Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 77



"Ngomong-ngomong, kamu gak mau ngelamar Ara, Al?" Tanya Lea ketika suasana sudah kembali kondusif.


Aldre menghela nafas kasar. "Pengennya gitu kak. Tapi Ara selalu marah kalau aku ajak bicara" ucapnya.


"Kenapa marah?"


"Enggak tau. Dia akan langsung kesel kalau aku udah buka topik itu"


"Apa karena Sin?" tanya Lea memastikan. Aldre menggeleng pelan. "I don't know. Tapi dia selalu menjadikan Carissa alasan"


"Mungkin Ara masih menyesuaikan dirinya, Al. Bagaimanapun kejadian itu merenggut banyak hal dari kalian"


Aldre setuju dengan apa yang dikatakan kaka iparnya. Ia sendiri juga masih menyesuaikan diri. Tapi hanya khawatir akan satu hal.


"Tapi aku khawatir akan sesuatu" dari suaranya, mereka bisa tau bahwa si bungsu tengah mengkhawatirkan sesuatu.


"Apa itu? Mau cerita?"


Yang lain hanya menyimak obrolan keduanya. Tidak ingin merusak suasana yang Lea ciptakan. Mumpung mood si bungsu lagi bagus untuk diajak bicara.


Untuk kesekian kalinya lelaki itu terdiam. Matanya memandang semua orang satu persatu. Bibirnya merasa ragu untuk bicara, tapi hatinya ingin mengatakan yang sejujurnya.


Lea dan yang lainnya, masih setia menunggu Aldre untuk bicara. Menunggu apa yang akan keluar dari mulut di bungsu.


1 detik dua detik


10 menit 20 menit


Sepertinya Aldre masih nyaman dengan keterdiamannya.


Dion menatap sang istri, Lea yang mengertipun akhirnya berbicara. "Kalau kamu gak mau cerita, tidak apa-apa Al. Kaka tidak akan memaksamu"


Aldre memajamkan matanya sejenak menghembuskan nafas pelan, lalu kembali membuka matanya.


"Aku.... Aku udah...." Bibirnya terasa kaku, dan tanpa sadar Aldre mengulum bibirnya. Ciri khas seorang Aldre Skholvies ketika sedang gugup.


"Kaka mengerti" ucap Kevin tiba-tiba.


Semua orang menoleh kearahnya. Begitupun Aldre, 'apa ka Kevin tau?" Batinnya resah.


Galih menatap suaminya tak mengerti. "Apa maksudmu hubby?" Tanyanya bingung.


Kevin hanya melirik istrinya sekilas, dan kembali menatap adik iparnya. Senyum kecil terbit diwajahnya.


"Biarkan Aldre yang bicara sendiri, Love" ucap Kevin tenang.


"Kamu aja yang kasih tau kalau memang kamu tau apa yang mau Aldre katakan"


"Itu bukan hakku"


"Hubby!!!"


"Love!"


"Apa kau melakukan sesuatu, Al?" Tanya Daniel kalem. Lelaki itu sudah kembali ke mode kakanya.


"Apa kaka akan marah?" Tanya Aldre gugup.


Daniel hanya menatap sang adik dengan tenang, tanpa emosi apapun diwajahnya. "Jika kamu mau jujur saat ini, akan kaka pertimbangkan"


Jelas! Sangat jelas! Aldre paham sang kaka tengah menyindirnya.


"Aldre.... Aldre udah nyentuh Ara"


Hening.


Tidak ada suara sedikitpun yang keluar. Mereka sangat shock, apa mereka salah dengar?


"A-apa maksudmu?"


"Aldre udah lakuin hal yang gak seharusnya Aldre lakuin ke Ara" lagi Aldre menjawab dengan jujur.


PLAK!


Tamparan keras langsung Aldre dapatkan dari kaka tertuanya. Mata merah Dion memandang marah adik bungsunya.


Lea menarik cepat tubuh sang suami, berusaha menetralkan emosi lelaki itu. "Tenang, sayang. Kita belum mendengar alasan Aldre"


"Apa kau berubah menjadi bajingan?!" Ujar Dion tajam.


"Dion! Tenang dulu!"


"Bagaimana jika ayah dan ibu tau? Bagaimana jika Ara hamil?!" Dion memijat pelipisnya pelan.


Aldre mengangguk kecil. Itu memang benar. Ia melakukannya karena terlalu kalut pada hubungan Cloe dan Masev.


"Aldre kalut ka, tidak bisa lagi menahan emosi. Aldre tau itu bukan Ara, tapi...."


