
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Erick selesai dengan sarapannya, cowok itu langsung bergegas menghampiri Jovan yang masih asik bermain di ruang santai bersama Sein.
"Jov" panggil Erick. Jovan mendongakkan kepalanya. "Oh udah selesai. Ayo" ajak Jovan yang langsung bangkit berdiri.
"Gak apa-apa Harena ikut?" Tanya Erick untuk memastikan bahwa Jovan tidak keberatan jika Harena ikut bersama mereka.
Alih-alih menjawab, Jovan justru malah tersenyum lebar. "Ya boleh lah, masa enggak hehehe" jawabnya penuh semangat.
Erick mendengus. "Ye kang modus" cibirnya.
"Namanya ge usaha"
"Cih. Tunggu bentar, adek gua lagi ganti baju. Lo tunggu sini gua mau ngambil dompet sama hp dulu"
"Siap kaka ipar"
"Halah kentut"
"Ihiw ngedate sama kesayangan di dampingi kaka ipar" Jovan berseru girang sambil berjoget ria.
"Bocah semprul" Erick benar-benar kesal melihat tingkah laku Jovan. Bocah itu memang harus dijauhkan dari adik kesayangannya.
"Jaga kedua anak paman ya, Jovan. Tidak boleh ada lecet sedikit pun" ucap Daniel mewanti-wanti Jovan untuk menjaga kedua bayi kecilnya dengan baik.
Jovan memberikan gestur hormat pada sosok yang di anggap calon ayah mertuanya itu. "Siap ayah mertua" jawabnya tegas.
"Adek gua masih kecil" dengan kesal Erick menendang tulang kering Jovan.
Jovan melenguh sakit sambil mengusap tulang keringnya yang berdenyut. "Iiisshhh penyerangan kepada adik ipar"
Daniel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Jovan yang tidak ada bedanya dengan sang kaka. Sedangkan Ana dan Harena hanya tertawa kecil, meski gadis kecil itu sama sekali tidak mengerti apa yang orang dewasa di hadapannya bicarakan.
"Udahlah, ayo berangkat. Erick sama Harena pergi dulu ya Pah, Mah" pamit Erick sambil menarik Jovan menuju mobil.
"Eh eh eh. Paman bibi pamit ya" ucap Jovan setengah berteriak.
"Ka Erick tunguuuu" Harena berlari kecil menyusul keduanya, tentunya setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Hati-hati" balas Ana sambil melambaikan tangannya. Tidak lama mobil yang Jovan kendarai melaju keluar dari halaman rumah Daniel.
"Ka Justin dan ka Bella benar-benar membebaskan anak-anak mereka ya" gumam Ana.
"Karena mereka berdua orang yang bebas, sayang" timpal Daniel. "Ayo masuk"
"Hm"
"Kita mau kemana, ka Jovan?" tanya Harena dari kursi belakang.
Jovan melirik sang pujaan hati dari spion. "Harena maunya kemana?" Jovan balik bertanya.
"Disneyland"
"Oh oh oh, itu kejauhan sayang" seru Erick. Harena mengerjapkan matanya bingung. "Memangnya Disneyland adanya dimana?"
"Disneyland adanya di Washington Dc, sayang. Di kampung halaman papah dan kakek Rayyan"
"Oohhh, kalau gitu Harena mau ke zoo aja. Boleh kan?"
Jovan mengangguk. "Tentu, ayo kita ke zoo"
"YEAYY KITA KE ZOO" Harena berseru girang dengan tingkah menggemaskannya, membuat kedua kakanya tertawa.
"Tapi Harena jangan bilang-bilang Valerie ya. Nanti dia ngambek karena gak di ajak"
"Siap bos"
Mansion Scander.
"Harusnya tadi Valerie ikut ka Jovan" Isabella menatap putri bungsunya yang tengah bermain boneka di atas karpet.
