu berbicara"


Aldre mendudukan dirinya tepat di sebelah Ara. Mendaratkan kecupan-kecupan kecil di kepala sang istri.


"Tidak ada. Hanya saja tiba-tiba aku terpikirkan Sin dan Carissa"


"Memangnya ada apa dengan mereka?"


"Entahlah. Perasaan ku sedikit tidak tenang"


"Jangan khawatir, mereka berdua pasti akan baik-baik saja" ucap Aldre menenangkan.


"Mm" Ara menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami. "Kapan anak-anak akan di antar ke sini?"


"Besok siang"


"Loh? Kan kamu bilang hari ini?" Ara memekik kesal. Pasalnya Aldre sudh berjanji bahwa hari ini anak-anak akan kembali bersama mereka.


"Maaf sayang. Tapi mamah dan papah masih ingin bersama ke dua cucu mereka" jawab Aldre lembut.


"Aldre jelek"


"Salah terus"


......


T b c?


Bye!