Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 29. KABUR (REVISI)



Sudah tiga hari berlalu, Aldre menghilang tanpa kabar. Semua orang merasa cemas, terutama Ara. Gadis itu terus mengikuti kemanapun sang kaka melangkah untuk mendapatkan kabar pasti, hingga membuat Isabella jengah dengan tingkahnya.


"Kenapa kau terus mengikuti kakak hah?! Menjauh! Pengganggu" Isabella berseru dengan kesal.


Ara menampilkan cengiran khasnya. "Ahh kakaaaaa, aku ingin tau tentang Aldre " rengekan Ara membuat Isabella menatap adiknya itu jengah.


"Berisik!! "


Tidak mau menyerah, Ara kini justru memeluk yang lebih tua dengan erat. "Ara!!!" Isabella mengerang kesal. "Tidak akan aku lepaskan sebelum kaka memberitahuku! " dan Ara dengan pendiriannya yang kuat.


Isabella berhenti, membalikkan pakda badannya, dan tersenyum manis pada si pemilik wajah yang hampir mirip dengannya. "Jika kamu masih mengganggu kaka, akan kaka lelang mobil kesayanganmu pada tukang loak!! "


"Kaka jelek! Jelek jelek jelek JELEK"


"BODO AMAT"


"KELUAR!! "


"ISHHHH" dengan hentakan kaki kesal, Ara melangkah menuju pintu. Tapi tinggal beberapa langkah gadis itu kembali berhenti, menatap kearah guci bewarna gold berukuran besar disamping pintu. Yang berisikan sebuah senapan didalamnya.


Dengan cepat Ara menendang guci tersebut, yang sukses membuat Isabella melebarkan matanya. Pasalnya, guci itu adalah kesayangannya. "ARAAAAA!!!! "


"KABOOORRRRR"


"Haishhh "


Isabella mendengus kesal, guci kesayangannya hancur karena adik bungsunya yang sialan menyebalkan.


Tidak lama pintu ruangannya kembali terbuka, menampilkan sang suami yang membawa sebuah nampan besar ditangannya. Isabella terdiam sesaat, cukup terpaku dengan pemandangan didepannya.


"Aku bawakan sarapan untukmu " ucap Justin lembut. Isabella mengernyit, "kau kerasukan? " tanyanya heran. Justin terkekeh geli, "istriku baru melahirkan, jadi aku harus perhatikan kesehatannya"


"Makhluk apa yang merasukinya kali ini? " wanita itu bergumam, masih tidak percaya. "Makanlah bee, kau harus minum obatmu" ucap Justin.


"Kau sudah tidak marah? " Justin menggeleng. "Aneh, kok cepet? "


Cupp


"Bawel, ayo makan"


Isabella mulai memakan makanannya dengan tenang, seperti biasa tanpa suara sedikitpun, dan sangat sunyi. Tidak butuh waktu lama untuk semua makanan itu tandas.


"Hiasan yang bagus " ejeknya begitu melihat warna ungu disisi wajah suaminya.


"Kedua putramu sudah mulai sulit untuk aku kendalikan" dengus Justin.


"Bagus! Mereka memang harus bisa melawan kebrengsekan ayahnya. Tidak sia - sia aku mengajarinya diam - diam "


"Hm" Justin menghela nafas sejenak. "Aku dengar Aldre kabur "


"Ya"


"Ada apa dengannya? Kenapa dia bisa sejauh ini? "


"Semua orang bisa berubah boo! Apalagi dengan apa yang Aldre rasakan. Seperti kamu, trauma itu terus membekas hingga sekarang, dan perlahan merubah kamu menjadi sosok yang asing" Justin menundukan kepalanya, membenarkan ucapan istrinya itu.


"Setidaknya dia masih memiliki keinginan untuk kembali, boo. Saat ini, dia hanya ingin membayar enam tahunnya yang terbuang sia-sia" lanjut Isabella.


"Lalu? Kenapa kalian memperlakukannya seperti buronan? "


Wanita itu menatap lekat suaminya, menatap mata tajam yang kini menatap tenang kearahnya. "Aku sungguh ingin tau apa yang merasukimu sebenarnya "


"Aku serius, bee! "


"Oke hehehe"


"Dia mengambil jalan yang salah. Aku hanya tidak ingin dia terjebak selamanya "


"Bukankah kamu bilang dia akan kembali? "


"Dan.... kau bisa masuk jika kau ingin, Galih! "


Pintu terbuka, menampilkan sosok Galih yang sejak tadi menguping pembicaraan suami istri itu. Dibelakan punggungnya ada sang kaka Ardion juga adiknya, Daniel. "Lanjutkan, Isabella" ucap Dion sambil melangkah masuk.


"Itu keinginannya, tapi keinginan itu bisa saja hilang jika dia sudah merasa nyaman. Aldre bisa merasa bahwa itu adalah tempat yang tepat baginya, karena itu aku ingin menghentikannya. Keluar dari dunia bawah tanah bukanlah hal yang mudah. Kau tau bagaimana sulitnya aku, boo"


Kedua netra abu gelap memandang miris sahabatnya yang seperti mayat hidup. Pandangannya kosong, seperti kehilangan seluruh cahayanya. "Galih... " panggil Justin.


