Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
102 | TIDAK ADA CARA?



Kevin menutup telponnya, matanya memandang tajam adik iparnya.


"Tidak perlu datang! Biarkan dia berkeliaran di Amerika!"


Aldre menaikan setelah alisnya tak mengerti. "Kenapa?"


"Kita tidak bisa bertindak tanpa perintah"


"Ka Bella?" Seru Aldre dengan nada malas.


"Godfather"


"What?!" Aldre terpekik kaget.


"Ini akibat dari kebodohanmu!" Tunjuk Kevin.


"Bagaimana bisa?" Aldre menganga tak percaya. "Tentu saja bisa, bocah! Bukan hanya kau yang dalam masalah, tapi putra kesayangan Godfather yang akan mendapat imbas lebih besar"


Aldre memijat keningnya yang terasa penih. Kepalanya seperti ingin pecah sekarang. "Damn!"


"Lalu bagaimana sekarang?"


"Lakukan apa yang aku katakan tadi!"


"Haish!"


.


Pukul 07.30pm, Balery Resort Miami


Sudah setengah jam, sosok pria paruh baya itu menunggu kedatangan seseorang yang pagi tadi membuat janni dengannya. Tidak biasanya orang itu datang terlambat seperti ini.


"Kemana dia? Ini sudah setengah jam. Apa dia ingin mempermainkanku?" Keluhnya.


Tangannya mengetuk-ngetuk pegangan kursi dengan tak sabaran. Ia ingin pertemuan ini cepat selesai, dan mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Kemana bocah sialan itu?!"


Matanya mengedar keseluruh penjuru restaurant milik Resort mewah ini. Tapi sosok yang ditunggunya tak kunjunh menunjukan batang hidungnya.


"Memang sialan! Dia benar-benar memermainkanku!"


"Aku perhatikan sejak tadi kau terus saja mengumpat. Sudah bau tanah harusnya kau lebih banyak berdoa" sahutan dari belakang tubuhnya membuat pria paruh baya itu tersentak.


"Bocah sialan! Darimana saja kau?!" Umpatnya lagi.


Aldre menyeringai lebar. "Aku duduk diujung sana sejak tadi bodoh. Kau saja yang buta" tunjuknya pada kursi bagian pojok yang posisinya cukup jauh.


"Brengsek! Cepatlah katakan" ujar pria itu.


"Kenapa kau begitu terburu-butu, huh? Santai. Aku bahkan belum makan apapun" Aldre mendudukan tubuhnya dihadapan pria itu.


"Jangan bertele-tele sialan!" Umpatnya lagi.


Aldre terkekeh remeh, bisa dirinya rasakan betapa paniknya pria tua ini. "Calm down, man. Kau seperti dikejar debtcollctor, meso"


"Berisik!"


"Aldre" Keduanya menoleh kekanan. Mata Meso berbinar begitu netranya menangkap sosok yang sudah Lama diincarnya, Kevin Aldebaran, sang BLACK SWEEPER.


"Black sweeper" bisiknya pelan.


"Hai, ka. Sedang bertugas?" Tanya Aldre basa-basi. Kevin mengangguk, "kau sendiri? Ouh siapa dia?"


"You know lah. Kolegaku"


Kevin mengangguk, kemudian menjulurkan tangannya. "Kevin Aldebaran, kaka iparnya Aldre"


Meso menyambut uluran tangan itu dengan semangat. "Meso Daperon. Senang bertemu denganmu, Kevin"


"Sure"


"Ahh, kalau gitu kaka duluan ya Aldre, ada yang harus kaka selesaikan. Saya permisi Mr.Meso"


Meso mengangguk semangat. "Ya ya, silahkan"


Aldre mendengus jijik. "Kau begitu senang bertemu kaka iparku, Meso!"


"Tentu saja, kau tau bahwa aku sangat menginginkannya bergabung dengan kita. Lagi pula siapa yang tidak memujanya. Dia dewa dunia bawah tanah, Aldre"


"Benarkah?"


"Kau memang tidak bisa diajak bekerja sama bocah!"


"Terserah"


Setelah pertemuannya dengan Meso, Aldre memutuskn untuk singgah dirumah sang ayah. Ia cukup malas untuk kembali ke Apartmentnya.


