
Geo memutar bola matanya malas, mulai jengah dengan tingkah Virzan yang seperti tengah menerornya. Cowok itu hanya menatap ponselnya yang terus berdering tanpa berniat untuk menyentuhnya sedikit pun.
Dalam keterdiaman nya, Geo kembali teringat dengan perkataan para sahabatnya tentang Virzan yang mungkin saja menyukainya.
"Gak mungkin kan?" gumamnya sembari meyakinkan diri bahwa perkataan sahabatnya tidaklah benar.
"Tapi aneh banget. Seinget gua pun, dulu bisa di hitung jari kapan Virzan nelpon gua. Bahkan gua hampir gak inget punya nomor dia" ucapnya lagi berbicara sendiri.
"Ah bodo ah pusing"
Geo memilih merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Ia tak perduli dengan ponselnya yang masih terus berdering. Tak mau meladeni tingkah gila sang pewaris tahta yang sepertinya sedang kesurupan itu.
-
Virzan menurunkan ponselnya dari telinga, menatap lemas benda pipih itu yang layarnya menampilkan nama Geo.
"Tidak di angkat?" melihat raut lesu putra sulungnya, Verrel bisa menebak bahwa putranya itu pasti mendapatkan penolakan.
Kepala Virzan mengangguk lemas. Bibirnya melengkung ke bawah, kedua bahunya turun, dan pandangannya ia bawa menatap lantai.
Verrel menarik nafas halus, menyudahi acara merokoknya setelah mematikan lintingan tembakau itu.
"Jangan terlalu agresif, son. Geo bisa risih pada mu. Daddy tau kau ingin dekat dengannya, tapi tidak dengan cara seperti ini" ucap Verrel memberikan nasehat.
"Vi hanya merasa sangat semangat, daddy" balas Virzan lirih.
"Daddy mengerti, tapi kau harus bisa mengontrol diri mu. Jika kau terus seperti ini bukannya mendekat Geo justru akan semakin menjauh. Kau memiliki banyak waktu setelah kau sampai disana nanti"
Virzan menghembuskan nafasnya kasar. Bibirnya mengerucut namun wajahnya tidak selemas sebelumnya. Kedua tangannya saling mengapit namun jari-jarinya bergerak tak beraturan.
Tidak lama kemudian Maxime datang dengan segelas air putih hangat di tangannya. Meletakkannya di depan Verrel dan memberikan kode kepada sang suami untuk segera meminumnya, karena pria itu baru saja selesai merokok. Verrel menurut, meminumnya hingga tersisa setengah gelas.
Setelah memastikan sang suami meminum air yang ia bawa Maxime mengalihkan pandangannya pada putra sulungnya yang terlihat lemas.
"Ada apa?" tanyanya dengan nada lembut khas keibuan.
Virzan membalas tatapan Maxime dengan sorot sedih. "Geo tidak menjawab telpon Vi" adunya.
Tawa manis Maxime meluncur. "Kulkas kecil ini benar-benar jatuh cinta ya" ledek Maxime.
"Papoooo~" Virzan merengek tak terima di ledek oleh paponya.
"Maaf maaf, abisnya tingkah mu lama-lama lucu sekali"
"Vi sedang sedih papo"
"Iya-iya. Dasar anak daddy"
"Papoooo~"
"Kkkkkk"
"Tuh, daddynya ngebelain. Pantes aja sama-sama kaya kulkas" seolah tidak mau menyerah, Maxime kembali melanjutkan keusilannya.
"Daddyyyyy ayolahhhh~" Virzan menatap Verrel, meminta tolong pada pria itu untuk menyelamatkan nya dari tingkah menyebalkan Maxime.
Verrel hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Moon" tegur Verrel dengan nada sedikit tegas.
Bibir Maxime mencebik keras, melirik sinis sang suami. "Dasar tidak asik" lalu kembali menatap Virzan. "Jadi? Berapa banyak telpon mu yang di abaikan Geo?"
"Daddyyy~" Virzan rasanya benar-benar ingin menangis sekarang. Paponya sangat senang menjahilinya dan ia tidak bisa membalas kejahilan itu jika ada daddynya.
"Ya tuhan, Moon. Berhenti menjahilinya" Verrel menjadi ikut jengah dengan tingkah sang istri. Tapi pria tampan nan manis itu hanya tertawa puas.
Setelah beberapa saat Maxime akhirnya bisa mengontrol tawanya. "Oke-oke papo minta maaf ya" ucapnya.
Kedua tangan putih itu menggenggam tangan kecil yang mungkin beberapa tahun lagi akan lebih besar dari tangan miliknya.
Netra biru khas orang eropa itu menatap lekat netra biru laut khas keluarga Courtland.
"Vi pasti tau apa yang terjadi pada Geo dan keluarganya bukan? Dan papo sudah pernah mengatakan pada Vi, bahwa saat ini jauh lebih baik jika Vi fokus pada mimpi dan kebahagian Vi sendiri.
Vi tau gak kenapa papo bilang seperti itu?"
Mxime menghentikan ucapannya menunggu reaksi dari Virzan. Virzan menggelengkan kepalanya lambat.
"Karena jika Vi tidak bisa membahagiakan diri Vi sendiri, bagaimana Vi bisa membahagiakan Geo? Hidup Geo kacau, bahkan mungkin sudah di ambang kehancuran, dan papo yakin Vi pasti tau apa penyebabnya.
Jika Vi membawa Geo bersama Vi tapi Vi sendiri tidak bahagia, bagaimana dengan Geo? Bukankah itu artinya sama saja dengan Vi menambahkan kacau kehidupan Geo?
Geo sedang dalam fase dimana dia tidak bisa memikirkan apapun selain hidupnya. Jangan membebaninya dengan perasaan yang Vi punya. Jika dia takdir Vi maka Geo akan menjadi milik Vi, tapi jika tidak ya berarti Vi harus ikhlas.
Biarkan semuanya berjalan seperti seharusnya. Jika Vi ingin membantu Geo ya silahkan, tapi jangan pernah ikut campur kedalamnya karema itu bukan ranah Vi untuk melakukannya. Vi mengerti yang papo katakan?"
Virzan mengangguk, perkataan Maxime menyadarkannya bahwa tindakan nya adalah salah dan ia harus bijak dalam mengambil sebuah keputusan.
"Vi mengerti, maafkan Vi papo"
"Tidak masalah. Orang yang sedang jatuh cinta memang selalu bodoh"
"Daddyyyyy~"
"Moon!"
"Kkkkkkk"
---
See you!