"Aldre menyesal. Setelah melakukannya, Aldre baru tau bahwa Masev hanya sekali menyentuh Cloe. Yang benar-benar menyentuh. Sisanya mereka...."


Aldre tak lagi melanjutkan perkataannya. Ia menundukkan kepalanya, kembali menyesali perbuatannya yang sangat bodoh.


"Maafkan kaka, Aldre. Kaka benar-benar tidak tau apa yang dilakukan Masev, dan bodohnya kaka tidak pernah menyadari hal itu" sesal Galih.


"Tidak apa, ka. Al tidak mau mempermasalahkan hal itu lagi. Setidaknya, Masev sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi dengan Cloe"


"Kemarilah little boy" Dion menarik sang adik kedalam pelukannya, yang disambut dengan senang hati oleh si bungsu.


"Aldre doang yang dipeluk? Perasaan Daniel gak pernah di peluk" protest Daniel.


"Yeuu, iri aja tua" cibir Aldre.


"Bodo amat"


"Hahaha, udah udah. Kemarilah, kaka peluk kalian semua" ucap Dion.


Daniel berhamburan kepelukan sang kaka begitupun Galih dan Kevin. Ana dan Lea hanya menyandarkan tubuh mereka disisi kanan dan kiri dion.


Acara berpelukan selesai, mereka kembali melanjutkan cerita mereka. Mengobrol banyak hal tentang apa saja. Sesekali Daniel dan Aldre akan saling melempar umpatan.


Hingga waktu menunjukan tepat tengah malam. Ke tujuh orang itu masih asik dengan cerita mereka.


"Udah tengah malam, tidur yu" ajak Lea.


"Kenapa kita gak tidur disini aja bareng-bareng?" Usul Ana.


"Boleh, tapi tidur di lantai ya" ujar Aldre bercanda.


PLAK


Tanpa rasa bersalah Daniel memukul puncak kepala sang adik. "Sakit woy!!" Protes Aldre tak terima.


"Udah udah. Kevin, ayo kita ambil kasur tambahan" ajak Dion. Kevin mengangguk.


Keduanya berjalan menuju ruang penyimpanan. Tidak butuh waktu lama, keduanya kembalu dengan dua tumpuk kasur lantai ukuran jumbo.


Menggelarnya bersisian didepan sofa setelah menyingkirkan meja kecil didepannya. Mereka berbaring dengan posisi, Dion-Lea, Ana-Daniel, Aldre, dan yang terakhir Galih-Kevin.


"Selamat malam"


Ketujuh pasang mata itu, mulai terpejam bersamaan. Mengarungi alam mimpi bersama. Semoga setelah semua ini, hubungan mereka akan selalu diliputi kebahagiaan dan kedamaian.


.


Sementara dikamar Ara.


Sejak selesai makan malam, kegiatan yang Ara lakukan hanyalah membolak balikkan ponselnya bingung.


Pasalnya, sejak tadi ia tengah menunggu pesan dari sang kekasih. Tapi lelaki itu tak juga kunjung menghubunginya. Padahal setiap malam, dia tidan pernah absen, bahkan ketika mereka sedang bertengkar sekalipun.


"Ihhhh, Aldre kemana si? Kok gak hubungin Ara? Pesan Ara juga gak dibales, padahl online" gerutu Ara.


"Apa banget sih Al?! Dia pikir dia ganteng apa kaya gitu"


"IIIIHHHHH ALDRE JELEK!!!!" Ara memukul mukul kasur dengan kesal.


"Little princess!"


Netra biru itu melotot kaget. Dengan rasa panik, Ara langsung membungkus tubuhnya dengan selimut, dan pura-pura tidur.


Tak lama pintu kamar terbuka, menampilkan tubuh Revano. Ekspresinya datar, menatap lurus gundukan dibalik selimut.


"Bagus! Kalau kamu berteriak lagi, papah akan tendang kamu keluar!" ancamnya. Seolah tau sang Putri hanya pura-pura tidur.


Revano kembali menutup pintu kamar. Dengan cepat Ara membuka selimutnya, bangkit dari posisi duduknya, kemudian bernafas lega. "lupa, kalo ini jam patrolinya papah" gumamnya berbisik.


Tapi sedetik kemudian Ara kembali berbaring, lalu benar-benar tertidur. Kelelahan menunggu sang kekasih yang tak juga menghubunginya.


ingatkan dia untuk mengabaikan kekasihnya yang jelek itu besok!


.....


T B C?


BYE!