Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
161



Seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan Sin hanya berdiam diri di rumah, tidak bisa pergi kemana pun tanpa izin.


Namun hari ini sedikit berbeda, pasalnya Sin tengah sibuk berkutat dengan kertas-kertas putih yang terisi berbagai macam gambar juga buku sketsa miliknya.


Setelah sang kaka menyampaikan izin yang di berikan ka Bella untuk dirinya kembali bekerja, Sin memutuskan untuk membuat rancangan terbaru. Sekalian menunggu sang kaka memindahkan butik miliknya di Spanyol ke LA.


Ekpresi Sin begitu serius, tangannya bergerak lincah membuat garis-garis yang membentuk gambar sebuah gaun Indah di atas kertas.


Ting nong ting nong..


Suara bel yang berbunyi sama sekali tidak menganggu Sin. Gadis cantik itu tetap fokus pada pekerjaannya.


Lynea berjalan cepat menuju pintu utama. Tak ingin membuat tamu yang datang menunggu terlalu lama.


"Ouh Fedrick" Lynea tak menyangka tamu yang berkunjung ke rumah adik iparnya adalah Fedrick. Sepupu angkat Verrel.


"Hai ka Lynea" sapa Fedrick di iringi senyum manis di bibirnya.


"Dari mana kamu tau tempat ini?" tanya Lynea dengan bingung. "Dari ka Sena"


"Ouh. Jadi?"


"Kalau boleh Fedrick ingin bertemu Sin"


"Sin? Untuk apa?"


"Hanya ingin bertemu"


"Baiklah. Ayo masuk, kaka akan panggilkan Sin di kamarnya"


Lynea membuka lebar pintu rumah, membiarkan Fedrick masuk. Lalu setelahnya pergi menuju kamar Sin untuk memanggil adik iparnya itu.


"Sin" Lynea masuk ke dalam kamar Sin yang pintunya tidak tertutup.


Sin menoleh. "Kenapa ka?"


"Ada yang mencari mu" jawab Lynea. Kening Sin mengkerut dalam, seingatnya dia tidak memiliki janji dengan siapa pun. "Who?"


"Fedrick"


Raut bingung di wajah cantik itu berubah menjadi datar seketika. Bibir Sin mencebik kesal.


"Kenapa dengan wajah mu itu?" tanya Lynea geli.


Sin menghempaskan buku sketsa miliknya ke atas meja dengan sedikit kasar. "Ngapain sih dia kesini?" sungutnya.


"Mana kaka tau, kan yang di cari kamu bukan kaka"


"Udah sana temuin dulu, kesian dia nungguin"


"Ahh elahh"


"Kekekeke"


Lynea menuruni tangga bersama Sin yang berjalan di belakangnya. Bisa kedua lihat tubuh tegap Fedrick dari belakang yanh tengah berdiri sambil melihat sekeliling ruangan.


"Fedrick"


"Ya" Fedrick menoleh cepat ke belakang. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan Indah begitu melihat sosok pujaan hatinya.


"Nah Sin sudah di sini kalau gitu kakake belakang dulu ya" ucap Lynea. "Buatin Fedrick minum" ucapnya lagi ke arah Sin.


"Kasih air kolam aja kenaa sih" seru Sin masih dengan raut kesalnya.


"Heh gak boleh gitu! Mau di omelin ka Verrel?"


"Bodo amat"


"Udah ah kaka mau lanjut lagi ngehias bunga"


Lynea kemudian pergi meninggalkan keduanya. Sin melangkah kesal menuju dapur untuk membuat minuman. Fedrick dengan Setia mengikuti langkah gadis pujaannya.


"Ngapain Sih ke sini?" tanya Sin kesal.


"Ketemu kamu lah, ngapain lagi. Gak mungkin kan aku ngapelin ka Lynea" ucap Fedrick santai.


"Ck! Nyebelin banget"


"Jangan marah-marah terus nanti cepet tua"


"Bodo amat"


"Lagian tau darimana sih rumah gue?"


"Ka Sena"


Jika tau begini harusnya dirinya tidak perlu kembali dan tetap berada di pulau. Sin benci di dekati seseorang se agresif ini. Setelah meneror dirinya di chat, kini Fedrick justru malah datang ke rumahnya. Kalau begini kan tidak mungkin dirinya blokir lelaki itu dari sini.


