Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
148



Ana masih tidak mengerti dengan situasinya. "Bukankah kapal berikutnya akan datang bulan depan?" Tanya Ana lagi. Seingitnya sang suami mengatakam, tempat menuju pulau tempat pengasingan Sin hanya bisa dilalu oleh kapal. Dan jadwal kapal yang datang menuju kesana hanya dua kali dalam tiga bulan dengan jarak dua minggu.


Darren mengangguk membenarkan. "Isabella datang menjemput kami"


"Jadi ka Bella mencuri kapal pesiar suaminya untuk menjemput kalian?" Seru Ana tak percaya. Wajahnya terlihat shock sekali.


Aldre berusaha menahan tawanya agar tidak meledak karena melihat ekspresi shock kaka iparnya. "Ka Ana wajahmu... Hahahaha"


"Ya tuhan.... Kapal pesiar? Kapal pesiaarrrr.... Oh my god"


"Hahahaha"


Darren mendengus geli. "Namanya juga istri Trillionaire, harusnya kau tidak terkejut lagi Ana"


"Oh ya tuhan.. Aku bisa gila" gumam Ana. "Danielll aku ingin punya kapal pesiarrrr huaaaaa"


Ketiga gadis yang semula berpelukan dengan kompak menoleh pada Ana. Ketiganya tidak mengerti ada apa dengan dokter cantik itu.


"Ka Ana kenapa si?" Tanya Carissa berbisik. Sin dan Ara menggeleng bersamaan.


"Ka Ana kenapa?" Tanya Sin bingung. Ana menatap Sin sedih. "Kapal pesiar..."


"Ouhhh"


"Ada apa dengan kapal pesiar?" Tanya Ara.


Ana semakin menangis mendengar pertanyaan polos ibu muda itu. "Ka Bella menjemput aku dan Ka Darren menggunakan kapal pesiar milik ka Justin" timpal Sin.


"What?! Seriously? Waahhh daebak" Carissa mengerti kenapa Ana sampai menangis seperti itu. Ia jadi ingin naik kapal pesiar juga.


"Ka Justin tuh punya berapa kapal pesiar sih sebenernya?" Tanya Ara.


"Banyak. Banyak banget. Sebelum dijual sama ka Bella sebagian" jawab Carissa enteng.


"Pffftttt"


"Lebih dari 20 kalo masih utuh, itu belum termasuk yatch dan yang lainnya"


"Sisa 10 yang jadi koleksi kesayangan ka Justin, salah satunya pasti yang dibawa ka Bella buat jemput Sin"


"Koleksinya kapal pesiar..." Ana bergumam dengan nada lemah.


"Sebanyak itu padahal gak dipake" ucap Ara. "Buat apa?"


"Investasi" jawab Carissa.


"Investasinya gak maen-maen" sahut Aldre. "Harus banyak belajar bisnis dari ka Justin kalau gini"


"Pantes duitnya gak abis-abis ya" timpal Darren.


"Dari masih kecil, ka Justin tuh pinter banget ngelola uang. Dia jarang beli barang ini itu, tapi sekalinya beli pasti punya harga fantastis yang bisa dilipatin. Mangkannya sebelum megang perusahaan, ka Justin punya tabungan gede. Bahkan didompetnya udah ada 3 black card hasil usahanya sendiri"


"Mantappp"


"Udah ah jangan ngomongin ka Justin lagi, jadi pengen nikung ka Bella kan jadinya" Ana mengerucutkan bibirnya.


"Kekekeke"


"Aku boleh gendong baby gak?" Sin bertanya pada Ara. Meminta izin untuk menggendong sikembar.


Ara mengangguk dengan senang hati. "Tentu saja boleh"


Sin menghampiri Ana yang menggendong Aldara, mengelurkan tangannya untuk mengambil bayi mungil digendongan dokter cantik itu.


"Kamu dipelototin daddynya tuh" tunjuk Ana sambil menyerahkan Aldara.


Sin melengos tidak perduli, tetap mengambil alih bayi cantik itu. "Bodo amat" ucapnya kalem.


"Gak bisa lama-lama ya, soalnya dia masih masa perawatan diinkubator"


"Tenang ka Ana. 5 menit okeh"


Pandang Aldre tidak lepas dari Sin yang menggendong putrinya. Lelaki itu mengawasi Sin dengan begitu ketat. Bukan apa-apa, rasanya masih begitu sulit untuk kembali percaya pada sahabatnya itu meski Aldre sudah memaafkannya.


