Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 32



"Bergeraklah dengan cepat! Mereka sudah mengawasi kita, apalagi sekarang kakak iparmu dan godmother bersatu. Aku tidak bisa menahan mereka lebih lama! " ucap seseorang diseberang sana.


"Aku mengerti, dad. Aku akan mulai menjalankan rencanaku" sahutnya.


"Baiklah, beritahu aku jika kau sudh mulai bergerak"


"Mm. Oh, bisakah kau mengawasi adikmu? "


"Roxy? "


"Ya"


"Aku mengerti. Kalau begitu aku tutup telponnya"


"Mm"


Aldre meletakkan ponselnya ke atas meja, meraih cangkir kopinya yang sudah dia abaikan sejak sepuluh menit yang lalu. Menyesapnya dengan hati-hati. Menikmati setiap rasa yang tercecap dilidahnya.


"Kopi dipagi hari memang selalu terasa lebih nikmat"


Tubuh tegap Aldre bersandar pada kursi, matanya terpejam menikmati terpaan sinar matahari pagi.


Rencana yang disiapkannya selama enam tahun sudah matang 100%. Yang perlu dia lakukan adalah merealisakinnya, dan memastikan semuanya berjalan seperti keinginannya. Siapapun yang menghalanginya, Aldre tidak akan membiarkannya. Persetan dengan status keluarga atau apapun itu.


.....


"Dia akan baik-baik saja Ara, kau tidak perlu secemas itu. Dan berhentilah bergerak, aku pusing melihatmu"


Suara didalam kepalanya, menghentikan gadis itu yang sejak setengah jama lalu, terus berputar didalam kamarnya tanpa henti.


"Diamlah Vionika! Aku sedang pusing "


"Ck! Aku lebih pusing melihatmu bodoh! " Vionika membalas dengan kasar. "Aku tau kau khawatir, tapi bisakah kau diam? Mondar mandir tidak jelas seperti itu tidak akan membantu apapun! "


"Bawel"


"Sudahlah Vionika. Jangan mengganggunya! Kau memang tidak bisa berhenti mengusilinya" sahut suara lain.


"Hahaha, dia sangat lucu key" Keyri, sosok lain dalam diri Ara mendengus mendengar jawaban saudaranya itu.


Keyri adalah alter ego milik Ara selain Vionika dan Cloe. Saudara kembar Vionika dengan kepribadian berbeda. Keyri hampir mirip dengan diri Ara sendiri, terkadang sulit membedakan mereka. Hanya Keyri lebih jutek dari Ara.


"Kenapa kau begitu pusing Ara? " Tanya Keyri. Ara mengheka nafas berat. "Aku kehilangan Thomas. Aku tidak bisa menemukan keberadaannya. Sepertinya chip didalam tubuhnya sudah tidak ada" jelas Ara gelisah.


"Ouh. Benarkah? "


"I'm not sure"


Untuk sesaat Ara terpaku menatap pantulan dirinya didalam cermin. Warna matanya berubah menjadi light grey, membuat gadis itu terkejut. Dia belum pernah berbicara langsung dengan sosok ini sebelumnya. Tapi sekarang 'dia' justru muncul dalam kondisinya yang sadar.


"Cloe" bisiknya.


"Keynara" suara dingin dan sedikit berat. Tubuh Ara bergetar untuk sejenak, dengan menjadi kaku setelahnya. Bahkan untuk sekedar menggerakan bibirnya terasa begitu sulit.


Keyri dan Vionika bahkan menghilang begitu saja. Untuk beberapa detik Ara sempat melupakan mereka.


"Istirahatlah! Aku akan membutuhkan tubuhmu untuk waktu yang lama "


"Beritahu aku apapun yang kau ketahui, Cloe" ucap Ara cepat. Cloe menyeringai, kemudian mengubah kembali ekpresi menjadi dingin dengan cepat.


Cloe bertanya dengan suaranya yang tegas dan dingin. "Apa yang ingin kau ketahui? "


"Semuanya, aku ingin tahu semuanya"


Cloe tertawa kencang. Untuk sesaat suara tawanya membuat Ara takut, tapi gadis itu mencoba mengabaikannya.


Cloe berhenti, mata birunya berkilat. "Aku tidak tahu apapun" Ara terperangah, "kau bohong Cloe!! "


"Apa maksud perkataannya? " Ara menjadi bertambah cemas sekarang. Aldre menghilang,Thomas juga menghilang, dan sekarang Cloe semakim membuatnya pusing.


....


"Sudah temukan dia? "


"Kami sudah mendapatkan keberadaannya boss"


"Katakan"


"Saudara angkat anda memiliki sebuah rumah dipinggir kota. Rumah itu berada didalam hutan, dan gadis itu bersembunyi disana. hanya ada satu akses menuju rumah itu"


"Apa keluarganya tau? "


"Dia masuk dalam daftar pencarian orang di spanyol, bos. Mereka pikir dia menghilang disana, karena informasi terakhir dia terlihat setelah datang ke pesta ulang tahun temannya"


"Kau boleh pergi, akan aku kirimkan bonus padamu"


"Terimakasih bos, kalau begitu saya permisi" bodyguard itu menunduk, kemudian pergi darisana.


Aldre begitu pusing sekarang, kepalanya terasa ingin pecah. Kenapa banyak sekali penghianat disekitarnya? Siapa yang akan bisa dia percaya jika seperti ini.


"Apa menjadi penghianat begitu indah, hah? Kenapa orang-orang senang sekali saling menyakiti"


"Bodoh!! "


Lelaki itu meraih ponselnya, menatap wajah yang terpampang dilayar ponselnya. Mengusapnya pelan, pandangan menjadi sendu seketika. "Aku merindukan mu, Ara. Setelah ini tidak akan aku biarkan siapapun merebutmu lagi dariku"


"I'm promise" kembali meletakkan ponselnya, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


....


"Bagaimana Daniel? " Dion menatap adik keduanya. "Brendon bilang dia masih mengirimkan email pekerjaan pada Aldre. Tapi lokasi email itu tidak ditemukan, kak"


"Bagaimana jika kita menyusuri Amerika? " usul Dion.


"Jangan bergerak tanpa izin Isabella, ka. Bagus jika itu bisa membantu rencananya, tapi jika kacau? Kau tidak akan bisa menghadapinya" seru Galih yang baru saja datang.


Dion menghela nafas, kesabarannya sudah hampir habis. Tapi yang Galih katakan benar, tindakan gegabah tidak akan menghasilkan apapun.


"Tunggu sampai perintah darinya keluar, maka kita bisa bergerak" lanjut Galih lagi.


Galih menatap adiknya yang termenung. Mengerti bagaimana perasaan lelaki itu. Dia yang paling menjaga dan membela Aldre selama ini, tapi dibohongi sebesar ini sudah jelas membuat hatinya terluka.


"Daniel"


"Kenapa Aldre berbohong padaku, ka? Apa dia tidak mempercayaiku? "


"Dia percaya padamu Daniel. Dia hanya tidak ingin membuatmu khawatir"


"Tapi aku kakanya. Bagaimana bisa dia seperti ini padaku? " Daniel mulai terisak, tidak lagi mampu menampung sesak didadanya.


"Dia punya alasana, alasan yang tidak bisa kita mengerti. Percayalah padanya Daniel, dia hanya ingin mengambil kembali kebahagiaannya. Dia butuh kau untuk menguatkannya"


Daniel mulai menenangkan dirinya, merasa lebih baik dengan perkataan kakanya."Terima kasih ka Galih"


"Mm"


.....


T B C?


Bye!