
Rupanya Jeno tidak bercanda soal perkataannya yang akan memperkenalkan Erick pada kedua orang tua sang ayah. Remaja 14 tahun itu dengan percaya diri menggenggam erat tangan sang pujaan hati dan membawanya masuk ke dalam mansion besar keluarga Scander.
Begitu keduanya melewati pintu utama mansion, mereka langsung menjadi sorotan semua orang yang saat ini tengah berkumpul di ruang tamu.
"Sudah aku katakan bukan? Bocah itu pasti pergi menemui kekasihnya" desis Jovan sambil melayangkan tatapan kesal pada saudara kembarnya.
Jesslyn yang berdiri tepat di sebelahnya hanya terkekeh geli dengan reaksi adiknya itu.
"Kau kesal?" tanyanya geli. Jovan mendengus. "Tentu saja. Jika tau begini harusnya aku juga membawa Harena"
"Sudahlah. Kamu sudah sering menghabiskan waktu bersama Harena, jadi biarkan Jeno menghabiskan waktunya dengan Erick" balas Jesslyn dewasa.
"Ouhh Jeno. Kenapa baru datang? Dan siapa ini?" nyonya Patricia, ibu Justin berjalan menghampiri sang cucu yang baru saja tiba. Matanya menelisik tajam sosok remaja yang berdiri tepat di sebelah sang cucu.
Erick menelan ludahnya gugup, genggamannya pada tangan Jeno mengerat, kepalanya menunduk ke bawah menghindari tatapan tajam wanita paruh baya yang masih cantik yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Jangan menatapnya seperti itu, mom. Mommy membuatnya takut" tegur Isabella pada sang mertua.
Kekehan halus meluncur dari bibir Patricia. "Hahaha, maaf maaf. Ayo masuk, yang lain sudah menunggu sejak tadi" ajaknya pada kedua remaja itu.
Jeno mengangguk, kepalanya menoleh kesamping. Lebih tepatnya ke arah Erick yang hanya diam. "Don't worried. Omah memang suka bercanda seperti itu"
Tidak ada jawaban selain anggukan kecil yang Erick berikan sebagai respon. Keduanya melangkah masuk, bergabung dengan anggota keluarga yang lain.
Jeno membawa sang pujaan hati mendekat pada kedua orang tuanya, menyapanya sebelum menyapa keluarga yang lain. Bisa Jeno lihat di sebelah sang ayah, terdapat sosok pria paruh baya yang lebih tua dari sang ayah duduk di kursi roda miliknya. Suami Patricia, Jezin Scander.
"Pagi, opah. Maaf Jeno terlambat" Jeno menyapa sang kakek yang tersenyum lembut ke arahnya.
"Apa dia yang membuat cucu opah uring-uringan?" goda Jezin yang sukses membuat wajah Erick memerah.
"Opah..."
Netra hazel tua itu mengalihkan pandangannya pada remaja lain yang baru pertama kali di temuinya. "Siapa nama mu nak?" tanya Jezin ramah.
Erick menoleh pada Jeno, yang di balas anggukan remaja tampan itu. "E-erick, tuan" jawabnya gugup.
Jezin tersenyum simpul. "Tidak perlu gugup. Dan jangan panggil aku tuan, panggil opah seperti Jeno memanggilku"
"B-baik, tu- e-ehh opah"
"Begitu lebih baik"
"Jezin Scander, kamu pasti pernah mendengar namanya. Pendiri sekaligus pemilik Scander Corp. Beliau ini Daddy kandung ayah, dan yang tadi menyambut kita, namanya Patricia Scander, mommy kandung ayah" jelas Jeno.
"Aku mengerti"
"Jadi, kenapa kamu membawanya kesini Erick?" pertanyaan itu meluncur dari bibir Eveline.
Eveline Scander, adalah adik kandung Justin. Putri tunggal Jezin dan Patricia. Saat masih muda, Eveline dan Isabella tidak pernah akur. Lebih tepatnya Eveline yang membenci Isabella, karena sang kaka Justin lebih mencintai dan peduli pada Isabella di bandingkan sang adik.
"Aku ingin memperkenalkannya pada seluruh keluarga, dan membuat omah berhenti menjodohkan ku dengan cucu dari temannya" jawab Jeno kelewat santai.
