
Tubuh Carissa bergetar, tapi gadis itu mencoba menahan rasa takutnya. "Kenapa lukisan itu menyeramkan semua, Ara"
"Ramalan! Ka Bella bilang Cloe memiliki kemampuan seperti peramal. Lukisan-lukisan ini adalah apa yang dia prediksi, dan semuanya selalu tepat sasaran"
"Ini seperti sebuah peringatan untuk kita, Carissa"
"Kenapa diletakkan dikamarmu? "
"Karena ini adalah peringatan untuk ku darinya. Cloe ingin aku menghindar dari bahaya. Jadi jika ku ingin melakukan sesuatu, dia akan memberikan peringatan padaku dengan mengambil alih tubuhku, sampai kejadian itu terlewati. Dan setelahnya dia akan melukiskannya untuk memberitahuku apa yang terjadi"
Carisaa mengangguk paham "Aku mengerti sekarang"
"Apa kau takut? "
"Siapa yang tidak takut, Ara? Aku sangat yakin jika lukisan ini dibuat dengan darah. Iyakan? "
Ara mengangguk, "darah kelinci! Cloe tidak pernah menggunakan darah manusia, bukan karena tidak ingin, tapi karena ka Bella selalu memantaunya"
"Ka Bella sulit ditipu"
"Hahaha, papah sendiri kadang bingung menghadapi ka Bella, padahal dia yang melatih ka Bella saat kecil"
"Mm, seorang anak pasti akan melampaui orang tuanya, Ara"
"Iya"
Mereka terdia setelah percakapan yang panjang. Pikiran mereka berada pada tempat yang berbeda, Carissa yang memikirkan nasib persahabatan mereka, dan Ara yang memikirkan keberadaan Sin. Hati kecilnya berkata bahwa Sin telah kembali, dan dia pasti bersama dengan Thomas saat ini.
"Kalau di ingat-ingat, kita dulu lucu ya, Ra. Aku yang kelewat penakut, Aldre yang kalem, Sin yang cerewet, dan kamu yang super galak" Carissa kembali membuka suara. Gadis itu tersenyum hangat mengingat masa kecil mereka.
Ara tertawa kecil dengan air mata yang mengalir kecil dipipinya. "Inget gak waktu Aldre gak sengaja nyungsep karena ketendang pas mau misahin aku yang lagi berantem sama si gendut nakal? "
Spontan Carissa tertawa keras saat mengingat kejadian itu. "Hahahah, yaampun itu lucu banget tau Ra. Abis itu Aldre ngambek sama kamu seminggu kan? "
"Hahaha iya, soalnya dia sampe masuk ke bak sampah yang gede" Ara tertawa lebar dengan air mata yang masih berderai.
"Bener-bener. Dia juga ngambek sama aku dan Sin, karena Sin yang ketawa kenceng banget sampe ngompol, terus aku ketawa malu-malu dibelakang dia"
"Tapi abis itu dia nendang kaki aku saking keselnya, terus dia ngadu sama ka Galih yang akhirnya malah diketawain juga"
"Oh iya, yaampun aku baru inget kejadian itu. Setelah itu ka Galih ditegur ka Kevin karena Aldre hampir nangis"
"Tapi ka Kevinnya malah ketawa juga akhirnya, dan endingnya kita semua kena semprot paman Rayyan"
"Hahahaha, lucu banget kita dulu ya, Ra. Bahkan mungkin sampai sekarang pun kita masih bisa kaya gitu, kalau aja..... " setelah tawa mereka tak lagi terdengar, kini berganti dengan isak kecil dibibir keduanya.
"Car... Kita masih bisa bawa Sin pulang" ucap Ara lembut.
Ara memeluk Carissa erat. Apa yanh dikatakan Carissa benar, akan sangat sulit untuk memaafkan semuanya. Tapi ia hanya ingin persahabatan mereka kembali utuh seperti dulu.
...
Dibalik pintu, seorang pria yang sejak tadi memperhatikan mereka, mulai menangis dalam diam. Pria itu memilih pergi dari sana, mengurungkan niatnya yang ingin berbicara dengan kedua gadis itu.
Sosok itu melangkah turun dari tangga sambil mengusap kedua matanya yang basah. Leandra yang melihat itu bergegas menghampiri, begitupun Jason sahabat pria itu.
"Ada apa Darren? Kenapa kau menangis? " tanya Leandra Khawatir.
"Dar, what happened? " Tanya Jason.
"Ternyata benar, Sin dalang dibalik semua masalah ini"
"Aku mendengar perkataan Carissa, dia mengetahui semua yang Sin lakukan" Darren kembali terisak.
Jason dan Leandra saling pandang, jadi rumor itu bukan hanya sekedar rumor, itu benar. "Dimana paman Rayyan? " Tanya Darren. "Ada dikamarnya, kau ingin bertemu? Ayo ka Leandra antar"
Mereka tiba didepan kamar tuan Rayyan. Darren merilekskan tubuhnya sebelum masuk kedalam. Mengetuk pintu pelan, lalu membukanya setelah dipersilahkan masuk.
"Ka Darren" panggil Galih. Darren tersenyum tipis, "hai"
Darren melangkah menghampiri ayah sahabatnya yang masih terbaring lemah. "Bagaimana keadaan paman? " Tanya Darren.
Tuan Rayyan tersenyum, masih dengan bibirnya yang pucat. "Jauh lebih baik Darren. Bagaimana adikmu, apa sudah ketemu? " Darren menggeleng lemas.
Seketika Darren kembali terisak, menudukkan kepalanya dalam. "Maafkan Darren, paman. Darren tidak bisa mendidik Sin dengan baik! Maafkan Darren "
"Ada apa dengan Sin? " tuan Rayyan bertanya bingung.
"Sin... Sin yang menyebabkan kekacauan ini, dia yang memperkenalkan Ara pada Thomas, dan sekarang Sin kabur, paman"
Semua yang ada didalam ruangan terkejut, bahkan tuan Revano pun ikut terkejut. Dia tidak pernah mendengar kabar ini sebelumnya.
"Revan? " tuan Rayyan menoleh pada sahabatnya meminta penjelasan. "Aku tidak tau Rayyan, Isabella tidak mengatakan apapun"
"Wiiliam! Hubungi Isabella! "
"Tidak paman! Isabella tidak akan menjawab panggilan kita, aku rasa dia juga pasti baru tau tentang hal ini"
.....
T B C?
BYE!