Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
32. Geo Rusuh



"Maaf daddy, tapi Devan tidak mengirimkan apapun pada kalian" ucap Devan. Kava dan Carla saling pandang. "Lalu siapa yang melakukannya?"


"Aku"


Ditengah kebingungan itu suara yang sangat mereka kenali menyahut dari arah belakang. Disana di tengah anak tangga Geo duduk mendengarkan pembicaraan para orang dewasa, lebih tepatnya sudah sejak awal anak itu berada di sana.


"Geo" seru Kevin dengan nada tajam. "Darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?" tanya Kevin. Jelas dirinya curiga karena ia tau bahwa putra sulungnya tak pernah mendapatkan uang jajan sebanyak itu apalagi untuk membeli motor mahal.


"Dia--"


"Geo, mommy" ucap Galih membenarkan apa yang hendak ibu mertuanya katakan.


"Halo kakek, nenek" Geo melangkah turun dari tangga, melambaikan tangan pada kedua kakek dan neneknya dengan senyum cerah.


"Jawab pertanyaan daddy, Geo!"


Geo menatap Kevin polos. "Uang tabungan ku" jawab Geo santai.


"Daddy sudah bilang--"


Geo mengibaskan kedua tangannya tak peduli. "Aku tidak mau ikut campur masalah daddy dengan kakek dan nenek. Yang terpenting bagiku mereka adalah kakek dan nenekku dan daddy tidak memiliki hak melarang ku!" balasnya menyela ucapan Kevin dengan nada tak kalah tajam.


"Kenapa kau membeli motor itu, Geo?" kali ini Cassy bertanya guna menghentikan pertengkaran antara ayah dan anak itu.


"Aku lihat motor kakek sudah usang jadi aku membelikan yang baru" jawab Geo lagi masih menatap sang daddy dengan ekpresi tengil.


"Melihat?"


"Aku datang ke rumah kakek tadi pagi saat kakek dan nenek akan berangkat ke perkebunan"


"Jadi-- yang mengikuti kami itu--" Kava sangat ingat bahwa ketika dirinya akan berangkat ke perkebunan bersama sang istri pagi tadi ada sebuah suara motor besar yang mengikuti mereka di belakang dan membuatnya cukup khawatir.


"Ouh? Kakek menyadarinya ya? Maafkan aku ya, apa aku membuat kalian takut?" Geo menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


"Sedikit" cicit Kava. "Tapi kamu tidak perlu membelikan kakek motor baru, Geo. Karena kakek tidak ingin mengganti motor kakek dengan yang lain"


"Geo tau. Geo juga tau apa alasannya. Karena itu motor milik daddy yang sering daddy pakai untuk berangkat sekolah dulu kan? Dan juga daddy beli dengan uang jajannya yang ia tabung"


Kava dan Carla terkejut mendengar penuturan Geo. Bagaimana cucu mereka yang tidak pernah mereka temui bisa tau semuanya? Bahkan Cassy dan yang lainnya pun ikut terkejut mengetahui fakta tersebut.


Nafas Kevin tercekat. Apa maksud kedua orang tuanya? Untuk apa mereka melakukan semua ini? "Kenapa?" Kevin menatap kedua orang tuanya dengan pandangan sulit di artikan.


Kava menunduk begitupun Carla yang matanya mulai berkaca-kaca. "Mommy sama daddy tidak memiliki banyak waktu berharga bersama mu. Kami melewatkan banyak hal tentang mu, bahkan perkembangan mu selama ini. Kami tidak tau bagaimana tumbuh kembang putra kecil kami, kapan pertama kali dia bisa berbicara atau kapan dia mulai bisa berjalan.


Saat kami tau kamu membenci kami dan menganggap kami tak ada rasanya hati kami begitu hancur, nak. Marah pun kami tidak memiliki hak. Ingin merubah semuanya tapi kami tak lagi bisa meraih mu. Motor milik mu hanya satu-satunya yang bisa kami raih darimu, karena itu daddy tidak ingin kehilangan nya. Karena setidaknya rasa rindu kami bisa sedikit terobati pada mu.


Maafkan orang tuamu yang tidak berguna ini nak. Kami terlalu terpaku pada tradisi keluarga yang penuh omong kosong sampai mengorbankan putra kami sendiri. Kami orang tua yang gagal. Kami benar-benar meminta maaf...


Maafkan kami yang telat menyadari bahwa kami begitu mencintai mu. Maafkan keegoisan dan kebodohan orang tuamu ini, nak..."


