
"Harusnya aku sudah menduga apa tujuan mereka!" Desis Justin merasa tertipu dengan ketiganya.
Isabella terkekeh geli, dirinya baru menyadari jika salah satu pedang di ruang senjata ada yang menghilang.
"Si bungsu memang tidak bisa di percaya" desis Justin lagi yang masih kesal.
"Sudahlah boo. Setidaknya Jovan masih memiliki rasa takut pada mu" Isabella melerai perasaan kesal suaminya.
"Tapi dia jadi sering menipu ku! Padahal jika dia meminta izin pun aku tidak akan marah"
"Kau terlalu protektif padanya. Jelas dia tidak akan berani meminta izin langsung pada mu"
Justin menghembuskan nafas kesar, kepalanya mendongak ke atas masih dengan sorot kesal yang begitu kentara di wajahnya.
Isabella perlahan mendekat pada kursi kerja milik Justin, kemudian mendudukan tubuhnya di atas pangkuan sang suami.
"Valerie dan Fero sudah kembali tidur" bisiknya halus. Justin menegakkan kembali kepalanya, sebelah alisnya terangkat menatap tak mengerti ke arah sang istri. "Lalu?" Tanyanya heran.
Isabella mengangkat jarinya seperti sedang menghitung, lalu menunjukan angka tiga. "Kita punya waktu.... Tiga jam" bisiknya lagi. "Kau yakin hanya ingin menghabiskannya dengan bekerja?"
Setelah memproses cukup lama, Justin baru mengerti apa yang di maksud istrinya itu.
"Ini masih pagi, bee" ucapnya dengan nafas yang mulai memberat.
"I don't care" dengan tatapan menggodanya, Isabella mendekatkan wajahnya pada wajah Justin. Mencuri satu kecupan kecil di bibir tipis sang suami.
Selanjutnya yang terdengar hanyalah suara erangan Justin dan Isabella yang saling bersahutan.
***
Daniel, Ana, Erick Dan juga si cantik Harena tiba di kediaman keluarga Skholvies tepat pukul 9 pagi.
Kiransa yang sudah menanti kedatangan sepupu cantiknya itu berlari dari ruang santai begitu mendengar suara khas sang paman yang baru saja melangkah masuk melewati pintu.
"Harenaaaa" pekikan senang yang keluar dari bibir mungil Kiransa membuat Harena tertawa gemas.
"Ka Kiraannn" balasnya tak kalah senang.
Kiransa memeluk tubuh Harena yang jauh lebih mungil darinya. "Lama sekali. Aku sudah menunggu dari tadi tau" protesnya kecil.
"Maaf ya. Tadi ka Erick tidak mau lepas dari ka Jeno" balas Harena dengan wajah polos.
Erick yang mendengar perkataan sang adik sontak melotot. Apa-apaan yang di katakan adik kecilnya itu. Yang benar saja? Sejak kapan dirinya menjadi sangat menempel dengan Jeno? Pasti Jovan yang mengajarkan adiknya berbicara seperti itu!
"Jangan sembarangan" sentak Erick kesal. Harena mendongak kebelakang, menatap sang kaka. "Kkkkkk"
"Kamu tuh harus jauh-jauh dari Jovan! Dia membawa pengaruh buruk!"
"Ka Jovan ganteng kok"
"Hilih"
"Udah-udah ayo masuk. Kakek sama nenek udah nunggu loh" lerai Daniel menghentikan perdebatan kedua anak-anaknya.
Begitu tiba di ruang santai terlihat Kevin dan Dion yang sedang mengobrol sambil menyesap segelas teh hangat.
"Ouh, kalian sudah tiba? Aahhh ini dia yang berulang tahun" Dion merentangkan tangannya, memberi kode pada Erick untuk segera memeluknya.
Namun bukannya Erick yang menyambut pelukannya justru Harena lah yang menyambut lebih dulu.
Harena mengerucutkan bibirnya. "Harena dulu, uncle. Baru nanti ka Erick"
"Ouhhh ada yang cemburu ternyata"
"Hihihi"
"Paman Kevin" panggil Erick. "Ya" jawab Kevin.
"Apa Geo tidak akan pulang?" Erick bertanya dengan suara yang amat pelan.
Kevin tersenyum sendu saat kembali mengingat putra sulungnya. "Geo masih sibuk, tugasnya sangat menumpuk akhir-akhir ini. Tapi dia bilang akan mengusahakan pulang dalam waktu dekat. Dia juga menitip salam untuk mu, jika kelasnya sudah berakhir dia akan menghubungi mu nanti"
Erick mencebik keras. "Alasan" dirinya begitu merindukan sepupunya itu. Sudah dua tahun Geo tidak pulang ke LA, dan lagi bocah itu sulit sekali di hubungi.
Erick bukan tidak menyadari ada sesuatu yang salah dari sepupunya itu. Sulit membuat Geo bercerita tentang masalahnya, karena bocah terlalu tertutup.
"Sayang.." Tegur Ana yang mengerti kesedihan sang anak.
Di antara saudaranya yang lain, Geo adalah yang paling dekat dengan Erick. Bahkan lebih dekat daripada dengan saudara kembarnya sendiri, Keano.
"Dia pasti sering berhubungan dengan Jeno" cibir Erick.
"Memangnya Jeno tidak cerita?" Tanya Daniel. Erick semakin mengerucutkan bibirnya. "Jeno pelit"
"Yasudah. Tunggu sampai Geo menghubungi nanti, baru kamu bisa marah-marah padanya"
"Mm"
**
"Erick bertanya tentang Geo ya?" Galih membuka suara setelah terdiam beberapa saat.
Kevin tersenyum tipis, tangan besarnya merengkuh tubuh yang lebih kecil darinya itu. "Mm"
"Aku merasa Geo menjauh dari ku" ucap Galih dengan nada sedih yang begitu kentara.
Kevin memejamkan matanya. "Jangan berbicara seperti itu, Love"
"Tapi perasaan seorang ibu tidak pernah salah, hubby. Iya kan?"
"Love..."
Galih melepaskan paksa pelukan dan mendorong kasar tubuh besar lelaki tercintanya itu. "Kamu gak pernah beritau aku alasan Geo pergi selama ini. Selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali aku bertanya!!!" Sembur Galih marah.
"Karena Keano alasannya, Love!!" Balas Kevin dengan sedikit membentak.
Galih terdiam, air mata luruh dari matanya. "A-apa?"
"Aku mohon, Love. Ini juga berat buat aku"
"...."
****
See you!!