"Ck. Dasar bocah"
Setelah berbincang sedikit dengan sanak keluarga dan saudara, Jeno membawa Erick sedikit menjauh. Kini keduanya tengah duduk di tengah anak tangga, dengan segelas sirup di tangan mereka.
"Jen" panggil Erick.
"Hm?"
"Mm... Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu"
"Kenapa opah pakai kursi roda?" Erick bertanya dengan hati-hati. Jeno menoleh cepat ke arah Erick, wajahnya menampilkan ekspresi terkejut.
"Kamu gak tau?" tanya Jeno kaget. Erick menggeleng dengan raut bingung.
"Dulu sebelum ayah dan bunda menikah, opah terkena stroke berat. Awalnya opah masih bisa beraktifitas, opah selalu menolak untuk dibawa berobat karena beliau merasa dirinya baik-baik aja. Sampai akhirnya bunda lulus kuliah dan kembali ke LA.
Opah yang tau kalau bunda saat itu adalah Ratu dunia bawah akhirnya menjadi panik dan setuju untuk berobat. Ayah adalah anak kesayangan opah, opah pernah kehilangan ayah dan karena itu beliau tidak ingin hal itu terulang lagi. Tapi sayangnya, saat itu kondisi opah sudah sangat buruk jadi pengobatannya membutuhkan waktu yang lebih lama. Hampir 3 tahun opah sakit.
Setelah kami bertiga lahir, opah akhirnya sembuh. Tapi kondisinya tidak lagi sama seperti dulu"
"Berarti opah tidak bisa berjalan lagi?"
"Bisa. Tapi tidak bisa berjalan dalam waktu lama. Setiap pagi omah selalu mengajak opah jalan pagi selama 20 menit. Hanya itu batas maksimal yang bisa opah tempuh"
"Setidaknya sekarang opah sudah sehat, dan kembali ceria. Iya kan?"
"Mm, kamu benar. Aku cukup terkejut kamu gak tau soal ini. Karena saat itu beritanya menyebar cepat di media"
"Kamu kan tau aku gak pernah liat media"
"Iya iya si paling gak suka media"
"Iissshhh"
****
Acara keluarga Scander telah selesai satu jam yang lalu. Tapi nyatanya Erick belum juga tiba di rumahnya. Karena begitu acara selesai Jeno langsung menculiknya, membawanya pergi entah kemana.
Kini keduanya berada di dalam mobil yang di kendarai sendiri oleh Jeno. Mobil berhenti di pinggir jalan. Erick tidak tau pasti saat ini dirinya berada di mana, tapi yang ia tau mereka sudah jauh dari pusat kota.
"Kenapa berhenti di sini?" Erick bertanya setelah terdiam cukup lama.
Helaan nafas berat yang keluar dari bibir tipis Jeno bisa dirinya dengar dengan jelas. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Salah satu alasan kenapa aku bawa kamu ke acara keluarga" ucap Jeno.
Kening Erick mengkerut dalam. "Apa itu hal penting?"
"Ya. Sangat penting"
Tidak ada sahutan dari Erick. Remaja 14 tahun itu menunggu dengan tenang apa yang akan Jeno katakan selanjutnya.
Jeno membalikkan badannya menghadap sang pujaan hati. Menatap lekat wajah cantik sekaligus tampan itu.
"Aku akan melanjutkan sekolah ku ke Cartesy" ungkap Jeno. Nafas Erick tercekat setelah mendengar apa yang Jeno sampaikan. "Lalu?" tanyanya dengan suara serak.
"Aku akan kembali setelah menyelesaikan S2 ku" lanjut Jeno lagi yang sukses membuat kedua netra biru milik Erick berkaca-kaca.
"Itu Bagus. It's your dream and i'm happy to hear that"
"Kamu gak mau cegah aku?"
"Kenapa aku harus? Itu mimpi kamu Jeno"
"Lusa. Aku akan berangkat lusa. Sendiri. Dan Jovan akan menyusul tahun depan"
"....."
"Tunggu aku kembali ya?"
"P-pulang. A-aku mau pulang"
"Rick..."
"AKU MAU PULANG JEN!!!" sentak Erick keras. Mengubah posisi duduknya yang semula menghadap Jeno kini enggan menatap wajah lelaki itu.
Jeno menatap Erick sedih. Tanpa banyak bicara menyalakan mesin mobil dan membawa benda besi itu kembali ke kota.
*****
T b c?
Bye!