"Kamu darimana sayang? Rapih sekali" Riyani menghampiri putra bungsunya yang baru saja melewati pintu masuk.


"Malam, ibu. Aku baru dari luar" jawab Aldre.


"Mencari angin segar"


"Aahh, ibu kira ngedate sama Ara"


"Tidak, ibu. Ara sedang sibuk sekarang"


"Mm, kalau begitu ayo. Kamu sudah makan?" Aldre mengangguk sebagai jawaban.


"Dimana ayah?" Matanya memandang sekeliling ruangan, mencari sosok sang ayah.


"Ayah ada diruang baca. Mau susul?"


"Mm. Aldre nemuin ayah dulu ya, bu" pamitnya. "Yaudah kalau gitu ibu ke kamar ya. Langsung istirahat jika sudah selesai"


"Mm"


Aldre mendorong pintu ruang baca begitu ia tiba. Langkahnya ia bawa pelan masuk kedalam, mencari sosok sang ayah.


"Ayah" panggilnya begitu menangkap sosok sang ayah tengah duduk dikursi dekat perapian yang berada disudut kanan ruangan.


"Oh, halo little boy. How are you?" Rayyan tersenyum mendapati putra bungsunya yang berdiri tak jauh darinya.


"Sangat baik. How about you?" Aldre berbalik bertanya. Menempatkan dirinya dihadapan sang ayah.


"I'm good. Tumben pulang?"


"Hanya ingin, aku sedang malas kembali ke apart"


Rayyan kembali melanjutkan acara membacanya. Membiarkan Aldre dengan keheningan. Rayyan tau putranya bukan tanpa alasan pulanh ke mansion cuma-cuma.


"Ayah tau yang kau pikirkan, bicaralah" ucap Rayyan.


Aldre menautkan kedua tangannya gugup, mengulum bibir bawahnya yang terasa kering.


"Ayah... Apa paman....benar-benar kembali?"


"Paman? Revano maksudmu?"


"Mm"


"Memangnya kenapa kau menanyakan pamanmu? Dia baik-baik saja"


Aldre tersentak dengan jawaban sang ayah. 'Apa ayah tidak tahun?' Pikirnya bingung.


"Ayah tidak tau?" Tanya Aldre heran. "Tidak tau apa?" Rayyan melirik putra bungsunya sekilas, lalu kembali fokus pada deretan tulisan ditangannya.


"Ayah.... Paman berada di Maria's besar The Fault Blood sekarang" sentak Aldre.


Rayyan terdiam, "dia hanya berkunjung. Dia selalu melakukan itu jika memiliki waktu senggang" jawaban Rayyan terdengar seperti meyakinkan dirinya sendiri.


"Tidak ayah"


"Aldre--" ucapan Rayyan terpotong karena Aldre yang langsung menyambarnya.


"Ayah, ka Devan adalah orang yang memusnahkan kalung itu puluhan tahun yang lalu!!"


"A-apa?!" Mata Rayyan membola terkejut. "Mereka mengincar ka Kevin untuk menjadikannya alat balas dendam pada ka Devan" jelas Aldre.


"Darimana kau mengetahuinya?"


"Ka Devan sendiri yang mengatakannya padaku"


"Dan paman tidak akan mungkin diam saja, kan?"


"Kenapa Isabella tidak mencegahnya?!"


"Ayah! Paman mengambil alih kepemimpinan, bagaimana mungkin ka Bella akan melawannya?"


Rayyan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut sekarang. "Ya tuhan, masalah apalagi ini" desahnya frustasi.


"Bisakah ayah berbicara pada paman?" Aldre menatap ayahnya penuh harap. Berharap sang ayah bisa membantunya menenangkan amarah sang paman.


Gelengan kepala dari yang lebih tua Aldre dapatkan sebagai jawaban. "Tidak! Pamanmu tidak akan bisa dihentikan, Al. Dia dan kedua anaknya tidak ada bedanya!"


"Tapi ayah--"


"Dapatkan apa yang harus kamu dapatkan, jangan sampai pamanmu mendapatkannya lebih dulu! Besok pergilah ke mansion Scander dan bicaralah dengan Justin dan Isabella"


"Sekarang istirahatlah" perintah Rayyan.


Aldre mengangguk, kemudian pamit menuju kamarnya setelah mengucapkan selamat malam pada sang ayah.


.....


T B C?


BYE!