Kava menunduk tak berani menatap wajah putra satu-satunya yang ia abaikan selama ini. Air mata mengalir deras membentuk sungai kecil di wajahnya.


Kedua tangan Kevin mengepal, rahangnya mengeras. Ia ingin menyangkal semua kata yang keluar dari bibir sang ayah dan menganggapnya sebagi omong kosong, tapi nyatanya luka dihatinya perlahan mulai terobati.


"Kita pulang!" dua kata mutlak yang keluar dati bibir Kevin sebelum pergi meninggalkan semua orang disana.


Galih hanya bisa menatap sendu suaminya yang pergi begitu saja lalu mengalihkan pandangannya pada kedua mertuanya.


"Mommy dan daddy pulanglah. Berikan kaka waktu, bagaimana pun ia harus kembali menghadapi luka yang telah lama ia sembunyikan"


"Kami mengerti Galih terimakasih telah memberikan kesempatan untuk bertemu cucu kami" balas Carla dengan wajah yang masih berlinang air mata.


"Sama-sama, mommy"


Setelah kepergian kedua mertuanya, Galih kini menatap putra sulungnya menuntut penjelasan. Hanya cengiran lebar yang Geo tunjukan.


"Maaf, papah. Geo hanya ingin bertemu mereka"


"Terima resiko jika daddy mu mendiamkan mu setelah ini"


"Daddy tidak akan bisa marah padaku"


"Pd sekali"


"Memang benar"


****


Isabella menata keponakan nya itu tak mengerti. Seingatnya bocah ini tengah berada di Chicago.


Geo menatap kesal sosok sahabat sang papah. "Bunda ini, bisa tidak jangan menuduhku sembarangan?" protesnya.


"Wajah mu seperti buronan"


"Kalau begitu mengatakan daddy buronan"


"Dasar adik durhaka"


"Bawel! Sekarang jelaskan kenapa tiba-tiba kau sudah berada di LA?"


"Karena daddy yang mengajak pulang"


"Bohong" Isabella menyipitkan matanya taj percaya.


Geo memutar bola matanya malas. "Ayolah bunda"


"Apa yang kau lakukan?"


"Ada apa dengan kemampuan cenayang bunda hah?" Geo mendengus heran.


"Aku tidak mau membuang energi untuk bocah menyebalkan seperti mu" balas Isabella ketus.


"Wanita tua ini benar-benar"


Justin, Jeno, Jesslyn, Jovan, Valerie dan si kecil Fero hanya menjadi penonton perdebatan antara dua manusia dengan usia yang berbeda ini. Dan jangan lupakan semangkuk besar pop corn di atas meja. Karena sebelumnya mereka berniat untuk marathon film bersama.


"Geo!"


"Bunda!"


"Jawab pertanyaan ku bocah!"


"Ck! Daddy bertemu dengan orang tuanya"


"Kok bisa?!" Isabella memekik keras.


"Ya bisalah. Aku belikan motor baru buat mereka hehehe" akunya tanpa dosa.


Raut Isabella berubah datar. Tingkah bocah ini benar-benar bisa membuat tensi orang melonjak naik.


"Kau pasti di musuhi daddy mu setelah ini"


Geo merubah posisi duduknya dimana sebelumnya kedua kakinya naik ke atas sofa kini menjadi tegak.


"Itu dia bunda, itu kenapa Geo kesini"


"Kenapa?"


"Geo di kunciin daddy di luar hehehe"


Isabella memejamkan matanya, menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya dengan kasar.


"ROBERT !!!" Teriaknya lantang memanggil tangan kanan sang suami.


"Waduh" Geo yang merasa dirinya dalam bahaya beringsut mendekat pasa Justin. Memeluk erat tubuh sang paman. "Tolong aku, ayah"


Justin tertawa geli begitu pun Jeno dan yang lainnya.


Tak lama Robert datang dengan setengah berlari. "Ya nyonya"


"Seret dia keluar dari sini" Isabella menunjuk Geo yang bersembunyi di samping Justin.


"Sudahlah, bee. Kasian Geo" lerai Justin. Isabella mendengus. "Aku tidak kasihan pada bocah rusuh ini. MENJAUH DARI SUAMIKU!!"


"Pergilah Robert"


"Baik tuan"


"Duduk, Bee"


Isabella menatap Geo penuh permusuhan. "Ingatkan aku menendang pantat mu sepuluh kali!"


"Kejam"


****


See you see you !