"Ihhh apaan sih!!" Delikan tajam Sin layangkan pada Fedrick. Tangannya menepis kasar jari lelaki itu.


"Jangan cemberut terus sayang. Harusnya seneng dong aku dateng" goda Fedrick lagi.


"Sayang pala Lo!" Sembur Sin.


Jika tidak memiliki sopan santun, Sin pasti sudah menyiram wajah jelek Fedrick dengan es jeruk yang sedang di buatnya. Biar lelaki itu tau rasa.


"Aku mau bantu kamu move on dari Aldre" ucap Fedrick tiba-tiba.


Sendok yang semula berputar di dalam gelas berhenti. Tubuh Sin mendadak kaku setelah apa yang Fedrick katakan barusan. Apa lelaki ini tidak tau apa yang terjadi padanya? Sin yakin jika Fedrick tau lelaki itu pasti akan menjauh dirinya.


"Sepertinya kau tidak tau apa--"


"Aku tau. Aku tau semuanya" ucap Fedrick cepat menghentikan ucapan yang keluar dari mulut Sin.


"Aku tau semuanya dan aku gak perduli. Aku sayang kamu Sin, sejak dulu. Sejak ka Bella memperkanalkan kita pertama kali" lanjut Fedrick.


Sorot matanya sendu memandang ke arah gadis pujaannya. Sin terdiam, bibirnya menjadi kelu. Tidak tau bagaimana membalas perkataan Fedrick.


"Kasih aku kesempatan untuk membuat kamu bahagia. Aku mohon"


"Mendingan kamu pulang sekarang" pinta Sin dengan lirih.


"Sin..."


"Aku mohon"


Kepala Sin mendongak. Air mata mengalir deras di pipinya. "Pulang, Fed. Aku gak mau liat kamu"


Fedrick hancur, hatinya hancur mendapat penolakan seperti ini dari pujaan hatinya. Memilih berbalik dan pergi dari sana tanpa sepatah kata pun.


"Hiks... Hikss...hiksss"


Isakan keras Sin masih bisa Fedrick dengar meski dirinya sudah berada di luar rumah. Fedrick tidak bisa memaksa jika Sin sudah menolaknya seperti ini. Dirinya harus bisa menerima segala keputusan pujaan hatinya itu.


Sin terisak keras, air matanya mengalir deras membentuk aliran sungai. Tubuhnya bergetar hebat. Sin bukan tidak mau membuka hatinya, tapi dirinya merasa tidak pantas untuk lelaki sebaik Fedrick. Dia pantas mendapatkan yang lebih darinya. Walau sejujurnya Sin tau dirinya sudah mulai merasa nyaman dengan lelaki itu, tapi ia tidak ingin kembali egois seperti dulu.


*


"Kenapa Federick belum pulang?" Maxime berdiri tidak jauh dari pintu utama dengan raut cemas.


Sejak izin pergi siang tadi, hingga malam tiba adik iparnya itu belum juga kembali. Perasaan khawatir melingkupi hatinya, takut terjadi sesuatu pada adiknya itu.


"Papo kenapa berdiri di sini?" Tanya Virzan yang datang bersama Rolen.


"Menunggu paman mu" jawab Maxime.


"Memangnya paman Fedrick kemana?" Maxime menggeleng sebagai jawaban.


"Kalau lagi patah hati dia gak bakal pulang, ka. Biarin aja gak usah di tungguin, besok juga dia balik" sahut Rolen.


"Patah hati?"


"Nanti juga kaka tau. Ayo ke kamar, ka Verrel liat kaka masih sadar di jam segini"


Rolen menarik lembut lengan Maxime, membawa pamil itu menuju kamar utama.


"Selamat malam papo"


"Selamat malam ka Maxime"


"Selamat malam bocah nakal"


*


"aku tidak akan menyerah semudaj itu Sin. tapi aku akan memberikan kamu waktu"


"aku sudah pernah merelakan kamu sebelumnya, tapi kali ini aku tidak akan mengalah lagi"


"keputusan yang sangat tepat"


"ka Bella"


"pulang lah. sudah terlalu malam untuk melamun sedirian di sini"


"kenapa ka Bella ada di sini?"


"entahlah"


......


T b c?


Bye!