Sin memandang lekat wajah bayi mungil digendongannya. Wajahnya mirip sekali dengan Ara, tapi hidung, dan matanya milik Aldre.


Sin memejamkan matanya, bibirnya menyenandungkan nada indah yang menjadi pengantar tidur untuk si kecil. Aldara terlihat begitu nyaman berada digendongan Sin, bayi mungil itu tidak rewel sama sekali.


Sin menekan rasa sakit dihatinya. Rasa cintanya pada Aldre masihlah begitu besar, meski begitu Sin tidak ingin lagi hanyut dalam perasaannya. Dia sudah bersumpah untuk melupakan Aldre dan memperbaiki kesalahannya, jadi untuk rasa sakit yang dirasakannya kini, Sin akan menahan dan menerimanya sepenuh hati.


Sin menyerahkan Aldara kembali pada Ana setelah lagu yang disenandungkannya selesai. Memberikan kecupan kecil dipipi gembil bayi mungil itu sebelum dimasukkan kedalam inkubator.


"Kau bisa menggendongnya dengan bebas saat mereka diijinkan pulang nanti" ucap Ana.


"Ck! Aku menjadi tahanan rumah ka Ana. Ka Ana harus menculik mereka dan membawanya kerumahku" seru Sin.


"Berani bayar ka Ana berapa?"


"Nanti aku rampok tabungan ka Darren"


"Heh?!"


"Kekekekeke"


*


*


"Jadi Sin akan menjadi tahanan rumah?" Sofia menatap suaminya meminta penjelasan.


Revan mengangguk. "Dia bisa keluar diwaktu-waktu tertentu, dengan penjagaan ketat tentunya" jawab Revan.


"Aku cukup terkejut karena Carissa tidak trauma melihat Sin" sahut Rayyan.


"Itu karena dalam pikiran Carissa, Sin adalah sahabatnya. Dan hal itu juga yang membuat Carissa melupakan traumanya"


"Yang terpenting semuanya sudah selesai sekarang, dan mereka bisa kembali seperti dulu" timpal Riyani.


"Tapi apa yang membuat Aldre mau memaafkan Sin?"


"Kalau itu, sebaiknya kau tanya pada Leo, ka"


"Leo tau bagaimana rasanya berada diposisi Aldre. Dia jelas bisa membuat pikiran Aldre terbuka"


"Kematian Vion ya?"


"Mm"


*


Setelah pulang dari rumah sakit, Sin memutuskan untuk berdiam diri ditaman belakang rumah yang ditempatinya. Sin memang tidak tinggal bersama kedua orang tuanya dan sang kaka. Gadis itu tinggal dirumah khusus yang sudah disiapkan untuknya.


Sin masih ingin melepas rindu bersama kedua sahabatnya, tapi ia hanya diberikan waktu satu jam untuk keluar dari rumah.


Duduk diatas rumput sambil menjulurkan kedua kakinya kedepan. Mendongakkan sedikit wajahnya menikmati hembusan angin yang menerpa.


"Sejuk banget" Sin bergumam.


Matanya memandang hamparan bungan yang menghiasi halaman belakang rumahnya. "Aku bisa membuat tenda kecil disini"


"Aku boleh jalan-jalan keliling gak ya?"


Saat masih tinggal dipulau, Sin sering sekali berjalan keliling pantai bersama anak-anak kecil disana. Sesekali ikut dengan mereka mencari ikan atau kepiting dipinggir pantai. Karena pantai di pulau tempat Sim tinggal masih asri dengan terumbu karang, airnya bahkan sangat jernih. Apalagi jika siang nenjelang sore, sangat segar untuk berenang.


"Aku jadi rindu mereka" Sin menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia nyaman tinggal disana, bahkan jika bisa Sin ingin tinggal disana selamanya. Tapi jika dia dipindahkan kembali ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena setidaknya disini, Sin bisa dekat dengan keluarganya.


Sejak tiba kembali di LA, Sin belum bertemu dengan kedua orang tanya. Bahkan selama diasingkan ia tidak pernah berbicara lewat telpon dengan mereka. Sin sangat merindukan orang tanya, tapi ia ragu untuk menghubungi lebih dulu.


"Apa mommy dan daddy tau aku sudah kembali? Ka Darren pasti sudah memberitau"


"Mommy... Daddy... I miss you hiks hiks"


.....


T b c?


Bye!