"Tapi Harena ikut sama mereka loh" ucap Isabella.
Mendengar perkataan sang bunda membuat Valerie spontan melepaskan boneka kesayangannya. "Benarkah?"
Isabella mengangguk. "Ih kok Arie gak di ajak, bunda" Valerie mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kan tadi ka Jovan udah ajak, tapi Arie gak mau"
"Tapi kan Arie gak tau kalau Harena ikut. Uuuuhh pokoknya Arie mau ngambek sama ka Jovan"
Wajah menggemaskan yang serupa Isabella itu merengut dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada.
Tawa kecil baby Fero terdengar. Bayi 5 bulan itu seperti paham pembicaraan bunda dan kaka bungsunya.
Erick, Jovan, dan Harena akhirnya tiba di zoo. Namun begitu mobil terparkir, Erick merasa aneh melihat parkiran zoo yang sangat sepi. Itu artinya tidak ada satu pun pengunjung yang ada datang.
"Kenapa sepi sekali?" gumam Erick yang masih bisa di dengar Jovan.
"Ini bahkan belum jam delapan, Rick" ujar Jovan. "E-eh? Loh hehehe" mata Erick membola lebar. Dirinya baru sadar bahwa ini masih sangat pagi.
"Apa kita akan turun sekarang?" Tanya Harena yang sudah sangat antusias untuk segera masuk ke dalam zoo.
Jovan menggeleng sekali. "Tidak bisa, sweetie. Zoo nya belum di buka. Kita harus menunggu setengah jam lagi"
"Oke"
Dan benar saja dalam waktu setengah jam pengunjung mulai banyak yang berdatangan. Tempat parkir yang semulanya kosong kini mulai terisi penuh oleh mobil dan motor.
"Nah, ayo kita turun" ucap Jovan yang di sambut pekikan riang dari Harena.
Ketiganya pun mulai berjalan menuju pintu masuk, beriringan dengan para pengunjung yang lain.
Erick menggenggam erat tangan adik kecilnya karena sungguh, Harena sama sekali tidak bisa berhenti melompat. Ia takut adiknya itu akan terjatuh atau terdorong oleh orang lain.
"Berhenti melompat, Harena. Nanti kamu jatuh" tegur Erick dengan suara yang lembut.
"Oke ka Erick" Harena berhenti melompat, namun gadis itu tidak menjadi diam sama sekali. Ia malah bernyanyi sambil menari kecil.
Erick hanya bisa menghela nafas ringan. Harena memang selalu seperti ini jika dirinya merasa senang.
Setelah membeli tiket dan masuk, kandang yang menjadi tujuan pertama Harena adalah kandang gajah. Dari jauh, hewan terbesar di darat itu sudah menarik perhatian Harena.
"Ka Erick liat, gajahnya besar sekali" Harena menunjuk pada seekor gajah yang memiliki tubuh paling besar di antara yang lain.
"Iya, coba lihat ada yang masih kecil juga" ucap Erick sambil menunjuk ke arah gajah kecil yang baru saja keluar dari dalam.
"Waaahh lucu banget. Iihhh gemesnya" Harena memekik girang, mengundang rasa gemas para pengunjung yang berada tak jauh dari mereka.
"Ayo kita liat yang lain" ajak Jovan.
Mereka kembali berjalan untuk melihat hewan yang lainnya. Mereka melewati beberapa kandang namun tidak berhenti, hanya melihatnya sambil berjalan.
Harena menatap setiap kandang dengan jeli, dirinya belum menemukan apa yang di carinya.
"Kenapa tidak ada singa?" Tanya Harena. "Singanya di mansion Courtland" gurau Jovan.
"Ish, ka Jovan. Bukan Tier loh"
"Kkkkk. Kandang siang masih jauh ke dalam, sweetie. Biasanya ada di tengah-tengah Zoo" jelas Jovan.
"Ayo kita kesana"
"Let's go"
****
See you!