"Apa kau tau bahwa adikku tertarik pada duniamu sejak awal, dear? " Galih bertanya dengan suara yang begitu lirih tapi masih dapat didengar. Isabella mengangguk, "aku tau, karena itu aku selalu menolak jika dia memintaku melatihnya "


"Apa keluarga Romanov memberikan bantuan padanya, Ka? " kali ini Daniel yang bersuara, setelah terdiam sejak beberapa hari. "Tidak! "


"Dia bukan hanya anak angkat keluarga Romanov, tapi juga pewaris keluarga mereka "


"Karena itu Vion berani meminta istana Romanov pada Aldre? " Tanya Justin tidak percaya. Isabella kembali mengangguk. "Apa paman tau ka? " Tanya Daniel dengan suara bergetar. Wanita cantik itu menggeleng.


"Bagaimana jika ayah tau? Kondisinya akan semakin memburuk "


"Aku akan menjelaskan semuanya, Daniel. Sekaligus rencanaku. Tapi aku masih menunggu kabar kaka iparmu, dia sedang mengejar, adik nakalmu itu"


.


.


Siang ini, setelah makan siang, semua orang kembali berkumpul didalam kamar tuan Rayyan.


"Aku ingin menjelaskan semuanya termasuk rencanaku" Isabella mulai membuka suara.


"Aku sudah mendapat kabar dari ka Kevin tentang Aldre. Anak itu sudah keluar dari Amerika, dia kini berada didalam istana Romanov. Dan mulai dari sekarang, aku yang akan mengambil alih semuanya "


Terdiam sejenak, menatap sang ayah yang masih terbaring lemah. "Ayah... " panggilnya. "ya? " tuan Rayyan menatap sendu putri sahabatnya. "Can you trust me? "


"Always "


Nyonya Sofia berjalan kearah nyonya Riyani, memeluk erat sahabatnya. Wanita paruh baya itu tau, apapun yang akan putrinya sampaikan, pasti akan membuat semua orang terkejut.


"Ayah, putra bungsumu, bukan hanya sekedar anak angkat keluarga Romanov. Dia, adalah pewaris mereka, ayah"


"A-apa?!" Semua orang terkejut, begitupun tuan Revano yang tidak mengetahui hal ini sebelumnya. Ana, istri Daniel, berlari menghampiri ayah mertuanya. Mencoba menengkan lelaki paruh baya itu.


"Ayah, Aldre akan kembali bersama kita. Ayah percaya pada ka Bella kan? Ayah harus kuat, bukankah ayah bilang akan meperbaiki semuanya dengan Aldre? "Tuan Rayyan mulai kembali tenang. Air mata perlahan menetes dari mata tuanya.


"Princess! " panggil tuan Revano. "I'm sorry. Akan aku jelaskan rencanaku " Isabella mulai menjelaskan semuanya dengan perlahan. Tidak seluruhnya, hanya inti dari apa yang dia rencanakan.


"Bolehkah Ara ikut, ka? " Ara bertanya pelan. Isabella menggeleng, "Tidak! Tapi kaka akan membutuhkan mu nanti "


"Baiklah! " menunduk lemas.


"Aku ingin minta izin untuk hal lain padamu, boo" Isabella beralih menatap sang suami, yang dibalas oleh Justin. "Apa itu? "


"Izinkan aku membawa Jovan! " Justin terdiam, pandangannya berubah tajam, kepalanya menoleh pada sang putra yang berdiri diujung ruangan bersama dua saudara kembarnya. Anak itu balas menatap sang ayah. "Boo? "


"Berjanjilah ini yang pertama dan terakhir untukmu, Jovan!" ucap Justin pada sang putra.


"I'm not sure! " ucap Jovan. "Tapi aku akan berusaha " Jovan menjawab dengan tegas.


Justin memejamkan matanya, menghembuskan nafas perlahan dari mulutnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Kembali membuka mata, menatap sang istri. "Baiklah. Kau dan putra kita, tidak boleh ada yang berkurang seujung rambut pun!! Paham? "


"Promise"


"Persiapkan dirimu sayang, kita akan pergi dalam waktu yang cukup lama. Dan, berpamitanlah padanya! "


"Who? " Jeno menoleh pada sang bunda bingung. "Berbalik" perintah Jeven. Mereka berbalik, mendapati Harena dan yang lain berdiri diambang pintu.


"ohhhhh " Jeno menatap saudara kembarnya, remaja itu menaik turunkan alisnya menggoda. Sedangkan Jovan hanya menatap sinis sang kaka.


"Sudahlah Jeno, kau tidak ingin Jovan memberikanmu hadiah sebelum pergi bukan? " Lerai Jesslyn. "Hahahaha" Jeno tertawa puas.


"Dasar gila! " umpat si bungsu.


Jeven terkekeh geli, kemudian menarik tangan Jovan. "Ayo, abang bantu kamu menyiapkam semuanya" Jovan mengangguk, "mm"


"Abang " mendapat panggilan dari adik kesayangannya, Javin menoleh. "Hm? "


"Bisa bantu aku untuk merakit bom? " pinta Isabella.


"Sure! But, for what? " Tanya Javin bingung.


"Hanya peringatan"


"Peringatan atau kau ingin membuat pesta kembang api di istana Romanov, hah?! " seru Rion sinis. "Hahahaha, you know that "


"Ck! "


......


T B C ?


bye!